161 Hari Langit Lupa Menangis di Yogyakarta

3 Min Read
Dry, cracked earth of a parched lakebed with distant mountains on the horizon under a clear sky.
Kekeringan ekstrem di Bantul, Yogyakarta. (Foto: Istimewa)

Mabur.co – Di Moyudan, Sleman, tanah sudah pecah seperti kulit tua. 161 hari. BMKG mencatatnya per 10 Oktober 2026, Daerah Istimewa Yogyakarta jadi juara yang tidak diinginkan: wilayah dengan Hari Tanpa Hujan terpanjang di Indonesia.

Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menjadi wilayah dengan periode Hari Tanpa Hujan (HTH) terpanjang di Indonesia.

DIY Hampir Tiga Kali Lipatnya

“Berdasarkan pemutakhiran data hingga 10 Oktober 2026, DIY mengalami 161 hari tanpa hujan,” tulis KBKNews.id mengutip laporan BMKG. Itu kategori ekstrem panjang.

Definisi BMKG sederhana: berturut-turut hujan kurang dari 1 mm. Lebih dari 60 hari saja sudah ekstrem. DIY hampir tiga kali lipatnya.

Setelah DIY, Jawa Tengah 160 hari, Jawa Timur 159 hari. Demikian Haibunda.com yang juga merilis daftar 25 provinsi HTH ekstrem.

“Periode tanpa hujan terpanjang terjadi di Yogyakarta, yakni 161 hari, kemudian disusul Jawa Tengah selama 160 hari, dan Jawa Timur selama 159 hari,” tulis Haibunda.com.

Secara etnografis, angka itu bukan statistik. Di Gunungkidul, di mana HTH terlama biasanya tercatat di Bantul dan Playen, ibu-ibu berjalan 2 kilometer menimba luweng. Petani tunda tebar.

Seorang petani Karangmojo, Wagiyo, yang tiap tahun langganan droping BPBD, tahun lalu bilang ke petugas: “Sing ditunggu ora udan, nanging banyu tangki.”  Yang ditunggu bukan hujan, tapi air tangki.

BMKG di konferensi pers 22 September 2026 menjelaskan sebabnya.

Deputi Klimatologi, Ardhasena Sopaheluwakan, menyebut El Nino sangat kuat, anomali suhu muka laut Nino 3.4 tembus +2,63.

556 Zona Musim, 61,9% daratan Indonesia masih kemarau.

Cekungan Karst Selatan dan Bayangan Hujan Merapi-Merbabu

Pemerintah tidak hanya mencatat. Dalam rilisnya BMKG mengimbau: “Masyarakat di wilayah terdampak kekeringan agar menghemat penggunaan air. Warga juga diminta menjaga ketersediaan air untuk kebutuhan sehari-hari.”

Kenapa DIY yang paling parah? Sejarah menjawab. Yogyakarta ada di cekungan karst selatan dan bayangan hujan Merapi-Merbabu.

Orang Jawa punya mantra: jawah ya jawah, jawahing kalis, sing garing ben telas. Hujan yang mengikis, yang kering biar habis.

Dulu di Alun-alun Kidul ada ritual ngalap berkah minta hujan dengan slametan dan wayang di lumbung. Sekarang diganti modifikasi cuaca.

Penyair Joko Pinurbo pernah menulis: “Yogya itu terbuat dari rindu, pulang dan angkringan.” Tahun ini, rindu itu berbentuk ember kosong.

Di Moyudan sendiri, Selokan Mataram yang dulu dibangun Jepang pada 1942 untuk mengairi sawah, kini jadi penanda.

Kalau Selokan Mataram sudah surut, warga tahu: kemarau benar-benar jadi. 161 hari tanpa hujan adalah catatan tentang manusia yang belajar menunggu.

Seperti petani tua bilang: hujan pasti datang, hanya kadang lupa alamat. ***

Share This Article
Cartoon man singing into a microphone, holding a sheet of paper, wearing a hat and scarf against an orange background.
Sastrawan, Antropolog.
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar