Kontroversi Buku ‘Islam ala Prabowo’, Tak Bermaksud Ciptakan Mazhab Baru

5 Min Read
Blue book cover titled 'Islam ALA Prabowo' on a wooden desk, with a photo of a man in a tan uniform and a black cap, plus a wooden prayer bead lei beside it.
Majelis Ulama Indonesia (MUI) bersama Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) meluncurkan buku berjudul “Islam ala Prabowo: Cara Prabowo Subianto Mengamalkan Ajaran Islam". (Foto: Istimewa)

Mabur.co – Buku “Islam ala Prabowo” menjadi perhatian setelah judulnya beredar di media sosial. Judul lengkap buku tersebut adalah Islam ala Prabowo: Cara Prabowo Subianto Mengamalkan Ajaran Islam.

Secara umum, buku ini membahas sisi keislaman, spiritualitas, karakter, serta kepemimpinan Prabowo Subianto. Pembahasannya mencoba melihat bagaimana nilai-nilai Islam dikaitkan dengan kehidupan dan perjalanan Prabowo sebagai seorang tokoh nasional.

Buku ini tidak membahas tentang munculnya ajaran atau mazhab Islam baru. Istilah “Islam ala Prabowo” digunakan sebagai judul untuk menggambarkan pembahasan mengenai cara nilai-nilai Islam dipandang tercermin dalam kehidupan dan kepemimpinan Prabowo.

Kehidupan Spiritual dan Keagamaan Prabowo

Salah satu bagian yang dibahas adalah kehidupan spiritual dan keagamaan Prabowo. Sejumlah tulisan melihat sisi tersebut dari berbagai perspektif, termasuk bagaimana nilai agama dikaitkan dengan karakter, sikap, dan prinsip yang ditunjukkan Prabowo dalam perjalanan hidupnya.

Pembahasannya kemudian diperluas ke persoalan kepemimpinan. Nilai-nilai seperti perdamaian, keadilan, tanggung jawab, pengabdian, dan kepedulian terhadap masyarakat menjadi bagian dari pembahasan mengenai bagaimana Islam dikaitkan dengan kepemimpinan Prabowo.

Buku tersebut juga membahas hubungan antara nilai keislaman dengan perjuangan untuk kesejahteraan rakyat. Dengan demikian, agama tidak hanya dilihat dari sisi kehidupan pribadi, tetapi juga dari bagaimana nilai-nilai tersebut dikaitkan dengan tanggung jawab seorang pemimpin terhadap masyarakat.

Yang menarik, buku ini tidak hanya berisi pandangan Prabowo mengenai dirinya sendiri. Di dalamnya terdapat tulisan dan pandangan dari sejumlah tokoh, termasuk tokoh agama dan akademisi, yang memberikan perspektif mereka mengenai keislaman, spiritualitas, karakter, dan kepemimpinan Prabowo.

Karena ditulis dari berbagai perspektif, isi buku juga mencerminkan interpretasi dan penilaian para penulisnya terhadap sosok Prabowo. Artinya, pembaca tetap perlu membedakan antara fakta mengenai kehidupan Prabowo dengan pandangan atau penilaian yang disampaikan oleh masing-masing kontributor.

Secara garis besar, pembahasannya dapat dikelompokkan ke dalam tiga tema, yaitu Islam, perdamaian dan keadilan, spiritualitas Prabowo Subianto, serta perjuangan untuk kesejahteraan rakyat.

Ketiganya menjadi kerangka untuk melihat hubungan antara nilai-nilai Islam dan sosok Prabowo sebagai seorang pemimpin.

Pengasuh Pondok Pesantren Nur Muhammad Surabaya, KH Mas Muhammad Maftuh, angkat bicara terkait polemik buku Islam ala Prabowo: Cara Presiden Prabowo Subianto Mengamalkan Ajaran Islam yang diluncurkan bersama Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas).

Gus Maftuh yang juga Ketua Umum Forum Komunikasi Kiai Kampung Indonesia (FK3I) meminta masyarakat membaca buku tersebut secara utuh dan proporsional.

Tidak Dimaksudkan Menciptakan Mazhab Baru

Menurut dia, istilah ‘Islam ala Prabowo’ tidak dimaksudkan untuk menciptakan mazhab, aliran, maupun bentuk Islam baru yang berbeda dari ajaran Islam yang dianut umat Muslim Indonesia.

“Jangan memahami buku ini hanya dari tiga kata, ‘Islam ala Prabowo’, kemudian langsung menyimpulkan seolah-olah ada Islam baru atau mazhab baru. Maksudnya adalah bagaimana nilai-nilai Islam dipahami dan tercermin dalam kehidupan, sikap, serta kepemimpinan Prabowo,” ujarnya, dilansir JPNN.com, Minggu (6/9/2026).

Gus Maftuh menilai, kehadiran buku tersebut penting dalam konteks Indonesia sebagai negara yang memiliki masyarakat majemuk.

“Islam yang kita inginkan adalah Islam yang membuat Indonesia maju, Islam yang rukun, Islam yang menjaga persatuan dan mampu hidup berdampingan dengan rukun, damai dan memegang erat konsesi kebangsaan bersama dengan umat-umat beragama lainnya. Itulah wajah Islam Indonesia yang rahmatan lil alamin,” tegasnya.

Jangan Mudah Terprovokasi

Gus Maftuh meminta masyarakat tidak mudah terprovokasi oleh potongan informasi, meme, maupun komentar di media sosial yang hanya mengambil judul buku tanpa memahami substansi.

“Kalau ada yang berbeda pandangan, silakan. Buku adalah ruang intelektual untuk berdiskusi. Tetapi jangan sampai perbedaan tafsir kemudian berubah menjadi fitnah dan saling menghujat. Mari baca bukunya, pahami isinya, baru memberikan penilaian,” katanya.

Sementara itu, Ketua Umum MUI, Anwar Iskandar, mengatakan buku ini dapat menjadi gambaran mengenai bagaimana nilai-nilai Islam diterapkan dalam kepemimpinan. Islam tidak hanya berkaitan dengan simbol keagamaan, tetapi juga dapat diwujudkan melalui kebijakan yang berpihak kepada masyarakat.

“Buku ini memberi inspirasi bahwa Islam bukan hanya simbol, melainkan substansi yang dapat diwujudkan dalam kebijakan pro-rakyat. Kehadiran Presiden Prabowo di panggung kepemimpinan adalah contoh bagaimana nilai Islam bisa membumi,” ujarnya dilansir dari Antara.

Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar