Prospek Budidaya Ayam Cebol, Seekor Bisa Seharga Rp16 Juta

5 Min Read
Roosters inside a metal wire cage placed on a green floor, with one rooster prominently in the foreground and others blurred in the background.
Ayam kate yang sering juga disebut ayam cebol karena bentuknya kecil. (Foto: JH Kusmargana)

Mabur.co – Di balik tubuhnya yang mungil, ayam kate ternyata menyimpan nilai ekonomi yang tidak bisa dipandang sebelah mata.

Meski popularitasnya kalah dibandingkan ayam hias lain, budidaya ayam kate hingga kini masih menjadi peluang usaha yang menjanjikan. Bahkan, untuk ayam berkualitas kontes, harga jualnya bisa mencapai belasan juta rupiah.

Minat masyarakat memelihara ayam kate atau sering disebut ayam cebol memang sempat menurun dalam beberapa tahun terakhir.

Kehadiran berbagai jenis ayam hias baru membuat ayam kate mulai tersisih. Tak sedikit pula yang menganggap ayam berukuran kecil ini sebagai hama karena dikhawatirkan dapat mengawini ayam ras atau ayam hias lain sehingga memengaruhi kemurnian keturunannya.

Prospek Cerah

Namun, anggapan tersebut tidak berlaku di kalangan pehobi. Bagi mereka, ayam kate justru merupakan salah satu ayam hias yang memiliki prospek ekonomi cukup cerah. Jenis seperti Chabo Blacktail dan Blorok menjadi incaran kolektor karena memiliki bentuk tubuh proporsional, warna bulu yang menarik, serta karakteristik yang sesuai standar kontes.

Semakin cebol atau pendek postur tubuh, semakin rapi bentuk kepala, sayap, kaki, dan ekornya, serta semakin unik corak bulunya, maka nilai jual ayam kate akan semakin tinggi. Terlebih jika memiliki warna langka yang sulit ditemukan di pasaran.

Ketua Paguyuban Kate Jogja Mataram, Agung Wahyu Prabowo, mengatakan ayam kate berkualitas biasa dapat dijual mulai ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Sementara ayam yang berhasil menjadi juara kontes memiliki nilai jual jauh lebih tinggi.

“Untuk ayam yang baru juara, harganya bisa mencapai sekitar Rp6 juta per ekor. Kalau ayam tersebut sudah berkali-kali menjadi juara di berbagai kontes, nilainya bisa melonjak hingga sekitar Rp16 juta,” ujarnya, Selasa (4/8/2026).

Selain bernilai ekonomi tinggi, ayam kate juga relatif mudah dipelihara. Perawatannya hampir sama dengan ayam pada umumnya, mulai dari pemberian pakan, vitamin, hingga menjaga kebersihan kandang. Dalam satu siklus bertelur, seekor indukan mampu menghasilkan sekitar tujuh hingga delapan butir telur yang kemudian dapat ditetaskan menjadi anakan.

Tak hanya dijadikan hewan peliharaan, ayam kate juga rutin diperlombakan dalam berbagai kontes kecantikan ayam hias. Penilaian dilakukan berdasarkan sejumlah aspek, mulai dari bentuk kepala, postur tubuh, kaki, sayap, ekor, hingga kualitas dan corak warna bulu.

Salah seorang peternak ayam kate asal Kebumen, Danuaji, mengaku sudah sejak beberapa tahun terakhir membudidayakan ayam kate. Ia juga rutin mengikuti kompetisi ayam kate di berbagai daerah untuk berlaga.

Keindahan Bulu Pengaruhi Kontes

Menurutnya, daya tarik ayam kate terletak pada bentuk tubuhnya yang kecil namun memiliki karakter yang khas. Dalam penilaian kontes, setiap detail menjadi perhatian juri, mulai dari postur tubuh, bentuk jengger, kaki, hingga kerapian bulu.

“Yang menarik dari ayam kate itu tubuhnya kecil, tetapi punya karakter yang kuat. Keindahan bulu, bentuk kaki, jengger, sampai proporsi tubuh menjadi penilaian utama. Itu yang membuat saya tertarik memeliharanya,” katanya.

Baginya, mengikuti kontes bukan semata-mata mengejar kemenangan, tetapi juga menjadi ajang bertemu sesama pehobi untuk saling bertukar pengalaman mengenai perawatan maupun pengembangan kualitas ayam kate.

Sementara itu, sejumlah komunitas ayam kate sendiri rutin menggelar kontes ayam kate setiap beberapa bulan sekali. Selain menjadi ajang silaturahmi para pehobi, kegiatan tersebut juga bertujuan menjaga keberadaan ayam kate agar tetap lestari di tengah semakin banyaknya jenis ayam hias baru.

“Melalui kontes ini kami ingin menunjukkan bahwa ayam kate bukan sekadar ayam kampung berukuran kecil, tetapi memiliki nilai estetika sekaligus nilai ekonomi yang tinggi. Semakin banyak peternak yang menghasilkan ayam berkualitas, semakin besar pula peluang usaha yang bisa dikembangkan,” ujarnya.

Dengan harga jual yang stabil dan permintaan yang masih datang dari kalangan pehobi maupun kolektor, ayam kate dinilai masih memiliki prospek cerah sebagai komoditas ayam hias. 

Kontes yang rutin digelar diharapkan mampu mendorong semakin banyak peternak menghasilkan ayam kate berkualitas, sehingga keberadaan unggas hias lokal ini tetap lestari sekaligus memiliki nilai ekonomi yang terus meningkat.

Share This Article
Avatar photo
Jurnalis lahir dan tinggal di Jogja
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar