Harganas, Jangan Sampai Ayah Hadir Fisik Namun Absen Secara Psikologis 

2 Min Read
Large crowd in colorful traditional clothing watching a ceremony in a city square, with a brass band on steps and a large blue event banner in front of a white historic building with copper domes.
Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga RI, Wihaji, memimpin upacara Peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-33, Senin (29/6/2026) di kompleks Benteng Vredeburg, Yogyakarta. (Foto: Setiaky.A.Kusuma)

Mabur.co– Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (Kemendukbangga/BKKBN) mengadakan upacara puncak peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-33, Senin (29/6/2026) di kompleks Benteng Vredeburg, Yogyakarta.

Upacara peringatan itu menjadi momentum untuk melakukan refleksi terkait pengasuhan anak dalam keluarga di mana ayah wajib hadir tidak hanya ibu.

Jeda Kultural

Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga RI, Wihaji, mengatakan peringatan Harganas bukan sekadar untuk seremonial, melainkan sebuah jeda kultural dan refleksi nasional. 

Terutama ketangguhan keluarga dalam pengasuhan anak di tengah dinamika teknologi. Ketangguhan keluarga berkorelasi linear dengan masa depan Indonesia.

Oleh karena itu, transformasi kualitas sumber daya manusia (SDM) tidak boleh ditunda, tapi dari pengasuhan keluarga.

“Perbaikan kualitas SDM ini mustahil terwujud jika beban pengasuhan hanya diletakkan di pundak ibu. Pada momentum ini, saya ingin berpesan khusus kepada para ayah di seluruh Indonesia. Kehadiran fisik dan kedekatan emosional Anda adalah penentu kestabilan struktur kepribadian anak,” katanya, ditemui usai upacara peringatan Harganas ke-33.

Three people in traditional Indonesian clothing at a press event; man in black speaks into a microphone while others stand beside him.
Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga RI, Wihaji. (Foto: Setiaky.A.Kusuma)

Wihaji mengingatkan agar jangan membiarkan anak-anak tumbuh dalam fenomena fatherless country, di mana ayah hadir secara fisik namun absen secara psikologis. 

Menurutnya kekosongan itu sering digantikan oleh gawai yang dapat memengaruhi pola pikir anak. Dia mengajak para orang tua khususnya ayah berdialog dengan anak-anak di rumah dan membatasi waktu penggunaan gawai dan mengarahkan kepada hal-hal yang produktif.

Figur Orang Tua Jangan Absen

“Kelalaian pengasuhan dan absennya figur orang tua ini memiliki dampak langsung pada meledaknya patologi sosial. Tawuran antarpelajar, perundungan, pergaulan bebas, hingga cengkeraman narkoba adalah alarm darurat bahwa fungsi keluarga sedang malfungsi. Anak-anak yang terjerumus dalam kekerasan atau narkoba sering kali adalah mereka yang kurang kasih sayang di rumah sehingga mencari pelarian semu di jalanan,” terangnya.

Wihaji mengimbau seluruh orang tua untuk menangkal semua ancaman tersebut dari dalam rumah sendiri. Wihaji menilai benteng pertahanan terbaik adalah ketahanan keluarga.

“Jadikan rumah sebagai tempat yang paling aman dan dirindukan. Dia juga mengajak untuk memperbaharui paradigma  keluarga bukan sekadar unit terkecil masyarakat, melainkan hulu dari segala kebijakan publik dan penentu arah pembangunan nasional,” katanya.

TAGGED:
Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar