Mabur.co – Timnas Indonesia memang gagal melaju ke putaran final Piala Dunia 2026, yang akan berlangsung beberapa bulan lagi.
Namun, perjuangan Rizky Ridho dan kawan-kawan yang sudah dimulai sejak Ronde 1 pada Oktober 2023 lalu, telah menghasilkan catatan bersejarah dalam persepakbolaan nasional.
Karena bisa dibilang, perjalanan di kualifikasi Piala Dunia 2026 lalu adalah momen terdekat Indonesia untuk bisa menembus Piala Dunia modern, setelah terakhir kali berpartisipasi pada Piala Dunia 1938 lalu (saat masih bernama Hindia Belanda).
Perjuangan panjang (yang masih belum berhasil) itulah yang kemudian menginspirasi pihak Fremantle Media, untuk membuat film dokumenter khusus perjalanan timnas Indonesia dalam rangkaian Kualifikasi Piala Dunia 2026, yang diberi judul The Longest Wait.
Film ini secara resmi diperkenalkan kepada publik pada Rabu, (29/4/2026). Termasuk juga poster dan trailer resminya.
Film dokumenter The Longest Wait tidak hanya menampilkan perjuangan dan perjalanan timnas di atas lapangan, tapi juga membawa penonton masuk ke sisi yang belum pernah terlihat secara kasat mata, yaitu kejadian-kejadian behind the scene di luar lapangan. Baik di ruang ganti pemain, fanatisme supporter saat bernyanyi, dan sebagainya.
Film ini akan tayang secara serentak di bioskop-bioskop seluruh Indonesia pada 18 Juni 2026 mendatang.
Menurut pelatih timnas U-19, Nova Arianto, film ini adalah semacam apresiasi khusus kepada para pemain maupun jajaran pelatih, yang bisa membuat masyarakat bangga, sekaligus mengenang kembali betapa dekatnya jarak antara Indonesia dengan Piala Dunia.
“Yang pasti ini (film dokumenter The Longest Wait) menjadi sebuah apresiasi yang sangat tinggi buat para pemain dan juga pelatih, karena kita tahu bahwa kita sudah sangat dekat dengan Piala Dunia. Dan pastinya film ini akan membuat masyarakat semakin bangga, ketika melihat perjuangan teman-teman selama fase kualifikasi ini, baik yang di dalam maupun di luar lapangan itu seperti apa,” ujar pelatih timnas Indonesia U-19 Nova Arianto, yang hadir dalam acara peluncuran film tersebut, sebagaimana dilansir dari laman Liputan6, Rabu (29/4/2026).
Film ini diproduksi oleh Fremantle Indonesia dan Beach House Pictures, a Fremantle company. Bagi mereka, film ini bukan hanya tentang cerita dokumenter olahraga, melainkan bertumpu pada pendekatan sinematik dengan akses dan perspektif yang belum pernah dilihat sebelumnya.
Melihat dinamika tersebut, Donovan Chan dari perwakilan Beach House Pictures yang hadir dalam acara peluncuran tersebut menjelaskan bahwa sejak awal film ini memang tidak diposisikan sebagai cerita olahraga biasa, melainkan refleksi nyata dari perjalanan panjang sebuah bangsa.
“Sejak awal, kami melihat ini lebih dari sekadar kisah sepak bola. Ini tentang sebuah bangsa yang telah menunggu, berharap, dan tidak pernah benar-benar melepaskan mimpinya. The Longest Wait memberi kami kesempatan langka untuk menangkap bukan hanya apa yang dilihat orang di lapangan, tetapi juga semua yang terjadi di baliknya,” kata Donovan Chan, Produser Eksekutif The Longest Wait & Pendiri Bersama Beach House Pictures, pada kesempatan yang sama.
Meskipun film ini menarasikan tentang penantian panjang (longest wait) timnas Indonesia yang masih harus gagal untuk tampil di Piala Dunia, namun tentu saja, kekecewaan mendalam itu tidak akan bisa terobati, hanya dengan pembuatan film dokumenter atas sebuah “kegagalan”.
Karena lebih dari sekadar cerita yang akhirnya gagal (melaju ke Piala Dunia), publik pencinta sepakbola tentunya lebih menginginkan kelolosan itu sendiri. Ketimbang membuat film yang seolah-olah hanya datang sebagai “penghibur” sekaligus “pengingat” terhadap perjuangan Jay Idzes dan kawan-kawan, namun realita pahit di atas lapangan tetaplah penentu utama, yang membuat the longest wait itu masih akan terus berlangsung, setidaknya sampai empat tahun lagi.
Karena cerita di balik kesuksesan timnas melaju ke Piala Dunia, tentunya akan jauh lebih indah dan menyenangkan (untuk dijadikan film dokumenter), daripada film yang berisi “kegagalan”. Meskipun dibalut dengan narasi penyejuk seperti “refleksi perjalanan panjang sebuah bangsa”, dan seterusnya. (*)



