Mabur.co- Gelombang panas pada 2026 diprediksi akan muncul lebih awal, berlangsung lebih lama, dan intensitasnya meningkat dibandingkan rata-rata beberapa tahun terakhir, bahkan mungkin lebih parah daripada tahun 2025.
Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika memprediksi gelombang panas pada tahun 2026 diprediksi akan muncul lebih awal, berlangsung lebih lama, dan intensitasnya meningkat dibandingkan rata-rata beberapa tahun terakhir, bahkan mungkin lebih parah daripada tahun 2025.
Prediksi yang akan terjadi di bulan April ini tentu akan memengaruhi sektor pertanian yang bergantung dengan sumber daya air baik dari air hujan maupun air irigasi.
Dosen Fakultas Teknologi Pertanian UGM, Bayu Dwi Apri Nugroho, S.T.P., M.Agr., Ph.D., mengatakan, untuk menghadapi musim kemarau yang lebih panjang sekaligus lebih kering ini, menjadi pengingat bagi masyarakat yang bekerja di sektor usaha pertanian.
Sebab, dampak perubahan iklim, baik kemarau panjang maupun hujan ekstrem akan berpengaruh pada keberlangsungan usaha di sektor ini.
“Kemarau yang panjang menyebabkan gagal tanam dan gagal panen, yang ujung-ujungnya tentunya akan menurunkan produksi pertanian,” ungkapnya, Selasa (10/3/2026).
Bayu menilai pelaku di sektor pertanian perlu beradaptasi. Komunikasi yang lebih intensif antara petani dan penyuluh menjadi salah satu kunci dalam adaptasi dan mitigasi.
Karena kadang petani kurang mendapatkan informasi terkait dengan kondisi cuaca yang tidak menentu. Pendampingan yang intensif dari penyuluh diharapkan bisa mitigasi ancaman dampak gagal tanam dan gagal panen.
“Petani dan penyuluh menjadi kunci sukses di level bawah dalam menghadapi kemarau yang panjang,” ungkapnya.
Bayu menjelaskan, selain mendapatkan informasi tentang cuaca yang akurat, penyuluh juga bisa memberikan masukan terkait dengan komoditas atau tanaman apa yang cocok ditanam dalam kondisi kemarau yang panjang.
“Selain adaptasi musim, peran peneliti dari perguruan tinggi atau lembaga penelitian, mampu menciptakan berbagai inovasi-inovasi melalui hilirisasi varietas-varietas yang tahan terhadap kekeringan dan tidak membutuhkan air yang banyak. Tetapi tetap menghasilkan produktivitas panen yang tinggi,” ucapnya. ***



