Kata yoni ternyata berasal dari bahasa Sanskerta (योिन; yoni), yang berarti kandungan, rahim, atau sering pula dianggap sebagai simbol feminin.
Dalam konteks agama Hindu, yoni melambangkan Dewi Parwati, yang merupakan pasangan sakti dari Dewa Siwa, sang dewa tertinggi.
Biasanya, yoni ditemukan bersama dengan lingga, simbol Dewa Siwa, yang diletakkan di atas yoni. Peletakan tersebut menggambarkan persatuan antara keduanya dalam harmoni ilahi.
Dikutip dari Instagram dinaskebudayaandiy, Jumat (27/2/2026), dijelaskan Yoni Karanggede terletak di Padukuhan Ngireng-ireng, Kalurahan Panggungharjo, Kapanewon Sewon, Kabupaten Bantul.
Penemuan yoni ini terjadi di pekarangan tanah yang terletak di area makam, yang awalnya berbentuk gundukan tanah.
Namun, seiring berjalannya waktu, posisi yoni ini telah dipindahkan ke arah barat laut, menjauhi area makam tersebut.
Yoni Karanggede tidak tercatat dalam R.O.D. (Rapporten Oudheidkundige Dienst in Nederlandsch Indie), laporan resmi Dinas Arkeologi Hindia Belanda yang diterbitkan pada 1915, tetapi pada 1989, yoni ini diberi nomor inventaris C 87.
Pada 2021, berdasarkan Keputusan Bupati Bantul Nomor 556, yoni ini resmi ditetapkan sebagai cagar budaya.
Yoni ini masih dalam kondisi utuh, termasuk cerat (tonjolan tempat mengalirkan air) yang ada di bagian atasnya.
Di bawah cerat terdapat pahatan yang menggambarkan burung garuda yang sedang berdiri di atas kura-kura.
Dalam mitologi Hindu, burung garuda adalah kendaraan Dewa Wisnu. Sementara kura-kura melambangkan peran Dewa Wisnu.
Menjelma sebagai kura-kura untuk memanggul Gunung Mandara. Digunakan untuk mengaduk lautan demi menciptakan air kehidupan, yaitu amerta.
Ukuran yoni ini di bagian atasnya adalah 106 x 106 cm, dengan tinggi mencapai 107 cm. ***



