Mabur.co – Sebagai seorang tokoh revolusioner sebelum masa kemerdekaan, Ibrahim Datuk Sutan Malaka (Tan Malaka) yang lahir pada 2 Juni 1897, atau tepat 129 tahun lalu, pernah menulis mahakarya monumental berjudul Madilog (Materialisme, Dialektika, dan Logika), di mana ia menentang keras cara berpikir mistis dan irasional yang saat itu masih mengakar kuat di masyarakat Indonesia.
Dalam buku yang ia tulis dalam kurun Juli 1942 hingga Maret 1943 tersebut, ia terus mendorong bangsa Indonesia untuk mengadopsi nalar ilmiah serta budaya materialisme historis. Sehingga mampu mewujudkan kemerdekaan sebagai negara republik yang sebenar-benarnya.
Dilansir dari laman Perpustakaan Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Selasa (2/6/2026), berikut adalah substansi utama buku Madilog yang masih relevan sampai hari ini.
1. Pemberantasan Takhayul dan Mitos
Tan Malaka selalu menolak cara berpikir yang bercampur mistisisme. Dalam konteks hari ini, pola pikir irasional masih terus menjangkiti masyarakat, seperti maraknya penyebaran hoaks, penipuan berkedok klenik, dan literasi digital yang masih cukup rendah.
2. Logika dan Nalar Kritis
Madilog juga melatih pembaca untuk berpikir logis dan sistematis, berdasarkan sains dan pengalaman empiris. Ini adalah benteng pertahanan utama untuk menghadapi banjir informasi, dan post-truth era (fakta objektif yang gagal membentuk opini publik) yang masih menjadi “makanan sehari-hari” di zaman sekarang.
3. Materialisme dalam Dialektika
Buku ini juga mengajak bangsa untuk lebih melihat realitas material (kesejahteraan nyata, data, ekonomi) daripada terjebak pada utopia atau pencitraan semata, khususnya yang selama ini diciptakan oleh rezim penguasa.
***
Jika melihat situasi bangsa hari ini, apa yang ditulis Tan Malaka dalam bukunya tersebut sejatinya menjadi cerminan nyata, bahwa Indonesia masih “belum ke mana-mana” hingga saat ini.
Dan belum ada perubahan mendasar yang benar-benar tercipta, untuk menegaskan konsep republik yang sesungguhnya, sesuai dengan gagasan dari Tan Malaka sendiri pada 1925 silam, atau 101 tahun yang lalu. (*)

