Mabur.co- Perhelatan tahunan Yogyakarta Art Book Fair 2026, kembali digelar.
Yogyakarta Art Book Fair merupakan ruang pertemuan bagi seniman, penerbit independen, desainer, hingga pelaku kreatif dari Indonesia maupun mancanegara dalam ekosistem penerbitan artistik yang kolaboratif.
Director Fair Yogyakarta Art Book Fair, Syafiatudina, mengatakan, Yogyakarta Art Book Fair ini adalah pameran buku yang berbeda dengan pameran buku lainnya.
“Kalau pameran buku yang lain fokusnya ke penjualan, distribusi langsung, Yogyakarta Art Book Fair selain bisa untuk penjualan kami juga menghubungkan antara pembuat buku, baik desainer, penulis, seniman ke pembelinya langsung,” ujarnya saat ditemui mabur.co, Minggu (10/5/2026) di Langgeng Art Space Suryodiningratan, Mantrijeron, Kota Yogyakarta.

Dina, sapaan akrabnya, mengatakan, kalau dilihat di sini, bukan satu meja besar dengan semua buku ditaruh, tetapi meja-meja kecil yang setiap mejanya dijaga oleh pembuat terbitannya langsung atau distributornya.
”Pengunjung bisa datang dan bisa ngobrol langsung tentang buku yang dijual, tentang apa dan terbitannya, dari mana, atau karya yang sedang didistribusikan tentang apa. Kita lebih mengedepankan interaksi langsung, bukan hanya soal penjualannya,” ucapnya.
Dina menuturkan, pada tahun ini, skalanya lebih besar dan lokasinya berpindah ke selatan, yaitu di Langgeng Art Space.
“Sebelumnya kami di tengah kota, ke depan kami ingin mencoba berpindah-pindah lokasi agar menjangkau lebih banyak orang,” katanya.
Dina mengatakan juga, pada tahun ini, mengangkat tema “Bound“, tema tersebut merujuk pada proses penjilidan buku sekaligus makna ikatan antarkomunitas.
“Bound itu artinya jilid, tetapi juga ikatan. Apa yang mengikat kita melalui penerbitan dan bagaimana komunitas bisa terbentuk dari orang-orang yang sebelumnya terpisah,” ujarnya.
Dina menuturkan, pada pameran kali ini, ada 43 penerbit maupun seniman yang berasal dari macam-macam kebanyakan dari Jakarta, Yogyakarta, Bandung, Malang, dan Bali.
Ada juga dari internasional yakni dari Taiwan, Cina, Malaysia, dan Vietnam.
”Tema bukunya juga macam-macam. Misalnya ada dari GlosoTime dari Bandung. Mereka ini bikin terbitan yang mereka buat sendiri itu tentang skateboard. Ada juga tema Wonder Wise South East Asia. Mereka formatnya majalah yang isinya tentang isu-isu atau hal-hal yang terkait Asia Tenggara misalnya. Format majalah yang sekarang sudah jarang ditemuin zaman sekarang.
Sementara itu Cut Print Studio yang berasal dari Yogyakarta, mereka banyak menghubungkan atau menampilkan karya-karya terbitan dalam berbagai bentuk dari seniman yang bekerja di jalanan misalnya kayak street artist, graffiti artist, stencil. Ada juga yang cukup populer pilihan arsip clipping tentang Pramoedya atau tentang bagaimana fashion atau pakaian perempuan di Indonesia. Itu kumpulan clipping-nya juga didistribusikan oleh Kartri Studio. Tema yang diangkat bermacam-macam,” katanya.
Dina menjelaskan, pameran Yogyakarta Art Book Fair, sudah ketiga kalinya sejak tahun 2024. Ia berharap orang banyak yang datang dan tiket masuknya terjual karena acara ini adalah upaya bersama, hampir bisa dibilang patungan, patungan energi, pikiran, material.
Jadi tiket yang terjual itu turut membantu operasional dari acara ini dan turut memastikan keberlanjutannya ke tahun-tahun berikutnya. Harapan yang lain juga adalah yang sama pentingnya tentu saja adalah, ketika pengunjung datang ke sini dan mereka melihat karya-karya yang ada, beli atau tidak beli yang paling penting adalah mereka merasa bahwa ini sesuatu yang juga mereka bisa lakukan.
Sekaligus mulai bereksperimen dan membuat jenis terbitannya sendiri. Intinya adalah supaya pengunjung terinspirasi membuat karya,” katanya.
Sementara itu, salah satu exhibitor dari Cut and Print Studio dari Yogyakarta, Mine, mengaku antusias dengan tingginya minat pengunjung terhadap karya yang dipamerkan.
“Sangat menarik karena banyak teman yang ingin mengetahui lebih banyak soal artwork kami. Menyenangkan juga karena banyak yang ingin belajar langsung ke studio kami,” ujarnya. ***



