Oleh: Azka Qintory
Sebagai salah satu tradisi tahunan kesultanan di wilayah Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Tingalan Jumenengan Dalem memiliki makna tersendiri, khususnya bagi masyarakat Yogyakarta. Karena tidak banyak daerah di Indonesia yang memiliki tradisi semacam ini. Selain Yogyakarta adalah Solo yang masih memiliki tradisi kesultanan dalam struktur pemerintahan mereka.
Tradisi ini memiliki berbagai acara yang bisa dinikmati oleh masyarakat luas, seperti prosesi Ngebluk, Ngapem, Sugengan, Tingalan Jumenengan Dalem, serta Labuhan, yang terdiri dari tiga bagian, yakni Labuhan Parangkusumo, Labuhan Ageng Dlepih, serta Labuhan Merapi.
Dalam setiap acara tersebut, selain dapat menyaksikannya secara langsung, masyarakat juga dapat berpartisipasi dalam berbagai bentuk.
Seperti dilansir dari website resmi Keraton Yogyakarta, masyarakat dapat ambil bagian dalam prosesi Mubeng Beteng (mengelilingi Benteng Keraton) bersama para Abdi Dalem Keraton, sebagai simbol kebersamaan antara pihak keraton dengan masyarakatnya.
Selain itu, masyarakat juga diizinkan terlibat langsung dalam prosesi penerima berkah. Yakni ketika Abdi Dalem membagikan kue apem dan hidangan dari prosesi Sugengan atau doa selamat, sebagai simbol kedermawanan sultan sekaligus kesempatan berbagi berkah kepada rakyatnya.
Tak lupa masyarakat juga berkesempatan untuk ikut serta dalam pameran budaya, yang digelar bersamaan dengan prosesi Jumenengan Dalem. Berbagai acara yang digelar dalam pameran budaya ini di antaranya peragaan busana Abdi Dalem, lokakarya, pertunjukan seni, dan lain sebagainya.
Selain dapat berpartisipasi aktif dalam beberapa rangkaian acara, tentu saja masyarakat juga dapat menyaksikan seluruh proses Jumenengan Dalem, melalui siaran langsung di kanal YouTube Kraton Jogja.
Meskipun tradisi ini adalah milik Kesultanan Daerah Istimewa Yogyakarta, namun acara ini sangat terbuka untuk diikuti oleh peserta dari wilayah mana saja, termasuk dari mancanegara. Karena momen ini juga dapat dimanfaatkan sebagai promosi budaya sekaligus pariwisata yang ada di DIY.
Luasnya partisipasi masyarakat dalam tradisi lokal ini, harusnya membuat Anda patut berbangga, karena Yogyakarta mampu menyediakan acara yang tidak dapat dilakukan oleh daerah-daerah lainnya.
Sudah saatnya kita mensyukuri setiap pemberian Tuhan dalam hidup kita, salah satunya adalah mampu mengikuti tradisi Jumenengan Dalem, yang kaya filosofi dan makna bagi seluruh masyarakat. (*)



