Mabur.co- Jelang bulan Ramadan, ratusan masyarakat melaksanakan tradisi bersih makam di Kompleks Makam Kiai Haji Ahmad Dahlan, Karangkajen, Mergangsan, Kota Yogyakarta.
Warga merupakan ahli waris dari keluarga yang dimakamkan di kompleks pemakaman tersebut. Melalui kegiatan gotong royong, keluarga membersihkan rumput-rumput yang tumbuh di sekitar makam.
Menata dan merapikan lingkungan makam, dilanjutkan dengan memanjatkan doa bagi anggota keluarga yang telah meninggal dunia. Kegiatan ditutup dengan makan bersama.
Selain menjadi refleksi dan pengingat bahwa manusia akan menghadapi kematian, tradisi ziarah kubur ini juga menjadi ajang mempererat silaturahmi warga Karangkajen.
Diharapkan menjelang bulan Ramadan sudah siap secara mental dan fisik untuk menjalani ibadah puasa.
Tradisi bersih makam juga menjadi bentuk pelestarian kearifan lokal yang dilakukan secara turun-temurun. Tujuannya juga agar lingkungan makam selalu terlihat terawat dan indah dari waktu ke waktu.
Di sisi lain, sebagai generasi penerus, kegiatan bersih makam juga menjadi pengingat atas jasa para pendiri dan pendahulu gerakan Muhammadiyah. Seperti Kiai Haji Ahmad Dahlan, Kiai Haji Ibrahim, dan Kiai Haji Ahmad Badawi yang berjuang membawa umat dan bangsa menuju kemajuan.
Dalam catatan sejarah, Kiai Haji Ahmad Dahlan dikenal sebagai pembaru Islam dengan mendirikan organisasi Muhammadiyah.
Fokusnya pada pendidikan, sosial, dan keagamaan. Pada 1912, ia memelopori madrasah modern yang memadukan pendidikan agama serta pelajaran umum.
Ketua Kampung Karangkajen, Suhardjo, mengatakan kegiatan ini memiliki makna lebih dari sekadar membersihkan lingkungan makam.
“Tujuan selain bersih-bersih makam adalah spiritual. Bersih-bersih secara batin,” katanya saat ditemui mabur.co, Selasa (3/2/2026).
Suhardjo menjelaskan, tradisi bersih-bersih makam merupakan agenda rutin masyarakat Karangkajen yang dilaksanakan setiap 15 hari menjelang Ramadan.
Kegiatan dilakukan secara suka rela dan dirangkai dengan ziarah ke makam pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan.
Suhardjo mengungkapkan, tradisi bersih-bersih makam perlu selalu dijaga, sebagai jalan melestarikan budaya yang tidak boleh ditinggalkan.
“Saya harap masyarakat selalu ingat dengan budaya yang ditinggalkan oleh leluhur kita,” ujarnya.
Senada dengan Suhardjo, warga Karangkajen, Faqih, menilai tradisi tersebut perlu terus dilestarikan.
“Sebagai jalan mengenang jasa para pahlawan juga,” pungkasnya. ***



