Mabur.co- Warga Dusun Pandes 1, Wonokromo, Pleret, Bantul, digegerkan dengan fenomena permukaan Sungai Belik yang tertutup busa putih tebal pada Senin pagi.
Kejadian ini diduga kuat akibat pembuangan limbah industri yang tidak bertanggung jawab, menyebabkan ekosistem sungai rusak parah bahkan sempat membuat ikan-ikan pada mabuk dan mati.
Berdasarkan pantauan di lokasi, busa putih yang menyerupai salju menutupi aliran sungai, mulai dari bendungan hingga ke hilir. Kondisi ini membuat ribuan ikan di sungai tersebut lemas atau “mabuk” (klenger dalam bahasa Jawa) karena kekurangan oksigen.
Sejumlah warga tampak memanfaatkan momen tersebut untuk menangkap ikan dengan jaring. Namun, kekhawatiran menyelimuti warga sekitar karena bau menyengat yang ditimbulkan serta dampak jangka panjang terhadap kebersihan air sungai.
Dukuh Pandes I, Budi Cahyono mengungkapkan, bahwa kejadian itu terjadi pagi tadi saat jam berangkat kerja.
“Benar, jadi kejadiannya sekitar jam delapan pagi. Awalnya itu warga lihat air di Dam belik Pandes I berbusa dan setelah dicek banyak ikan yang klenger (pingsan),” katanya saat ditemui di Pandes I, Bantul, Senin (20/4/2026).
Budi mengatakan, untuk jumlah ikan yang pingsan sangatlah banyak. Pasalnya warga sampai menggunakan ember hingga koper untuk menaruh ikan-ikan tersebut.
“Jumlah ikannya banyak, ribuan mungkin ada karena ada satu warga saya dapat ikan sekoper dan ada juga yang pakai ember besar itu. Kalau ikannya tadi jenis ikan yang berisik, seperti wader, tawes, nila, red devil hingga ikan sapu-sapu,” ujarnya.
Perwakilan dari Forum Komunitas Sungai Bantul (FKSB), Yudi menjelaskan bahwa peristiwa pencemaran ini bukan kali pertama terjadi.
Air sungai yang tercemar ditakutkan mengancam kesehatan warga karena masuk ke sumur warga yang berada di sekitar sungai.
“Kejadian seperti ini dugaan sementara adalah kiriman limbah lagi seperti tahun lalu atau bukan saat ini biar diuji dinas terkait. Sungai yang penuh busa dan ikan-ikan pada mati penyebabnya apa?” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bantul, Bambang Purwadi Nugroho mengatakan, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bantul telah turun ke lokasi untuk melakukan pengecekan. Saat ini, tim teknis sedang melakukan pengambilan sampel air dan busa untuk diteliti di laboratorium.
”Penyisiran aliran sungai guna mencari sumber utama pembuangan limbah. Identifikasi kandungan zat berbahaya yang terkandung dalam air sungai,” ujarnya.
Bambang mengapreasi kolaborasi bersama dengan Dukuh Pandes I. Kolaborasi itu membuat permasalahan cepat terdeteksi.
“Selanjutnya kita sudah kirim tim ke lapangan untuk mengecek lokasi, tim juga telah mengambil sampel air dan ikan yang tercemar untuk diuji laboratorium,” ucapnya.



