Jarimu Harimaumu! Kisah Dwi Sasetyaningtyas, Lulusan LPDP yang Dirajam Netizen! - Mabur.co

Jarimu Harimaumu! Kisah Dwi Sasetyaningtyas, Lulusan LPDP yang Dirajam Netizen!

Mabur.co – Sungguh miris apa yang dialami oleh Dwi Sasetyaningtyas (DS), lulusan program LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan) tahun 2017 lalu.

Akibat postingannya yang menyatakan, “Cukup aku saja yang WNI, anak-anakku jangan”, sambil memamerkan paspor Inggris milik anaknya tersebut, ia kini harus menghadapi kenyataan pahit.

Postingan DS itu seketika viral di media sosial, dan langsung menuai kecaman keras dari netizen Indonesia, karena dinilai tidak nasionalis, terutama mengingat statusnya sebagai penerima beasiswa dari negara.

Akibatnya, DS diminta mengembalikan seluruh dana pendidikan yang telah ia terima beserta bunganya, termasuk juga suaminya, Arya Pamungkas Iwantoro, yang juga lulusan program LPDP di Belanda.

Diperkirakan ia harus mengembalikan dana beasiswa sebesar Rp2,5 miliar hingga Rp5,5 miliar (termasuk bunga) kepada pemerintah Indonesia.

Selain itu, DS dan suami juga di-blacklist secara permanen di lingkungan pemerintahan Indonesia. Artinya keduanya tidak dapat bekerja di instansi pemerintahan manapun di seluruh Indonesia.

Bahkan, menurut Pihak Ditjen AHU Kemenkumham, status WNA anaknya (warga negara Inggris) juga bisa jadi masih bermasalah secara administratif, jika merujuk pada hukum kewarganegaraan yang berlaku di Indonesia.

Atas berbagai kegaduhan itu, DS akhirnya menyampaikan permintaan maaf secara terbuka, dan mengklarifikasi bahwa postingannya tersebut merupakan akumulasi luapan kekecewaan pribadinya sebagai WNI. Terutama ketika melihat ruwetnya kebijakan pemerintah dan kondisi negara Indonesia saat ini.

“Cukup Kamu Aja yang Tahu (Kalau Anakmu WNA), Orang Lain Jangan Sampai Tahu”

Jika dipelajari lebih jauh semua ini hanya bermula dari satu hal, yakni keberanian DS melakukan flexing di media sosial, soal status kewarganegaraan anaknya yang masih berusia balita.

Padahal sebelum ia posting, mungkin tidak ada seorang pun yang tahu tentang hal ini. Termasuk pihak LPDP sendiri.

Namun setelah diposting, terbukalah semua aib maupun borok-borok DS beserta keluarganya. Semua pihak di Indonesia pun berbicara tentang kasus ini dari berbagai sudut pandang.

Salah atau tidaknya perilaku DS dalam memposting video tersebut, sebenarnya sangat bersifat subjektif. Karena semuanya punya pandangan masing-masing terkait LPDP, sistem yang berlaku, bagaimana negara memperlakukan warga negaranya, termasuk soal konsep “nasionalisme”, etika di media sosial, dan seterusnya.

Pada akhirnya, jika meminjam istilah seorang “maling”, tidak mungkin mau mengakui kejahatannya, karena jika ia mengaku jahat maka penjara pasti akan penuh. Mungkin itulah yang semestinya dilakukan oleh DS dan suaminya.

Sebagai seorang “maling uang negara” (padahal aslinya uangnya sendiri, yang dibayarkan melalui pajak) yang berkedok beasiswa pendidikan, apalagi merasa sudah nyaman tinggal di negeri orang, mungkin ada baiknya tidak usah bilang kepada siapa pun, terkait berbagai fasilitas yang sudah diterimanya di negeri orang tersebut.

Karena itu sudah menjadi bukti, bahwa tinggal di luar negeri itu memang lebih enak. Tapi sayangnya DS dan suaminya memang tidak pernah memilih untuk menjadi WNA, dan akhirnya lebih legowo jika anaknya saja yang menjadi WNA Inggris. Karena merasa dirinya sudah terlalu tua untuk “dinaturalisasi” dan sebagainya.

Padahal koruptor-koruptor di negara bernama Indonesia saja tidak pernah mengaku kalau mereka melakukan korupsi. Bahkan mereka juga bisa kabur ke luar negeri dengan sesuka hati.

Tapi negara seolah-olah selalu melindungi mereka dari serangan hukum, apalagi jika disuruh mengembalikan dana yang ia korupsi dan lain sebagainya.

Lagian buat apa DS posting dan membangga-banggakan anaknya yang WNA tersebut? Bukannya membuat orang lain ikut bangga karena anaknya jadi WNA Inggris, yang ada DS justru tertangkap oleh seluruh dunia (menjadi jejak digital) dan dimintai pertanggungjawaban atas kelakuannya tersebut dari berbagai aspek.

Klarifikasi dan minta maaf pun tidak akan mengubah nasibnya, di negeri yang tidak ia pilih itu. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *