Mabur.co — Ratusan jemaah haji khusus mulai diberangkatkan dari Bandara Yogyakarta International Airport (YIA) Kulon Progo pada Selasa (5/5/2026).
Tercatat ada sebanyak 143 jemaah haji khusus dari berbagai daerah di DIY dan sekitarnya berangkat ke Tanah Suci dengan menggunakan jasa layanan pihak swasta.
Meski dari sisi biaya lebih mahal, minat masyarakat untuk menunaikan ibadah haji menggunakan jalur khusus ini ternyata terus meningkat setiap tahunnya.
Salah seorang penyedia jasa pelayanan haji khusus asal Yogyakarta, Hamzah, menyebut tren layanan haji khusus tercatat mengalami peningkatan 50 hingga 70 persen di tahun 2026 ini.
Kondisi ekonomi masyarakat yang semakin membaik, meningkatnya kesadaran spiritual umat Muslim, hingga semakin lamanya waktu tunggu haji reguler menjadi sejumlah faktor yang membuat tren layanan haji khusus semakin meningkat.
“Trennya naik cukup signifikan, sekitar 50 sampai 70 persen. Banyak masyarakat yang sekarang lebih siap secara finansial dan ingin segera berangkat tanpa harus menunggu terlalu lama,” jelasnya.
Program haji khusus sendiri merupakan layanan yang diselenggarakan oleh pihak swasta yang telah mendapat izin pemerintah sebagai Penyelenggara Ibadah Haji Khusus (PIHK).
Berbeda dengan haji reguler, masa tunggu untuk program ini relatif lebih singkat, yakni sekitar 6 hingga 7 tahun. Sebagai perbandingan, antrean haji reguler di sejumlah daerah bisa mencapai belasan bahkan puluhan tahun.
Salah satu jemaah, Sovia Rara, mengaku memilih jalur haji khusus karena alasan waktu tunggu yang lebih singkat.
Ia mengaku bisa berangkat di tahun ini meski baru mendaftar pada 2019 lalu.
“Alasan utamanya ya karena waktu tunggunya singkat. Jadi tidak perlu menunggu lama sampai belasan atau puluhan tahun,” katanya.
Namun untuk bisa mendapatkan layanan haji khusus ini setiap jemaah harus merogoh kantong sangat dalam.
Bagaimana tidak, total biaya yang harus dikeluarkan setiap jemaah rata-rata berkisar antara 17.700 hingga 18.000 dolar AS atau setara hampir Rp300 juta per orang.
Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan biaya haji reguler yang totalnya hanya sekitar Rp87,4 juta, dengan jemaah hanya menanggung sekitar Rp54 juta setelah mendapat subsidi pemerintah.
Meski demikian, Sovia menilai biaya tersebut sebanding dengan manfaat yang diperoleh.
“Yang penting tidak menunggu terlalu lama, selain itu layanan dan fasilitas yang diberikan juga sesuai dengan biaya yang kami keluarkan,” ujarnya.
Dari sisi fasilitas, jemaah haji kkhusus sendiri memang mendapatkan layanan premium selama menjalankan ibadah.
Mereka akan menginap di hotel berbintang lima yang lokasinya dekat dengan Masjidil Haram di Makkah dan Masjid Nabawi di Madinah.
Selain itu, jemaah juga memperoleh layanan maktab VIP saat menjalani puncak ibadah di Arafah, Mina, dan Muzdalifah.
Fasilitas tersebut mencakup akomodasi yang lebih nyaman, konsumsi yang terjamin, serta pendampingan yang lebih intensif.
Durasi pelaksanaan ibadah haji khusus juga lebih singkat, yakni sekitar 28 hari, sehingga menjadi pilihan tepat bagi jemaah yang memiliki keterbatasan waktu.



