Mabur.co – Yogyakarta benar-benar menjadi sorotan publik sejak beberapa hari terakhir. Sejumlah gerakan yang diinisiasi berbagai elemen masyarakat silih berganti bermunculan menyuarakan keresahan atas situasi dan kondisi negara saat ini.
Setelah demo besar-besaran mahasiswa pada 28 Oktober 2026 lalu, masyarakat Yogyakarta kembali melakukan gerakan atau seruan aksi boikot terhadap acara Rans Carnival milik Raffi Ahmad di Stadion Maguwoharjo Sleman.
Cancel culture itu dilakukan para musisi hingga pelaku UMKM dengan mengundurkan diri dalam acara tersebut. Yakni sebagai bentuk kritikan dan penolakan atas sikap Staf Khusus Presiden Raffi Ahmad yang dinilai tidak peka terhadap kondisi masyarakat.
Jumat (30/10/2026) malam, giliran anak-anak muda yang tergabung dalam Jogja Last Jogja Last Friday Ride (JLFR) melakukan gerakan Critical Mass dengan bersepeda secara massal di sepanjang jalanan utama kota Yogyakarta.
Ribuan anak-anak muda yang didominasi pelajar sekolah mulai dari SMA/SMK, SMP bahkan hingga SD nampak bersepeda sambil membawa berbagai poster kritikan terhadap situasi dan kondisi negara saat ini.
Poster-poster itu nampak ditempel di sepeda, punggung, bahkan dibuat menjadi semacam bendera. Lewat cara itu mereka seolah menunjukkan ingin ikut bersuara dan menyampaikan apa yang menjadi keresahan mereka selama ini.
Sejumlah poster yang mereka bawa pun nampak menarik perhatian, karena berisi kritikan terhadap pemerintah maupun kondisi dan situasi negara. Mulai dari isu kebakaran hutan dan lahan, hingga perilaku pejabat dan rezim yang dinilai tidak sesuai harapan mereka.
Berikut adalah beberapa kritikan yang disuarakan anak-anak muda tersebut sambil bersepeda keliling kota.
“Hutan habis di negeri tropis”
“No forest no future” (tidak ada hutan, tidak ada masa depan)
“Burn Fat no Forest” (bakar lemakmu, jangan bakar hutan
“Bakar kalori bukan vegetasi”
“Pedal berputar janji memudar”
“Upah Layak, pendidikan gratis, keadilan sosial dan Lingkungan hidup”
“Setan dan iblis insecure melihat kelakuan rezim ini”
“Kalau ada sumur di ladang boleh kita mandi. Kalau rakyat sudah meradang bolehlah pemerintahan bobrok ini kita akhiri”
“People fight, rulers gain, wicked ones, always win” (rakyat bertikai, penguasa mendapat keuntungan, orang jahat selalu menang)
Munculnya berbagai gerakan masa di Yogyakarta Ini pun menjadi perbincangan publik di berbagai platform media sosial. Tak sedikit warganet menyoroti hal ini sebagai sesuatu yang mirip dengan tanda-tanda gerakan reformasi 98 yang juga diawali dari Jogja.
Banyak warganet mengapresiasi sejumlah gerakan masyarakat Yogyakarta ini dan berharap gerakan semacam ini bisa diikuti kelompok elemen masyarakat lain di berbagai kota lainnya di Indonesia.
