Kang buyut tan kenging pisah/ Sinambi winulang iki/ Langkung kerta Tegalreja/ Mapan kabeh tiyang Prapti/ Samya angungsi tedhi/ Ingkang santri ngungsi ngelmu/ Langkung rame ngibadah/ Punapa dene wong tani/ Henengena kawarnaga ing Ngayogya//
(Babad Dipa Negara, Pesan HB I kepada Nyai Ageng Tegalrejo)
Sejarah sering ditulis dalam dominasi maskulinitas, di mana wanita sering hanya digambarkan dalam terminologi dapur, sumur, kasur atau kanca wingking. Namun, jika kita menyelami relung sejarah Jawa lebih dalam, kita akan menemukan sosok-sosok perempuan yang bertindak sebagai peggerak roda peradaban.
Salah satu tokoh yang tidak boleh kita lupakan adalah Nyi Ageng Tegalreja. Ia bukan sekadar nenek bagi Raden Mas Ontowiryo (Pangeran Dipanegara); ia adalah arsitek spiritual dan intelektual yang membentuk watak sang pemimpin perang terbesar di tanah Jawa.
Silsilah dan Sanad: Darah Pejuang, Jiwa Santri
Nyi Ageng Tegalreja lahir dengan nama Niken Ayu Yuwati, setelah menikah dengan Raden Mas Sujana ia dikenal dengan nama Raden Ayu Beruk, dan setelah diangkat sebagai permaisuri Sultan Hamengkubuwono I, disebut sebagai Gusti Kanjeng Raden Ayu Kadipaten atau Ratu Ageng.
Ia lahir di Sragen pada tahun 1732 M.. Ia merupakan putri dari Kyai Ageng Derpoyudo, seorang ulama besar di Sragen, Silsilahnya bersambung dengan Kiai Ageng Datuk Sulaiman alias Kiai Sulaiman Bekel Jamus, putra Sultan Abdul Qahir dari Kesultanan Bima yang bertahta di Sumabawa(1621-1640). Nyai Ageng dikenal sebagai santri yang menjunjung tinggi nilai-nilai Islam dan kepesantrenan.
Silsilah keguruannya pun menarik untuk disimak. Nyi Ageng tidak hanya terdidik dalam tata krama keraton (ngadi busana, ngadi laku), tetapi juga menyelami kedalaman tasawuf. Ia adalah penganut tarekat Syatariyah, yang menggabungkan nilai-nilai kejawen dengan syariat Islam yang murni.
Syattariyah adalah tarekat yang didirikan oleh Syekh Sirajuddin Abdullah asy-Syattar dari India. Setelah populer di Makkah, persaudaraan kaum sufi itu dibawa ke Nusantara oleh Syekh Abdurrauf as-Singkili.
Di tangan salah satu muridnya yakni Syekh Abdul Muhyi Pamijahan, Syattariyah menyebar di Tanah Jawa, termasuk di lingkungan Keraton Yogyakarta. Kiai Muhammad Kastuba dari Pesantren Alang-Alang Ombo, Bagelen, disebut-sebut sebagai ulama yang membaiat Ratu Ageng Tegalrejo.
Sebagai murid Syattariyah yang terbiasa mengutamakan nilai-nilai spiritual di atas kemewahan duniawi, situasi keraton yang sedemikian rupa memaksa wanita tersebut-saat itu berusia lebih dari enam puluh tahun-untuk hidup menepi di Tegalrejo, sebuah kawasan sepi yang berkat sentuhan tangannya berubah menjadi area persawahan dan kampung santri.
Keputusan itu termasuk memboyong Pangeran Diponegoro yang sudah ia asuh sejak berada di kadipaten. Usia sang pangeran kala itu tujuh tahun.
Sebelum sawah-sawah dibuka dan rumah dibangun, Ratu Ageng Tegalrejo tinggal di sebuah pondok (pacangkraman).
Di lingkungan barunya, ia menjalani hidup layaknya sufi. Babak baru dalam hidup Ratu Ageng Tegalrejo, juga suasana tempat tinggalnya yang permai dan religius tergambar dalam dua bait syair Babad Dipanagara berikut.
Kangjeng Ratu winarni/
pan tetanen remenipun/
sinambi lan ngibadah/
kinarya namur puniki/
lampahira gen brongta marang Yang Sukma.
langkung kerta Tegalreja/
mapan kathah tiyang prapti/
samya angungsi tedhi/
ingkang santri ngungsi ngelmu/
langkung ramé ngibadah/
punapa déné wong tani.
(Kami ceritakan Ratu Ageng:
betapa ia senang bertani
bersama dengan tugas rohani
ia kerjakan tanpa pamrih
di jalan cintanya pada Hyang Sukma.
Tegalrejo jadi sangat sejahtera
karena banyak orang datang
semua mencari makan
[sedang] santri mencari ilmu
di sana banyak amal dan doa
terlebih pada petaninya.)
Selain keluarga keraton, sejumlah tokoh agama juga tinggal di Tegalrejo, di antaranya Kiai Badaruddin, komandan korps Suronatan sekaligus pakar sistem pemerintahan Kerajaan Ottoman, Turki.
Korps Suronatan adalah kelompok keagamaan bersenjata yang merupakan bagian dari kesatuan militer di lingkungan Keraton Yogyakarta.
Lain itu, Ratu Ageng Tegalrejo kerap mengundang ulama ke kediamannya, di antaranya Syekh Taptojani, ulama asal Sumatra yang piawai menerjemahkan naskah-naskah Islam yang sulit, Kiai Hasan Besari asal Tegalsari, Ponorogo, dan Syekh Abdul Ahmad bin Abdullah al-Ansari, ulama Jeddah yang menikah dengan putri Pangeran Blitar I.
Sumbangsih Nyai Tegalreja bagi Martabat Ngayogyakarta
- Menginisiasi Prajurit Estri Langen Kusuma: Peran Ratu Ageng Tegalrejo (atau Nyai Ageng Tegalrejo) sangat sentral dalam sejarah militer perempuan di Jawa, terutama melalui pembentukan korps prajurit perempuan yang dikenal sebagai Prajurit Estri atau Langen Kusuma. Pasukan ini tidak hanya sekadar pengawal upacara, tetapi memiliki kemampuan militer yang mumpuni, termasuk kemahiran dalam berkuda, memanah, dan menggunakan senjata api. Pasukan Langen Kusuma yang dibentuknya diakui oleh pengamat asing (seperti utusan Belanda dan Inggris) sebagai salah satu pasukan perempuan paling disiplin dan tangguh pada masanya.
- Mentor Militer Pangeran Diponegoro: Sebagai nenek buyut yang membesarkan Pangeran Diponegoro di Tegalrejo, beliau menanamkan ilmu agama sekaligus ilmu kesaktian (kanuragan) serta nilai-nilai perjuangan kepada sang cucu. Karakter pejuang Diponegoro dalam Perang Jawa sangat dipengaruhi oleh didikan beliau.
- Penyokong Logistik dan Strategi: Di Tegalrejo, beliau mengelola lahan pertanian yang subur untuk mendukung kemandirian ekonomi dan logistik yang nantinya menjadi pondasi kekuatan awal pasukan Diponegoro.
- Simbol Perlawanan Perempuan: Langkah Nyi Ageng Tegalrejo tersebut memang merupakan strategi “perlawanan budaya” yang sangat efektif. Dengan meninggalkan keraton yang sudah terkontaminasi pengaruh kolonial, beliau berhasil menciptakan kantong perlawanan spiritual dan intelektual di Tegalrejo. Di sana, beliau tidak hanya mengajarkan Diponegoro cara bertani, tetapi juga menanamkan nilai-nilai kemandirian dan asketisme (hidup sederhana). Tegalrejo berubah menjadi pusat pertemuan para ulama dan tokoh masyarakat yang tidak puas dengan kebijakan Daendels maupun Raffles. Hal ini menjelaskan mengapa ketika Perang Jawa pecah, Pangeran Diponegoro memiliki basis massa yang sangat kuat di kalangan rakyat jelata dan kaum santri, karena ia dibesarkan langsung di tengah-tengah mereka, jauh dari kemewahan feodal keraton yang saat itu mulai tunduk pada asing. Ia merumuskan standar etika yang berbeda dari keraton yang sudah terkontaminasi kolonial. Ia mengajarkan penggunaan Bahasa Jawa Krama Inggil yang dipadukan dengan sikap merakyat (bertani), yang kemudian menjadi identitas budaya bagi para pengikut Diponegoro
- Melahirkan Karya Sastra yang Monumental
Hikayat Amir Hamzah, manuskrip jawa tertebak 3000 halaman tersimpan di British Library. manuskrip Menak Amir Hamza merupakan sebuah naskah kuno dari Jawa, tepatnya Yogyakarta yang masuk dalam proyek digitalisasi dan telah diunggah secara daring.
Naskah kuno Serat Menak Amir Hamza, ditulis dalam aksara Arab (pegon) dengan tinta hitam di atas kertas Jawa (dluwang). Berdasarkan kisah dari Arab-Persia, versi dalam bahasa Jawa telah ditambahkan dengan narasi mengenai putra dan cucu Amir Hamza.
Dokumen ini berasal dari Keraton Yogyakarta dan ditulis untuk Ratu Ageng Tegalreja (sekitar 1730-1803), yang merupakan istri Sultan Hamengku Buwono I, sultan pertama Yogyakarta, dan juga ibu Sultan Hamengku Buwono II.
Dalam pengantar dokumen tersebut, ia disebut sebagai Prabu Wanodya / Kang Jumeneng Ratu Agung / Kang Ngedhaton Tegalreja. Dokumen ini disalin antara tahun 1792 dan sebelum tahun 1812, saat diambil oleh pasukan Inggris dari istana Yogyakarta (dalam peristiwa Geger Sepehi). Namun, waktu yang tepat untuk menyelesaikan penyalinan dokumen ini tidak diketahui. Dokumen ini dibuat dari jenis kertas Jawa, dluwang, yang terbuat dari kulit pohon murbei kertas.
Hegemoni Maskulin dan Kaburnya Jejak Perempuan
Mengapa sejarah kita didominasi laki-laki? Hal ini terjadi karena penulisan sejarah (historiografi) pada masa lalu lebih memfokuskan pada aspek peperangan fisik dan diplomasi formal. Perempuan sering kali ditempatkan sebagai “pendukung” (konco wingking), padahal dalam realitas sosiologis Jawa, perempuan adalah pemegang otoritas ekonomi keluarga dan penjaga moralitas.
Minimnya tokoh perempuan dalam buku sejarah bukan karena ketiadaan peran, melainkan karena ketiadaan pencatatan. Nyi Ageng Tegalreja adalah korban dari narasi ini; namanya sering kali hanya muncul sebagai catatan kaki dalam biografi Dipanegara, padahal tanpa bimbingannya, Dipanegara mungkin hanya akan menjadi pangeran keraton yang larut dalam budaya dansa-dansi ala Belanda.
Perempuan Jawa: Dari Penguasa Mataram Kuna hingga Era Modern
Sejarah Jawa sebenarnya adalah panggung bagi perempuan-perempuan perkasa. Di era Jawa Kuna, kita mengenal Ratu Shima dari Kalingga yang memerintah dengan keadilan tanpa kompromi, atau Pramodhawardhani yang mampu merajut rekonsiliasi politik melalui pembangunan Borobudur.
Memasuki era pertengahan, muncul sosok seperti Ratu Kalinyamat yang ditakuti Portugis karena armada lautnya. Lalu ada prajurit perempuan Nyai Adisara di era Mataram Islam. Namun, seiring masuknya pengaruh kolonial yang membawa patriarki kaku Barat, peran perempuan mulai tersudut ke area domestik.
Tokoh-tokoh seperti Nyi Ageng Tegalreja, Nyi Ageng Serang, hingga Kartini dan Cut Nyak Dhien sebenarnya adalah “anomali” yang melawan arus zaman untuk memutar kembali roda peradaban. Mereka membuktikan bahwa di balik kelembutan etiket Jawa, tersimpan semangat baja dari Perempuan-perempuan Jawa yang tak bisa dipatahkan.
Akhir Hayat Nyai Tegalreja
Pada bulan September tahun 1803 GKR Ageng terpeleset tercebur di tambak ikannya, malamnya hingga berhari hari beliau mengalami demam tinggi, atas perintah Sultan Hamengkubuwana II, beliau akhirnya dibawa ke lingkungan Kraton Yogyakarta tepatnya di Ndalem Kadipaten kediaman pribadi beliau.
Saat itu Gunung Merapi meletus, diikuti dengan dentuman dari Gunung Sumbing dan Gunung Sindoro, tepatnya jam 3 sore tanggal 17 Oktober tahun 1803 G.K.R Ageng ing Tegalrejo wafat dan keesokan harinya dengan upacara kebesaran Kraton Yogyakarta, beliau dimakamkan di Astana Kasuwargan, komplek makam Keluarga Kraton Yogyakarta di Pajimatan, Imogiri, Yogyakarta. ***



