Sejumlah Nelayan Pantai Congot Pilih Mengamen Saat Sedang Berhenti Melaut - Mabur.co

Sejumlah Nelayan Pantai Congot Pilih Mengamen Saat Sedang Berhenti Melaut

Mabur.co – Cuaca buruk yang terjadi sejak beberapa waktu terakhir membuat sejumlah nelayan di sepanjang pesisir pantai selatan Jawa terpaksa berhenti melaut. 

Kondisi semacam ini hampir selalu terjadi di momen-momen tertentu, sehingga kerap mengakibatkan para nelayan kehilangan mata pencaharian sekaligus penghasilan mereka. 

Namun sejak beberapa bulan terakhir, hal semacam itu tak lagi dirasakan sejumlah nelayan di kawasan Pantai Congot, Temon, Kulon Progo. 

Sejumlah nelayan di kawasan ujung barat Kabupaten Kulon Progo ini, kini punya cara unik tersendiri untuk tetap bisa mendapatkan pemasukan saat cuaca di laut sedang tidak bersahabat.

Saat gelombang tinggi laut selatan yang dikenal ganas menerjang, mereka memilih berhenti melaut dan beralih profesi menjadi pengamen kesenian tradisional. 

Memanfaatkan keramaian destinasi wisata baru yang ada di sekitar kawasan jalan penghubung Pantai Glagah dan Congot, mereka nampak menghibur wisatawan dengan menampilkan beragam tarian daerah.

Mengenakan kostum tradisional dengan bermacam atribut, para nelayan yang tergabung dalam Paguyuban Pengamen Youtube Budoyo (PPYB) ini rutin tampil di sejumlah spot wisata viral di kawasan tersebut. 

Mereka akan terlihat menari dan bernyanyi di hadapan para pengunjung yang sedang asyik menikmati suasana dan panorama pantai sambil menikmati beragam hidangan kuliner.

Berbagai tarian tradisional pun kerap ditampilkan secara bergantian.

Seperti jatilan, jaran kepang, tari dolalak, hingga tari angguk dan sebagainya. 

Dengan diiringi musik campursari, para nelayan di kawasan Pantai Congot itu tidak hanya tampil untuk memberikan hiburan bagi pengunjung, tetapi juga bertujuan melestarikan budaya lokal agar semakin dikenal luas.

Salah seorang nelayan, Roni Yusuf, mengaku telah menekuni aktivitas mengamen tersebut sejak spot wisata di sisi selatan Bandara Yogyakarta International Airport (YIA) Kulon Progo tersebut viral dan  ramai dikunjungi wisatawan. 

Setiap kali prakiraan cuaca dari BMKG menunjukkan gelombang tinggi atau kondisi laut tidak bersahabat, ia bersama sejumlah nelayan lainnya sepakat untuk menggelar pertunjukan kesenian.

“Selain untuk menghibur pengunjung, kami juga ingin melestarikan budaya tradisional agar tetap dikenal masyarakat,” ujarnya.

Tak sedikit dari para nelayan di Pantai Congot ini memang selama ini juga aktif dalam berbagai kegiatan kesenian tradisional. Mereka juga kerap tampil dalam sejumlah pertunjukan di wilayah sekitar.

Meski tidak memiliki jadwal tampil tetap, dari sejumlah pertunjukan kesenian tersebut para nelayan ini bisa memperoleh pendapatan yang lumayan dari wisatawan yakni hingga mencapai sekitar Rp100 ribu per hari.

“Ya lumayan buat tambahan mencukupi kebutuhan sehari-hari saat sedang libur melaut,” katanya.

Meski kerap mengamen dengan menggelar pertunjukan kesenian, para nelayan yang tergabung dalam PPYB ini menegaskan bahwa profesi utama mereka tetap merupakan seorang nelayan.

Karena itu mereka mengaku akan tetap melaut begitu cuaca pantai selatan mulai kembali kondusif dan bersahabat. 

Mereka hanya berharap agar pihak-pihak terkait khususnya BMKG dapat secara rutin menyampaikan informasi prakiraan cuaca kondisi pantai selatan secara akurat. 

Sehingga hai itu akan dapat membantu dan memudahkan mereka menentukan waktu yang tepat untuk pergi melaut atau tidak.

Dengan begitu mereka bisa melakukan kegiatan alternatif lainnya seperti menggelar pertunjukan kesenian tradisional di lokasi wisata. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *