Mabur.co – Untuk pertama kalinya dalam 14 tahun, Pantai Boom Marina Banyuwangi akan gelap. Bukan mati lampu, tapi sengaja.
Pada 24 Oktober 2026 pukul 18.30 WIB, 1.300 penari Gandrung akan menyala dalam konsep Glow in the Dark. Ini bukan sekadar ganti jam tayang.
Gandrung Sewu 2026 adalah hasil kolaborasi Pemkab Banyuwangi dengan InJourney, holding BUMN pariwisata.
Festival yang sudah masuk Karisma Event Nusantara (KEN) 2026 ini mencoba meredefinisi tradisi.
“Gandrung Sewu bukan hanya bicara tentang bagaimana penari gandrung kolosal ditampilkan, tetapi juga bagian dari komitmen pemerintah daerah untuk melestarikan dan meregenerasi budaya Banyuwangi,” ujar Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani di TMII, Jakarta, Rabu (14/10/2026), seperti dikutip Poskota.co.
Gandrung Lahir dari Luka
Tahun ini ada 1.100 penari dari Banyuwangi dan 200 dari luar daerah, Jakarta, Palembang, Malang, Blitar, hingga Bangkalan.
Mereka sudah berlatih gabungan di Stadion Diponegoro sejak 3 Oktober.
Suko Prayitno, Ketua Pelatih dari Patih Senawangi, bilang penguasaan sudah 75 persen. Salah satu penari dari Malang, Ardra Sachio Valerian, mengaku takjub: “Saya takjub dengan ribuan penari Gandrung di sini. Meskipun berlatih sampai malam, namun masih sangat bersemangat. Keren.”
Secara historis, Gandrung lahir dari luka. Suku Osing, penduduk asli Banyuwangi, menciptakan Gandrung pasca-Puputan Bayu 1771, ketika Blambangan jatuh ke VOC. Tari yang semula ritual tolak bala, doa untuk Dewi Sri, jadi simbol penyintas.
Terang dari Tubuh-tubuh yang Rindu
Gandrung berarti rindu yang menggila. Ada mitos di Desa Adat Kemiren, jika penari Gandrung lupa jejer, gerakan pembuka kaki menghentak tanah, sawah akan gagal panen.
Tahun ini temanya “Kembang Dermo”, mengangkat kesakralan adat Desa Kemiren. Penari pakai elemen fosfor yang menyala, tata cahaya, drone, tapi gerak jejer gandrung tetap sama: mata melirik, kipas mekar, selendang mengibas.
Bupati Ipuk menambahkan di rilis Pemkab: “Tradisi tidak harus diam di tempat. Tradisi bisa terus bergerak, beradaptasi, dan berkembang mengikuti zaman, tanpa kehilangan jati dirinya.”
Seperti bait puisi Sapardi Djoko Damono: “Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu.”
Gandrung mencintai Banyuwangi dengan sederhana: terus menari, bahkan dalam gelap.
Pantai Boom akan terang malam itu. Bukan dari lampu sorot, tapi dari tubuh-tubuh yang rindu. ***
