Mabur.co – Sekali waktu aku duduk di kamar baca Hatta. Bukan di Perpustakaan Proklamator yang megah 5.610 meter persegi di Gulai Bancah, tapi di kamar kecil paviliun bagian depan Rumah Kelahiran, Jl. Soekarno-Hatta No. 37, Bukittinggi. Tempat kelahiran Wakil Presiden ke-2 RI, 12 Agustus 1902.
Kamarnya ya Cuma sekira 3×4 meter. Dipan kayu kecil warna coklat kehitaman, meja belajar, kursi, lemari buku. Angin dari Gunung Marapi masuk dari jendela. Di sebelah, lumbung padi rangkiang.
“Di area depan paviliun, terdapat sebuah kamar yang dijadikan ruang baca Bung Hatta, sebuah kamar kecil dengan satu dipan dan meja belajar. Tempat ini jadi ruang favorit bagi Bung Hatta untuk membaca selain di selasar lantai dua,” tulis Telusuri.id, dikutip mabur.co (31/10/20126).
Yatim Sejak Usia 8 Bulan
“Kalau kata ‘anak jaman now’, saat itu Bung Hatta membaca buku With a Mountain View,” Aku melepas sepatu, seperti semua pengunjung. Tidak bayar. Gratis. Pemandu, Uni Ike, bilang: ini replika. Rumah asli roboh 1960-an. Dibangun ulang riset keluarga, 15 Januari 1995, diresmikan 12 Agustus 1995, pas 50 tahun merdeka, oleh Yayasan Pendidikan Bung Hatta.
“Sebagai anak laki-laki, yang sejak masa kecilnya ditinggal ayah, tepatnya di usia 8 bulan Bung Hatta dididik dan diasuh oleh Ibu beserta keluarga besar untuk hidup disiplin dan mandiri, sehingga Hatta disediakan kamar untuk tempat istirahat dan belajar,” tulis data inventaris Museum Kemendikbud tentang Tempat Tidur Kecil ini.

Di sinilah Hatta kecil membaca. Bukan komik, tapi buku Belanda, buku Arab. Kelak ia bilang kalimat yang terkenal di mana-mana: “Aku rela dipenjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.” Dan “Dengan buku, kalian boleh memenjarakanku di mana saja karena dengan buku aku merasa bebas.”
Itu bukan jargon. Di Digul, di Banda Neira, ia bawa 16 peti buku. Duduk di sini, aku mengerti kenapa Hatta tidak pernah kaya. Ia sederhana. Di lemari, buku-bukunya lusuh. Di sebelah kamar ada sepeda ontel yang dulu ia pakai ke sekolah.
Fasih Tiga Bahasa Asing di Usia Belia
Pemandu bercerita, tiap 12 Agustus, keluarga Hatta datang. Meuthia Hatta pernah duduk di dipan yang sama, menangis. Di luar, Jam Gadang berdentang. Bukittinggi siang itu sepi. Anak-anak sekolah lewat. Aku buka satu buku yang disediakan replika: “Memoir Mohammad Hatta”.
Di buku ini aku membaca, Hatta di usia yang masih balia 18 tahun ia sudah menguasai 3 bahasa: Belanda, Inggris dan Prancis. Cerita Hatta di buku ini, suatu ketika saat perjalanannya ke Belanda, kapal yang ditumpanginya mampir di Pelabuhan Paris-Prancis.
Dua orang Belanda suami istri ingin turun sejenak dari kapal dan melihat-lihat Kota Paris, tapi si Belanda itu tidak bisa Bahasa Prancis. Hatta lalu menawarkan diri jadi guide-nya, jadilah Hatta dapat makan gratis dan oleh-oleh Paris dari dua orang Tuan Belanda yang diantarnya.
Di Buku ini juga Hatta menulis: “Hanya ada satu negara yang pantas menjadi negara-ku: Indonesia.” Selebihnya, Aku duduk lebih lama. Tidak ada AC. Hanya suara cicak dan angin Marapi. Di kamar baca sekecil ini, seorang anak yatim 8 bulan belajar menjadi bapak bangsa.
