Mabur.co- Menyemarakkan HUT Kemerdekaan RI hampir seminggu pedagang musiman mulai berdatangan memanfaatkan momen peringatan Kemerdekaan RI dengan berjualan pernak-pernik bernuansa merah-putih.
Salah satunya adalah Susan yang setia menggelar dagangannya di Jalan Juminahan, Tegal Panggung, Danurejan, Kota Yogyakarta.
Bagi Susan, berdagang atribut kemerdekaan bukan sekadar mencari keuntungan. Ada keyakinan bahwa setiap bendera yang terpasang menjadi bagian dari cara masyarakat mengenang perjuangan para pahlawan dan merayakan kemerdekaan Indonesia.
Namun, semangat itu tahun ini berhadapan dengan kenyataan yang tidak mudah.
Tak Seramai Tahun Sebelumnya
Daya beli masyarakat yang melemah membuat penjualan tak lagi seramai tahun-tahun sebelumnya.
“Tahun ini agak sepi, nggak kayak kemarin. Kalau dulu sehari bisa dapat Rp1 juta sampai Rp2 juta, sekarang lebih sepi, terutama bendera sama umbul-umbul,” ujarnya, Jumat (7/8/2026).

Di balik senyum yang tetap ia tunjukkan kepada setiap pembeli, Susan mengaku menyimpan banyak kekecewaan.
Kenaikan harga kebutuhan usaha membuat margin keuntungan semakin tipis, sementara harga jual tidak bisa dinaikkan terlalu tinggi karena khawatir pembeli enggan berbelanja.
“Kekecewaan banyak. Kadang pemerintah mempersulit rakyat kecil, apa-apa mahal. Kadang seenaknya harga dinaikkan, tapi kita jualnya harus tetap murah,” katanya.
Susan mengatakan, kondisi ekonomi membuat masyarakat lebih berhati-hati mengeluarkan uang.
Beli Bendera Bukan Prioritas Utama
Membeli bendera kini bukan lagi prioritas bagi sebagian orang, kecuali memang memiliki dana lebih.
“Ekonominya lagi sakit. Harus ada uang lebih dulu buat beli, jadi ya gimana lagi,” ucapnya.
Susan mengatakan pula, barang dagangannya diperoleh dari produsen kain langganan.
Tahun ini harga dari pemasok naik sekitar Rp10 ribu hingga Rp20 ribu dibanding musim Agustusan tahun lalu.
“Saya tetap berusaha mempertahankan harga agar tetap terjangkau. Ia menyadari, keuntungan yang sedikit masih lebih baik daripada tidak ada pembeli sama sekali,” katanya
Susan mengatakan lagi, sebagian besar pelanggan berasal dari Kota Yogyakarta.
Sesekali ada pembeli dari Sleman dan Bantul, tetapi jumlahnya tidak banyak. Umbul-umbul masih menjadi produk yang paling dicari.
Baginya, jika 10 umbul-umbul terjual dalam sehari sudah cukup melegakan. Sementara bambu penyangga justru kurang diminati.
“Kalau bambu juga agak sepi. Satu ikat isi 10 dijual sekitar Rp130 ribu,” katanya.
Susan menuturkan, belum berani memprediksi apakah penjualan akan meningkat menjelang 17 Agustus.
“Pembeli biasanya baru berdatangan beberapa hari sebelum peringatan kemerdekaan saat kampung-kampung mulai memasang atribut merah-putih,” katanya.
Susan menjelaskan, untuk bertahan, ia mengandalkan promosi melalui grup-grup WhatsApp serta pelanggan tetap yang sudah mengenalnya selama bertahun-tahun.
Lapak dibuka sejak pagi hingga sekitar pukul 21.00 WIB.
“Tak semua barang yang dibawanya habis terjual setiap musim. Sisa stok kemudian disimpan di dalam boks kontainer agar bisa dijual kembali pada tahun berikutnya,” ucapnya.
Bagi Susan, musim Agustusan juga menjadi ruang bertemunya para pedagang musiman dari berbagai daerah, seperti Bandung dan Kuningan, Jawa Barat.
Menariknya, persaingan tidak begitu terasa. Di antara mereka justru tumbuh rasa saling membantu.
“Nggak jadi saingan, semua sama. Kalau di sini nggak ada barang, ambil dari sana. Kalau di sana habis, ambil dari sini,” tuturnya.
Di tengah lesunya ekonomi, lapak-lapak sederhana itu tetap berdiri di pinggir jalan.
Bendera yang mereka jual mungkin hanya berkibar selama sebulan, tetapi harapan para pedagang agar ekonomi ikut pulih terasa jauh lebih panjang.
“Musim kemerdekaan bagi penjual bendera merah putih seperti dirinya bukan hanya soal merah putih yang menghiasi jalanan. Ini adalah musim bertahan hidup, menjaga warisan usaha turun-temurun, sekaligus berharap semangat kemerdekaan suatu hari benar-benar terasa, termasuk dalam kehidupan ekonomi rakyat kecil,” katanya.
