Mabur.co – Malam ini, pelatih asal Inggris, John Herdman, akan memulai petualangan barunya sebagai nakhoda timnas Indonesia.
Skuad Garuda dijadwalkan akan menjamu Sant Kitts And Nevis di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jumat (27/3/2026) dalam ajang persahabatan bertajuk FIFA Series.
Dari total 24 pemain yang dipilih mantan pelatih Kanada itu, 17 di antaranya adalah pemain diaspora, atau bisa disebut sebagai “antek asing”, karena mereka tidak benar-benar berasal dari Indonesia.
Sementara sisanya (7 pemain) merupakan “antek lokal”, yang sebagian besar bermain di BRI Super League.
Dari kombinasi “antek asing” dan “antek lokal” ini, John Herdman akan berusaha menampilkan permainan terbaik, untuk laga melawan Saint Kitts Nevis malam ini, yang diketahui berperingkat 154 dunia.
Meskipun menghadapi lawan yang di atas kertas di bawah level timnas Garuda, namun Coach Herdman tetap perlu mewaspadai ancaman yang diberikan tim asuhan Marcelo Serrano di GBK.
Mengingat tim-tim berperingkat bawah biasanya bermain lebih spartan, dan juga tanpa beban.
Apalagi dengan bermain di GBK alias di kandang sendiri, tentunya publik akan mengharapkan hasil terbaik bagi tim asuhan John Herdman, yaitu kemenangan.
Namun jika tidak waspada, pasukan Saint Kitts and Nevis bisa saja memberi kejutan yang tak disangka-sangka.
Jika di zaman kepelatihan Shin Tae-Yong (STY) dan Patrick Kluivert, pasukan “antek asing” atau diaspora selalu mendominasi daftar starting line up dalam setiap pertandingan timnas Indonesia, kemungkinan besar John Herdman tidak akan banyak mengubah pakem tersebut, dan tetap lebih mempercayakan “antek asing” ketimbang “antek lokal” untuk menghadapi dua laga di ajang FIFA Series kali ini.
Dengan waktu berkumpul dan latihan yang sangat terbatas, serta bagaimana kualitas para “antek asing” ini di liga-liga eropa, tentu saja John Herdman tidak mau ambil risiko.
Karena sudah terbukti, kualitas pemain BRI Super League atau Liga 1, tidak lebih baik ketimbang Serie A (Italia), Eredivisie (Belanda), atau divisi Championship (Inggris) sekalipun.
Namun, hal itu bukan berarti bahwa “antek lokal” tidak mampu bersaing dengan “antek asing” yang bermain di liga-liga Eropa.
Karena ketika sudah disatukan dalam camp latihan timnas Indonesia, perbedaannya sejatinya tidaklah terlalu mencolok, apalagi jika sudah menjadi satu tim dan berjuang demi lambang Garuda di dada.
Baik itu “antek asing” atau pun “antek lokal”, semuanya sudah melebur menjadi satu dalam skuad timnas Indonesia.
Sehingga siapa pun yang nantinya akan dipercaya masuk starting line up, kita harus tetap mendukung perjuangan Jay Idzes dan kawan-kawan, untuk bisa memberikan hasil terbaik bagi Garuda. (*)



