Indonesia vs Oman Hanya Tersedia 35 Ribu Tiket, UMKM Terancam Sepi Pembeli

3 Min Read
Outdoor street market with red jerseys and scarves on display along a sidewalk near a stop sign; Halte Taman Ria signage overhead.
Ilustrasi. Pernak-pernik khas Supporter yang biasa dijajakan di Stadion GBK saat timnas Indonesia bertanding (Foto: republika.co.id)

Mabur.co – Perhelatan FIFA Matchday (FMD) di awal bulan Juni ini kembali diikuti oleh timnas Indonesia, di mana Rizky Ridho dan kawan-kawan akan melakoni dua laga dalam selisih empat hari, yakni menghadapi Oman pada 5 Juni, disusul menghadapi Mozambik pada 9 Juni.

Kedua pertandingan tersebut akan berlangsung di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Senayan, Jakarta Pusat.

Dilansir dari laman ANTARA, Rabu (3/6/2026), PSSI melalui PT Garuda Sepak Bola Indonesia (GSI) mengungkapkan bahwa pihaknya hanya menyediakan sebanyak 35 ribu tiket untuk masing-masing pertandingan.

Hal ini tentunya cukup timpang dengan periode FIFA Matchday di era Patrick Kluivert dan juga Shin Tae-Yong, khususnya pada pertandingan Kualifikasi Piala Dunia 2026, di mana tiket yang terjual pada saat itu rata-rata mencapai 70 ribu lebih, alias full house.

Menurut Direktur Utama PT Garuda Sepak Bola Indonesia, Marsal Masita, animo penggemar sepakbola terhadap timnas pasca-kegagalan lolos ke Piala Dunia 2026 telah mengubah paradigma supporter untuk menyaksikan langsung ke stadion.

Apalagi periode FMD ini hanyalah bersifat uji coba, sehingga antusiasme masyarakat untuk menonton langsung juga sedikit berkurang, lantaran tidak ada sesuatu yang diperjuangkan dalam dua pertandingan tersebut.

UMKM Terancam Sepi

Marsal sendiri tidak merasa kaget dengan fenomena tersebut. Itulah sebabnya pihaknya hanya menyediakan 35 ribu tiket untuk dua pertandingan di bulan Juni ini, yang difokuskan di area tribun bawah.

Namun di balik berkurangnya ketersediaan tiket tersebut, ada satu ancaman nyata yang sangat mungkin terjadi dalam dua pertandingan tersebut.

Ya, dampak penurunan jumlah penonton akan berimbas langsung kepada para pelaku usaha atau UMKM, yang berjualan di sekitaran GBK. Entah itu berjualan makanan dan minuman, suvenir atau atribut tambahan untuk mendukung perjuangan timnas (seperti syal, bendera, terompet, dan lain-lain), maupun merchandise lainnya, yang biasanya hadir di GBK untuk menyemarakkan suasana pertandingan.

Padahal, setelah euforia yang cukup tinggi di Kualifikasi Piala Dunia 2026 lalu, setiap UMKM tentunya berharap agar semangat itu tetap terjaga untuk waktu-waktu selanjutnya, sekalipun skuad Garuda akhirnya harus gagal melangkah ke Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada tahun ini.

Hanya saja, kegagalan itu tampaknya masih begitu membekas di benak pencinta sepak bola nasional hingga saat ini. Hal itu dibuktikan dengan jumlah penonton di dua laga pertama John Herdman sebagai nakhoda baru timnas Indonesia, yang hanya mencapai 26 ribuan.

Situasi itu pun turut dikeluhkan pula oleh para pedagang setempat, yang biasanya banjir orderan pada saat pertandingan Kualifikasi Piala Dunia 2026 lalu.

Semua pihak tentunya mengharapkan agar Indonesia bisa melangkah mulus ke ajang Piala Dunia berikutnya (2030). Namun bagi para pedagang di sekitar Stadion seperti di GBK, peluang untuk mendapatkan pundi-pundi tambahan juga tidak kalah penting, karena itu juga bisa menjadi penggerak ekonomi yang cukup masif di kalangan masyarakat menengah ke bawah.

Mengingat mereka masih mengandalkan hadirnya pertandingan sepakbola, sebagai ladang meraup rezeki demi bertahan hidup. (*)

Share This Article
Avatar photo
Lulusan program studi Jurnalistik STMM Yogyakarta, Jurnalis mabur.co, Writing Is Journey Of My Life
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Leave a Comment