Mabur.co– Terinspirasi dari Turki di mana sampul agenda dibuat dengan lukisan menggunakan tinta dari empedu sapi.
Diby Leather yang beralamat di Singosaren, Kotagede, Kota Yogyakarta, mencoba berinovasi menggunakan kulit sapi yang diberi sentuhan lukisan dengan teknik water colour base atau pewarna berbasis air yang nyaris tak menyisakan limbah.
Owner Diby Leather, Bayu Ratna Dhini, mengatakan dalam prosesnya, kulit sapi yang telah melalui proses penyamakan dicelupkan ke air yang sudah diberi color base dan dilukis agar motifnya beragam dan tidak pasaran.
Setelah selesai menggunakan pewarna water base, kulit sapi yang sudah diberi warna akan melalui proses pencucian, pengeringan dan dilanjutkan ke pemanasan.
Tak hanya itu, produknya juga sudah diuji secara laboratorium, dimana produk Diby Leather ini kuat terhadap asam, basa, panas, gesekan serta terhindar dari kelunturan.
“Tidak ada limbah industri yang kita keluarkan. Bisa disebut produk kita ramah lingkungan. Bahkan bisa dibuat di rumah secara sederhana,” jelasnya, Sabtu (9/5/2026).

Bayu Ratna Dhini mengatakan, untuk harganya pun sangat berinovasi dan yang pasti ramah di kantong bahkan bagi para mahasiswa.
Untuk harga produk Diby Leather mulai dari kreasi dompet atau pun asesoris dengan harga Rp 75 ribu hingga Rp 200 ribu.
Untuk pouch sesuai ukuran mulai dari Rp 200 ribu hingga Rp 350 ribu. Tak hanya itu, untuk tas kulit milik Diby Leather mulai dari Rp 350 ribu hingga Rp 2 juta tergantung pada kerumitan saat proses pembuatannya.
“Setelah trial by error alhamdulillah tidak membutuhkan waktu lama kulit sapi berproses berjalan dengan mulus. Kita gunakan pewarna khusus untuk kulit jadi water base ramah lingkungan. Pewarna ini langsung menyerap ke kulit sapi dan tidak meninggalkan residu atau sisa pewarna yang kita gunakan,” ujarnya.

Bayu Ratna Dhini, menuturkan, kini produk Diby Leather tidak hanya dipasarkan di Indonesia saja melainkan hingga ke mancanegara. Salah satunya penjualannya hingga ke Asia seperti Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, bahkan hingga Amerika Serikat.
“Kami menjalani bisnis ini tidak mudah, persaingan di industri kulit cukup ketat. Hingga saat ini tidak hanya pasar lokal saja penjualan kami, bahkan sampai ke global di Asia,” ungkapnya.




