Prabowo Bisa Jadi Korban dari Banyaknya Tim Komunikasi Internal di Lingkungan Istana - Mabur.co

Prabowo Bisa Jadi Korban dari Banyaknya Tim Komunikasi Internal di Lingkungan Istana

Mabur.co – Ahli komunikasi politik, Doktor Selamat Ginting, mempertanyakan banyaknya tim komunikasi yang ada di jajaran kabinet Merah Putih bentukan Presiden Prabowo Subianto saat ini.

Termasuk dengan hadirnya Hasan Nasbi sebagai Penasihat Khusus Presiden Bidang Komunikasi, serta M. Qodari sebagai Badan Komunikasi (Bakom) Pemerintah Republik Indonesia. Hal itu semakin mencerminkan “tsunami komunikasi” yang dialami oleh Prabowo sendiri untuk menjalankan pemerintahannya.

“Dalam pemerintahan Prabowo Subianto ini seolah ada pertarungan komunikasi politik di kabinetnya. Kalau dulu kan satu suaranya (yang berbicara kepada publik), cukup Menteri Penerangan, semua informasi ada disitu (Kementerian Penerangan). Nah ini (sekarang) kan masing-masing punya juru bicaranya sendiri-sendiri gitu loh. Jadi nggak jelas,” ungkap Selamat Ginting, sebagaimana dilansir dari kanal Forum Keadilan TV, Kamis (14/5/2026).

Ginting pun mencontohkan salah satu pola komunikasi buruk yang dilontarkan oleh Sekretaris Kabinet, Teddy Indra Wijaya. Di mana saat ada pertanyaan mengenai sumber anggaran Pesta Rakyat di Monas pada periode lebaran lalu, Teddy justru mengatakan “pokoknya ada”.

Ucapan itu pun langsung viral dan menjadi bulan-bulanan oleh netizen, bahkan sampai saat ini.

“Misalnya ketika pertanyaan wartawan kepada menteri, lalu dijawab oleh Seskab Teddy dengan “pokoknya ada”. Loh ini kan nggak jelas jadinya komunikasi kayak begini. Selain tidak jelas, ini kan jadi mengundang banyak pertanyaan, ‘kok gini ya penjelasannya’ (terkait masalah anggaran). Padahal uang negara itu dari APBN, APBN itu dari pajak rakyat. Harusnya (menteri yang terkait) menjelaskan secara rinci kepada rakyat, bukan narasi-narasi satu kalimat seperti itu. Itu kan menjadi blunder bagi pemerintahan Prabowo Subianto,” tambah Ginting.

Menurut Ginting, adanya “tsunami komunikasi” tersebut justru bisa berbahaya bagi Prabowo sendiri, lantaran dialah yang menjadi kepala pemerintahannya. Sehingga dia juga harus siap menerima “tsunami komunikasi” dari jajaran di bawahnya, entah itu komunikasi yang sifatnya baik maupun yang buruk. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *