Di sebuah sel sempit di penjara Syah Reza Pahlavi yang dingin, sejarah tidak ditulis dengan tinta, melainkan dengan aroma roti yang dibagi dan ingatan yang melintasi samudera.
Dalam memoarnya, Cell No. 14, Sayyid Ali Khamenei—lelaki yang kelak menjadi jangkar Republik Islam—berkisah tentang sebuah perjumpaan yang ganjil namun membekas di hati yang paling dalam.
Di sana, di antara jeruji besi nan gelap. ia menyuapi seorang tahanan sosialis yang ringkih, lalu tahanan itu sering menyebut satu nama sebagai jembatan: Soekarno.
Dari bibir itulah Khamenei mengerti bahwa Soekarno, Presiden RI pertama kita adalah pemimpin revolosioner kelas dunia karena keberaniannya meleburkan nasionalisme dengan internasionalisme, menjadikan perjuangan Indonesia merdeka sebagai bagian tak terpisahkan dari dekolonisasi global.
Soekarno memanggungkan dirinya bukan sebagai penguasa yang tenang, melainkan sebagai orator ulung yang mengguncang panggung internasional melalui Konferensi Asia-Afrika 1955, merangkul dunia ketiga yang tertindas, dan gigih melawan neo-kolonialisme (Nekolim) dalam sistem ekonomi-politik yang ia impikan adil.
Sosok Bung Karno adalah campuran ganjil antara orator teater, revolusioner, dan pemimpin karismatik yang menghayati keadilan sosial— dan lantang berkata tidak pada imprealiame gaya apapun atas nama apapun.
Sesuatu yang mungkin kini terasa jauh, namun pernah begitu nyata dalam ingatan masa lalu bangsa-bangsa.
Dalam buku memoar itu, Sayyid Ali Khamenei mengingatkan kita pada kebesaran Indonesia sebagai sebuah bangsa yang merdeka dengan karakter kuat pemimpinnya.
Di tengah kekakuan ideologi yang memisahkan surga dan bumi, Sukarno hadir sebagai frekuensi. Khamenei tidak mengutip ayat untuk mendebat sang kawan kiri; ia mengutip Semangat Bandung 1955.
Ia bicara tentang nasib yang dipersatukan oleh tumit bot imperialisme, sebuah shared destiny yang melampaui sajadah maupun manifesto.
Sukarno memang sebuah anomali yang memikat. Dalam catatan sejarah, ia bukan sekadar Presiden; ia adalah sebuah ide dan momen gerakan.
Kita melihat jejaknya dalam langkah tegap Nelson Mandela di Robben Island, dalam ambisi Gamal Abdel Nasser menasionalisasi Terusan Suez, hingga pada tatapan tajam Che Guevara.
Che, sang ikon gerilya sosialis-kiri yang justru menemukan pada diri Sukarno sebuah keberanian yang puitis—sebuah orkestrasi perlawanan yang membuat kagum Khamenei muda.
Gerakan Non-Blok (GNB), yang lahir dari rahim pikiran Sukarno, kemudian dikampanyekan Nehru, adalah sebuah usaha untuk menolak menjadi sekadar bidak di papan catur Perang Dingin.
Ia adalah “jalan ketiga” yang indah, tegas, tegap dengan harga diri, sekaligus berbahaya dan penuh resiko Sukarno tahu, merdeka bukan hanya berarti menurunkan bendera penjajah, tapi memutus urat saraf ketergantungan mental.
Namun, mari kita menatap hari ini dengan mata yang lebih pedih. Khamenei telah gugur, dan dunia hari ini seolah kehilangan kompas moral dalam menghadapi imperialisme gaya baru.
Jika dulu kolonialisme datang dengan kapal perang, kini ia hadir melalui algoritma, sanksi ekonomi yang mencekik, dan standar ganda yang penuh drama dan hipokrit.
Kita melihat bagaimana Israel dan penyokong utamanya, Amerika Serikat, mendefinisikan ulang istilah “pertahanan diri” di atas reruntuhan sekolah dan rumah sakit di Gaza. Di mana suara kepemimpinan hari ini? Yang katanya macan Asia itu?
Sekadar mengucap bela sungkawapun bibir masih kelu? Kita merindukan keberanian Sukarno yang dengan gagah berteriak “Go to hell with your aid!” ketika kedaulatan dipertaruhkan.
Kepemimpinan global saat ini seringkali terjebak dalam retorika teknokratis yang mandul.
Mereka bicara tentang hak asasi manusia di podium berlapis emas, sementara membiarkan mesin-mesin perang terus menderu atas nama hegemoni.
Memoar Khamenei di penjara itu adalah sebuah teguran: bahwa solidaritas seharusnya tidak memiliki syarat ideologis selama tujuannya adalah memanusiakan manusia.
Ketika anak biologis dan ideologis Soekarno mengirimkan belasungkawa atas syahidnya Sang Rahbar, itu bukan sekadar diplomasi formal.
Itu adalah getaran dari kawat sejarah yang sama—sebuah penghormatan bagi mereka yang memilih berdiri tegak meski badai sanksi dan rudal mengepung dari segala penjuru.
Imperialisme tidak pernah benar-benar pergi; ia hanya berganti baju. Dan selama ketidakadilan masih menjadi menu harian dunia, nama Sukarno dan semangat perlawanan Khamenei akan terus dibisikkan di sel-sel gelap, di mimbar-mimbar sunyi, dan di hati mereka yang menolak untuk tunduk.
Karena pada akhirnya, sejarah bukan milik mereka yang menang dengan senjata, tapi milik mereka yang menang karena menjaga api martabat tetap menyala. Wallahu’alam bishawab ***



