Mabur.co – Anggota Komisi XI DPR RI dari fraksi PAN yang juga mantan aktor di akhir 90-an, Primus Yustisio, dengan tegas meminta Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, untuk mengundurkan diri dari jabatannya, imbas dari kenaikan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat, yang kini telah menyentuh angka Rp17.600.
Menurut pemeran Panji dalam sinetron Panji Manusia Milenium pada awal milenium kedua ini, langkah tersebut (jika benar-benar dilakukan) adalah cerminan seorang gentleman (pria sejati), dan mau mengakui kesalahannya, ketimbang terus-menerus menutupi kesalahannya, baik dengan cara berbohong, ataupun melimpahkannya kepada orang lain, dan seterusnya.
“Mungkin sekarang saatnya bapak (Perry Warjiyo) mengundurkan diri. Tidak ada masalah. Kalau untuk selanjutnya (siapapun yang menggantikan) terserah. Itu bukan sikap penghinaan (terhadap pribadi), Pak. Anda akan lebih dihormati seperti di Korea ataupun di Jepang, kalau Anda memang tidak bisa melakukan tugas Anda (sebagai Gubernur BI) dengan baik,” tegas Primus, sebagaimana dilansir dari kanal YouTube KOMPASTV, Senin (18/5/2026).
Suami dari mantan aktris Jihan Fahira ini juga mempertanyakan tugas dan fungsi BI pada saat ini, yang bisa dibilang cukup anomali.
Rupiah Makin Jeblok
Mengingat di tengah pertumbuhan ekonomi yang disebutkan mencapai 5,61%, tapi nilai tukar Rupiah justru semakin jeblok dari waktu ke waktu, bahkan lebih jeblok dari periode krisis ekonomi pada 1998 lalu.
“Kalau kita melihat apa yang terjadi sekarang, yang berhubungan dengan tugas dan fungsi Bank Indonesia, itu (seperti) anomali. Pertumbuhan ekonomi kita 5,61%, tetapi nilai tukar Rupiah kita jeblok. Bahkan sekarang ada di level rekor terendahnya terhadap Dolar,” tambah pria tampan berusia 50 tahun tersebut.
Primus pun menyindir Perry dengan kutipan hadis terkenal yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, yakni ketika suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka bersiaplah terjadinya kehancuran.
Hal itu menjadi semacam “kode keras” bagi Perry beserta jajarannya di Bank Indonesia, bahwa kegagalannya mengelola keuangan negara bisa mengakibatkan kehancuran bagi negara ini, cepat atau lambat. (*)




