Mabur.co – Pemerintah Kabupaten Gunungkidul melakukan uji coba pengolahan sampah dengan memanfaatkan teknologi Phyragas Hybrid. Sampah tidak hanya dimusnahkan, tetapi juga diubah menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi.
Uji coba penerapan teknologi Phyragas Hybrid ini dilakukan di unit pengolahan sampah Dusun Banyumanik, Kalurahan Pacarejo, Kapanewon Semanu, dan diharapkan bisa berhasil sehingga mampu menjadi percontohan di tingkat nasional.
Pendamping teknisi unit pengolahan sampah Banyumanik, Iriawan Djati Asmoro, menjelaskan bahwa teknologi Phyragas Hybrid merupakan hasil riset selama 16 tahun bersama sejumlah ahli.
Menurutnya, salah satu keunggulan utama teknologi ini adalah kemampuannya mengolah sampah tanpa proses pemilahan awal.
Hal itu dinilai penting karena kesadaran masyarakat untuk memilah sampah masih rendah dan sering menjadi hambatan dalam pengelolaan limbah.
“Mesin ini fleksibel karena bisa disesuaikan dengan kebutuhan, mulai dari skala kecil seperti sekolah dan perumahan hingga skala desa,” ujarnya dilansir dari situs resmi pemerintahan Kabupaten Gunungkidul, Sabtu (9/5/2026).
Tak hanya itu, melalui sistem penguapan atau metode kukus gas panas ini, sampah yang masuk nantinya akan diolah menjadi arang. Residu berupa arang itulah yang nantinya dapat dimanfaatkan kembali sebagai bahan baku briket, batako, hingga pupuk kompos.
Disamping itu, inovasi ini juga menghasilkan produk sampingan berupa limbah organik yang dapat diolah menjadi pakan ternak. Bahkan panas dan asap yang dihasilkan mesin dapat dimanfaatkan untuk pengering biji-bijian hingga sumber energi listrik.
Konsep inilah yang membuat teknologi tersebut dinilai bukan sekadar alat pengolah sampah, melainkan juga peluang ekonomi baru bagi masyarakat. Produk turunan hasil pengolahan limbah berpotensi mendukung sektor UMKM hingga pertanian lokal.
Dalam arahannya, Wakil Bupati Gunungkidul, Joko Parwoto, mengatakan teknologi ini diharapkan dapat menjadi solusi baru untuk mengurangi tingginya volume sampah di Kabupaten Handayani.
Baik itu sampah rumah tangga, pasar, hingga limbah dari sektor pariwisata yang terus meningkat setiap tahunnya.
Menurutnya, peningkatan aktivitas masyarakat dan pariwisata harus diimbangi dengan sistem pengelolaan sampah yang lebih modern dan efektif.
“Kita membutuhkan solusi yang benar-benar bisa diterapkan di masyarakat. Teknologi seperti ini menjadi salah satu harapan karena mampu mengolah sampah secara langsung dan memberikan manfaat ekonomi,” katanya.
Pemerintah Kabupaten Gunungkidul pun menyatakan komitmennya untuk mendukung pengembangan teknologi tersebut agar dapat menjadi proyek percontohan nasional dalam pengelolaan sampah berbasis teknologi ramah lingkungan.
Melalui kolaborasi pemerintah, masyarakat, dan pelaku usaha, inovasi ini diharapkan mampu mengubah sampah yang selama ini dianggap masalah menjadi sumber energi dan peluang ekonomi berkelanjutan bagi warga. ***




