Mabur.co- Banyak peninggalan sejarah tersebar pada berbagai tempat di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Peninggalan bersejarah itu salah satunya dapat ditemukan di Kabupaten Gunungkidul.
Di Desa Girijati, Kecamatan Panggang, Gunungkidul, terdapat sebuah peninggalan Kerajaan Mataram Islam bernama Pesanggrahan Gembirowati. Situs tersebut dinamakan “Gembirowati” yang berarti “kegembiraan yang baik”
Situs Gembirowati adalah sebuah pesanggrahan yang dibangun pada masa Mataram Islam, terletak di Desa Girijati, Kecamatan Panggang, Gunungkidul.
Pesanggrahan Gembirowati adalah salah satu tempat yang digunakan sebagai pesanggrahan oleh Sultan Hamengku Buwono II yang memerintah selama tiga periode pada kurun waktu 1792-1828 M.
Pembangunan fisik yang dilakukan oleh Sultan Hamengku Buwono II, hampir semuanya berada di luar keraton berupa pesanggrahan.
Rujukan atas keberadaan tempat ini adalah Serat Rerenggan Kraton, yang menyebutkan pesanggrahan hasil seni bangun karya Sultan Hamengku Buwono II berjumlah tiga belas buah, namun yang masih dapat dilacak keberadaan fisiknya tinggal empat buah, yaitu Pesanggrahan Ngarjokusumo, Wonocatur, Purwokusumo, dan Jowinangun.
Dilansir dari Dinas Pariwisata Kabupaten Gunungkidul, Sabtu (30/5/2026), situs di atas tanah Sultan Ground (SG) dengan luas kurang lebih 11.930 meter persegi tersebut, berada pada perbukitan kapur dengan ketinggian 126,50-130 m di atas permukaan laut.
Suasana di sekitar memang cukup sejuk. Di sekelilingnya dimanfaatkan oleh penduduk sekitar untuk bertanam padi, ketela dan berbagai tanaman lain seperti pisang.
Banyak Pohon Berumur Tua
Selain itu di sekitar situs masih terdapat pohon-pohon yang berumur sangat tua, seperti Randu Alas, Gayam, Klepu, Pule, dan Ancar yang tingginya antara 15 hingga 25 meter.
Keberadaan tempat ini adalah Serat Rerenggan Kraton. Dalam serat itu disebutkan bahwa pesanggrahan hasil seni karya Sri Sultan Hamengku Buwono II ada tiga belas buah. Namun yang masih dilacak keberadaan fisiknya tinggal empat buah yaitu Pesanggrahan Ngarjokusumo.
Dikutip dari Jogjasianat, bangunan, gaya arsitektur dan pilar-pilarnya berasal dari abad ke-16. Situs ini memiliki struktur bangunan berteras dan berbahan batu putih.
Selain itu, situs ini memiliki bentuk dua buah dinding yang memanjang dari arah barat ke timur. Sisa bangunan teras pertama yang berada di bawah berukuran panjang 22,70 meter, lebar 0,5 meter, dan tinggi 1,04 meter.
Sedangkan sisi bangunan kedua terletak di atas teras pertama memiliki panjang 16,82 meter, lebar 0,5 meter, dan tinggi 1,02 meter. Kedua teras itu memiliki selisih tinggi 2,10 meter dan dihubungkan oleh tangga.
Pada bagian dinding terdapat panel-panel dengan hiasan geometris dan karang laut. Unsur-unsur hiasan itu memiliki kemiripan dengan unsur hiasan pada bangunan-bangunan masa klasik dan masa Islam.
Kisah tutur yang berkembang di masyarakat sekitar menceritakan bahwa pesanggrahan itu dulunya dibangun oleh seorang pelarian Majapahit bernama Dipokusumo. Ia membangun pesanggrahan itu sebagai sebuah padepokan untuk mengembangkan ilmu kanuragan. ***

