Mabur.co – Isu penggulingan presiden Prabowo yang disampaikan oleh pengamat Saiful Mujani dalam acara halal bihalal “Sebelum Pengamat Ditertibkan” beberapa waktu lalu, kini semakin memanas.
Pihak istana bahkan menyebut bahwa seruan yang dilakukan oleh Saiful Mujani merupakan aksi makar, yang berupaya memakzulkan presiden di luar jalur konstitusi.
Bahkan Saiful beserta salah satu kawannya, Islah Bahrawi, turut dilaporkan ke Bareskrim Polda Metro Jaya, akibat adanya dugaan makar tersebut.
Namun bagi pengamat politik sekaligus freethinker, Mahendra Dhandi Uttunggadewa, makar yang sesungguhnya justru adalah pihak istana, alias pemerintah itu sendiri.
“Kita sudah menjauh dari cita-cita proklamasi yang tertulis dalam preambule Undang Undang Dasar 1945. Jadi kalau ada yang (melakukan aksi) makar hari ini, pemerintah lah yang makar hari ini, baik makar terhadap konstitusi, maupun preambule UUD 1945,” ucap Dhandi, panggilan akrabnya, dalam sebuah acara Diskusi di Jakarta, sebagaimana dilansir dari kanal YouTube Sociocorner, belum lama ini.
Dhandi pun meminta pemerintah maupun koalisi pendukungnya, agar tidak sembarangan berbicara tentang makar. Karena mereka sendiri juga pelaku makar terhadap konstitusi dasar bernegara.
“(Pemerintah) jangan sekali-sekali bicara soal makar. Karena pemerintah yang notabene dianggap secara sah sudah jelas-jelas melakukan makar secara konstitusional,” tambah Dhandi.
Dhandi juga meminta kepada segenap masyakarat, untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama seperti seekor keledai.
Dalam konteks isu yang sedang beredar saat ini, jangan sampai masyarakat hanya berbicara soal menjatuhkan Prabowo dari kursi presiden. Tapi pikirkan juga tentang bagaimana merevolusi Indonesia secara keseluruhan.
Karena revolusi yang terjadi pada tahun 1998 silam, adalah revolusi yang masih belum tuntas sampai hari ini. Dan disitulah tugas utama warga negara saat ini. Bukan lagi tentang siapa presiden yang layak menggantikan Prabowo, dan seterusnya. (*)


