Nenek moyang kita pada zaman Jawa Kuno adalah orang yang gemar akan berbagai macam pertunjukan hiburan. Gambaran tentang berbagai macam kesenian itu bisa dijumpai dalam berbagai prasasti.
Selain menguraikan tentang penetapan Sima, di samping upacara khusyuknya yaitu upacara pengucapan sumpah, juga menguraikan berbagai kesenian dan pesta selamatan.
Di dalam salah satu prasasti era Maharaja Rakai Watukura Dyah Balitung dapat dijumpai pertunjukan wayang kulit (ringgit) lengkap dengan dalangnya.
Selain itu ada pertunjukan fragmen wayang orang dengan mengambil cerita Wirataparwa. Dengan adanya wayang kulit dan wayang orang, tentu saja ada para penabuh gamelan dan pesinden yang juga sering disebut dalam prasasti era Jawa Kuno.
Prasasti-prasasti yang lain sering menyebut pelawak yang biasa disebut sebagai juru banyol. Di samping wayang orang, nenek moyang kita juga mengenal berbagai macam tarian. Ada yang ditarikan bersama antara laki dan wanita, orang tua dan muda-mudi.
Dalam kakawin Negarakertagama juga disebutkan bahwa Raja Hayam Wuruk pandai menari. Prasasti Poh dari era Mataram Kuno menyebut adanya beberapa orang wanita yang mempertunjukkan tarian-tarian berkeliling antar-desa diiringi oleh beberapa orang laki-laki.
Gambaran tentang tarian, gamelan dan pelawak itu dapat diperjelas melalui aspek religius yang ada di candi Borobudur dan candi Prambanan.
Jadi segala bentuk kesenian tradisional yang ada sekarang sudah dikembangkan sejak era Jawa Kuno. Termasuk wayang yang bukan diciptakan oleh para wali, namun kemungkinan para wali hanya menggunakan media kesenian tersebut untuk syiar. (*)



