Gempa NTT, Jadikan Musibah sebagai Pelajaran Perketat Standar Keamanan

4 Min Read
Rescue workers in orange uniforms and helmets navigate a collapsed building amid tangled metal and rubble.
Tim SAR melakukan evakuasi korban yang tertimbun di Maumere. (Foto: Dok. SAR Maumere)

Mabur.co- Sebanyak 48 orang meninggal dunia akibat gempa bumi Magnitudo (M) 7,7 yang mengguncang kawasan Timur Laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), Minggu (16/8/2026) pagi.

Kepala Kantor SAR Maumere, Fathur Rahman, menuturkan, berdasarkan pendataan dan verifikasi sementara hingga pukul 08.30 WITA, terdapat 112 orang terdampak gempa. Terdapat 48 orang meninggal, dan sebanyak 64 orang lainnya mengalami luka berat maupun luka ringan.

“Jumlah korban tersebut masih bersifat sementara dan dinamis. Tim SAR gabungan bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan unsur potensi SAR masih melakukan pendataan serta verifikasi di wilayah terdampak,” ujarnya, Minggu (16/8/2026), dilansir dari Basarnas Maumere.

Terhambat Longsor

Fathur Rahman, mengatakan, akses menuju sejumlah wilayah terdampak yang sebelumnya terhambat longsor mulai dapat dilalui petugas.

“Tim Rescue Pos SAR Manggarai Barat yang bertugas melakukan pencarian di wilayah Manggarai Timur, per pukul 06.00 WITA, telah berhasil mengakses jalur darat di wilayah Reo yang sebelumnya terdampak longsor. Dengan terbukanya akses tersebut, pencarian dapat kembali diperluas untuk menjangkau wilayah-wilayah yang membutuhkan pertolongan,” katanya.

Sementara itu, Guru Besar Teknik Sipil Berwawasan Kebencanaan UII, Prof. Ir Sarwidi, MSCE., Ph.D., IP-U, menuturkan, guncangan permukaan akibat gempa bumi tektonik kuat yang mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) dan sekitarnya pada hari Sabtu pagi kemarin (15/8/2026) kembali menjadi pengingat keras bahwa Indonesia berada di kawasan cincin api (ring of fire) dengan aktivitas seismik yang tinggi.

Evaluasi Bangunan Tahan Gempa

Peristiwa ini harus dilihat sebagai momentum krusial untuk mengevaluasi kembali pemahaman tentang bangunan tahan gempa.

“Selama ini, untuk bangunan gedung teknis, kita cenderung hanya berfokus pada elemen struktur yakni komponen utama penahan beban keseluruhan bangunan seperti fondasi, kolom, balok, dan lantai. Namun, kita sering melupakan elemen non-struktur, yakni bagian yang harus menahan dirinya sendiri tetapi bukan bagian dari penahan gaya utama. Seperti tembok pengisi, lisplank, plafon, penutup atap, hingga elemen pelengkap seperti baliho,” ucapnya, Minggu (16/8/2026).

Sarwidi mengatakan, pada gempa NTT ini, juga dapat terlihat fenomena memprihatinkan, banyak bangunan yang elemen strukturnya tetap utuh dan tidak roboh, namun menyebabkan korban. Hal ini terjadi karena elemen non-struktur mengalami kegagalan.

“Keruntuhan tembok, jatuhnya plafon dan penutup atap, atau robohnya bagian non-struktural lainnya terbukti sangat membahayakan keamanan penghuni, meskipun kerangka bangunan utamanya masih berdiri cukup kokoh, tahan gempa,” katanya.

Sarwidi menyerukan percepatan pergeseran paradigma dari sekadar bangunan tahan gempa menjadi bangunan aman gempa. Konsep ini menuntut agar pertimbangan pokok dalam konstruksi tidak lagi hanya berfokus pada kekuatan struktur, tetapi juga pada pengamanan elemen non-struktur.

“Ada beberapa langkah strategis yang harus kita tempuh yakni integrasi keamanan menyeluruh, memastikan bahwa tidak hanya struktur utama yang diperkuat, tetapi elemen non-struktur juga terpasang dengan sambungan yang mampu bertahan dari guncangan. Penerapan konstruksi aman gempa atau memperkuat fasilitas dengan memperhatikan detail teknis pada pengisi (tembok) dan elemen arsitektural lainnya agar tidak runtuh serta mencederai penghuni saat terjadi gempa,” katanya.

Menurut Sarwidi pula, perlu meningkatkan edukasi mitigasi agar masyarakat memahami bahaya tersembunyi dari elemen non-struktur. Keselamatan adalah hasil dari perencanaan dan pelaksanaan yang komprehensif.

“Mari kita jadikan musibah ini sebagai pelajaran untuk memperketat standar keamanan, baik pada elemen struktur maupun non-struktur, demi meminimalisir risiko jatuhnya korban dan kerugian harta-benda di masa depan,” katanya.

TAGGED:
Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar