Mabur.co – Seorang ibu rumah tangga asal Bantul sukses membuat inovasi makanan tradisional lemper untuk diolah menjadi bentuk frozen.
Siapa sangka makanan yang awalnya kerap dianggap jadul itu bisa laris di pasaran. Bahkan hingga dipasarkan ke Australia.
Dialah Isnaini, asal Mayungan, Murtigading, Sanden, Bantul. Isnaini mulai bereksperimen membuat lemper modern ini ketika ia mendapat permintaan dari seorang keponakan yang tinggal di Jakarta.
Lemper Frozen
Dari situlah ibu rumah tangga yang sudah sejak 1998 membuat lemper itu mengembangkan produk baru lemper frozen.
Ide awalnya sederhana. Bagaimana agar lemper buatannya bisa bertahan lebih lama dan dikirim tanpa harus segera disantap.
Dilansir situs resmi Pemkab Bantul, Jumat (4/9/2026), Isnaini menjelaskan untuk membuat lemper frozen cukup mudah.
Lemper yang dibuat seperti biasa hanya dimasukkan ke dalam kulkas sekitar dua jam agar kondisinya tetap rapi sebelum menjalani proses vakum dan pembekuan.
Menariknya, Isnaini tidak menggunakan bahan pengawet untuk membuat produk lempernya tahan lama.
“Lemper ini tidak menggunakan bahan pengawet. Kalau tetap disimpan di freezer bisa tahan sampai tiga bulan,” ujar Isnaini.
Cara menikmatinya pun cukup sederhana. Lemper yang masih beku dikeluarkan dari freezer, kemudian dibiarkan sekitar 30 menit pada suhu ruang. Setelah itu, lemper dikukus dan siap disajikan.
Isnaini sendiri membuat lemper frozen dalam bentuk bungkusan dengan bermacam varian rasa. Mulai dari rasa ayam hingga daging sapi
“Satu bungkus berisi 10 lemper. Varian ayam harganya Rp30.000, sedang varian daging sapi Rp40.000. Paling banyak diminati itu lemper ayam,” katanya.
Bisa Dinikmati Kapan Saja
Bagi konsumen kehadiran lemper frozen buatan Isnaini bukan hanya sekadar menghadirkan pilihan baru. Produk ini juga membuat lemper lebih praktis untuk dinikmati kapan saja.
Hanifah, warga Kalimundu, misalnya. Ia sudah cukup lama menjadi pelanggan Isnaini.
Sebelum ada lemper frozen, Hanifah hampir setiap hari datang membeli lemper karena menjadi salah satu camilan favorit di rumah.
Kini kebiasaannya berubah. Ia bisa membeli beberapa bungkus sekaligus dan menyimpannya di freezer.
Ketika ada tamu datang secara tiba-tiba, ia tak perlu lagi mencari makanan dalam waktu singkat. Lemper cukup dikeluarkan dari freezer, dikukus, lalu disajikan.
“Dulu saya hampir setiap hari membeli lemper karena memang suka dan sering untuk camilan di rumah. Sekarang dengan adanya lemper frozen, saya bisa beli beberapa sekaligus dan menyimpannya di rumah. Jadi lebih praktis dan tidak harus setiap hari datang,” kata Hanifah.
Tak hanya menjadi pelanggan, Hanifah bahkan kini ikut menjual kembali lemper frozen buatan Isnaini kepada orang-orang di sekitarnya sebagai reseller.
Dipasarkan hingga Australia
Dari usaha yang awalnya berkembang di sekitar lingkungan tempat tinggalnya, lemper Isnaini perlahan menjangkau konsumen di berbagai daerah.
Dalam sehari, ia mengaku mampu memproduksi sekitar 500 buah lemper, tergantung pesanan. Untuk jumlah tersebut, dibutuhkan sekitar 10 hingga 12 kilogram ketan.
Pemasaran masih banyak mengandalkan rekomendasi pelanggan dari mulut ke mulut. Awalnya, produk lebih banyak beredar di sekitar Sanden dan Bantul.
Namun, keberadaan lemper frozen membuat jangkauannya semakin luas.
Lemper buatan Isnaini kini telah dibawa hingga Kalimantan dan Jambi. Bahkan dalam beberapa bulan terakhir, makanan yang dibuat dari dapur rumahnya itu berhasil menyeberang hingga Australia.
Perjalanan tersebut bermula dari sebuah permintaan sederhana seorang keponakan di Jakarta.
Dari permintaan itulah Isnaini menemukan cara baru untuk mempertahankan usaha lemper yang telah ia jalani sejak 1998, mengubah jajanan tradisional yang biasanya harus segera disantap menjadi produk yang bisa disimpan, dikirim jauh, dan dinikmati kapan saja.
