MBG Berpotensi Menghilangkan Jutaan Guru Honorer - Mabur.co

MBG Berpotensi Menghilangkan Jutaan Guru Honorer

Mabur.co – Polemik terkait program Makan Bergizi Gratis (MBG) masih terus berlanjut.

Setelah ramainya kasus keracunan dan dugaan korupsi besar-besaran, kini MBG juga disinyalir akan melahirkan “pengangguran baru”, akibat keberadaannya yang dianggap mengancam profesi-profesi lain, yang bahkan tidak jauh-jauh dari lokasi tujuan MBG diberikan, yakni di lingkungan sekolah.

Jika berbicara tentang lingkungan sekolah dan MBG, tentu saja profesi yang paling terdampak adalah guru honorer, yang selama bertahun-tahun juga tidak pernah mendapat kejelasan mengenai nasib kesejahteraan mereka.

Reza Sudrajat, salah satu guru honorer, mengaku khawatir bahwa MBG akan benar-benar menghilangkan jutaan guru honorer di seluruh Indonesia, akibat sikap pemerintah yang kerap menganak-emaskan MBG, namun luput mensejahterakan tenaga pendidik, yang merupakan ujung tombak dari prestasi siswa, dan ironisnya juga ikut dilayani menu MBG oleh negara.

“Kita telah melihat sendiri bahwa ribuan bahkan jutaan guru kita saat ini, terutama yang P3K penuh waktu, itu terancam putus kontrak tahun ini. Di sini sudah menjadi gambaran terang bahwa MBG memang telah memotong anggaran pendidikan,” ungkap Reza Sudrajat, setelah hadir dalam persidangan judicial review UU APBN terkait program MBG di kantor Mahkamah Konstitusi (MK), sebagaimana dilansir dari kanal YouTube Yayasan LBH Indonesia, belum lama ini.

Menurut Reza, fenomena ini justru membuat MBG menjadi kontraproduktif dengan tujuan awal mereka sendiri, yakni untuk meningkatkan gizi anak-anak penerus bangsa.

Bagaimana gizi anak-anak penerus bangsa bisa ditingkatkan, manakala tenaga pengajarnya justru digaji dengan sangat rendah, bahkan cenderung tidak layak. Karena guru adalah sumber utama yang melakukan transfer ilmu kepada anak-anak tersebut.

Sementara menu MBG sendiri juga kebanyakan tidak bergizi, serta sering menyebabkan keracunan massal.

“Saya rasa MBG malah menciptakan segregasi baru bagi masyarakat kita, khususnya bagi guru-guru kita saat ini. Karena jika ini terus terjadi, siapa yang akan menjadi guru kita kelak? Jika ribuan bahkan sampai jutaan guru kita hilang begitu saja, karena masuknya MBG ke dalam anggaran pendidikan,” tambah Reza.

Reza juga turut menyaksikan sendiri, dimana dapur SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) justru tampak lebih mewah, ketimbang bangunan sekolah-sekolah tertentu, terutama yang berada di daerah.

Hal itu lantas semakin menunjukkan satu indikasi penting, bahwa pemerintah memang tidak benar-benar peduli terhadap pendidikan. Namun lebih peduli terhadap program yang menyasar sektor pendidikan, terutama anak-anak sekolah. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *