Mabur.co- Tempe merupakan makanan tradisional Indonesia yang terbuat dari kedelai yang difermentasi. Tempa telah mendapat pengakuan global karena rasanya yang lezat tidak perlu diragukan lagi, keserbagunaannya, dan manfaat kandungan nutrisinya. Hidangan sederhana ini telah melampaui batas budaya dan memikat selera di seluruh dunia.
Tempe berasal dari Pulau Jawa, Indonesia dan telah menjadi makanan pokok selama berabad-abad. Dalam masakan Indonesia, tempe disajikan dalam berbagai sajian hidangan, seperti tempe goreng, tempe bacem (tempe bumbu manis), dan sambal tempe (tempe pedas).
Dapat diolah menjadi berbagai jenis hidangan membuat tempe dapat menjadi pelengkap dalam menu sup, tumisan, salad, hingga sandwich untuk menambahkan tekstur unik dan rasa pedas pada setiap hidangan.
Pengaruh tempe telah merambah ke dunia kuliner mancanegara. Di Amerika Serikat, tempe semakin populer bagi kalangan konsumen yang mengatur pola makan sehat dan para koki yang mencari bahan-bahan inovatif.
Tempe telah menjadi bahan utama dalam berbagai resep masakan nabati, seperti burger tempe yang menarik bagi vegetarian dan vegan.
Tempe dibuat dari kedelai hitam yang berasal dari masyarakat pedesaan tradisional Jawa. Kata “tempe” sendiri dipercaya berasal dari sebuah makanan yang bernama “tumpi”, artinya sebuah hidangan berwarna putih yang berbahan dasar tepung sagu.
Tumpi dan tempe dipercaya memiliki kesamaan dari segi deskripsi rasa dan warna.
Istilah “mental tempe” atau “kelas tempe” kerap digunakan oleh Presiden Republik Indonesia pertama, yakni Ir. Soekarno untuk mengingatkan rakyat dengan menggunakan jargon “jangan menjadi bangsa tempe” yang mana tempe kerap kali dikorelasikan dengan masyarakat kecil.
Wakil Menteri Kebudayaan (Wamenbud), Giring Ganesha, menuturkan, Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) telah mengajukan tempe sebagai Warisan Takbenda ke United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO).
“Begitu banyak tempe ini kan membuktikan bahwa yang kita perjuangkan menjadi Warisan Budaya Tak benda dunia adalah ilmunya, value-nya,” kata Giring dilansir dari web Kemendikbud, Rabu (11/3/2026).
Giring mengatakan, upaya membuat tempe jadi warisan ini selaras dengan kebutuhan dunia. Misalnya, sudah banyak masyarakat yang memilih untuk hidup sehat.
”Sekarang kita tahu bahwa dunia juga lagi shifting. Semua pengennya makannya sehat clean eating, terus vegan. Jadi ini adalah momentum yang luar biasa untuk memperkenalkan kebudayaan Indonesia yang sehat,” tuturnya.
Sementara itu, Direktur Jenderal (Dirjen) Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama Kebudayaan Kemenbud, Endah Tjahjani Dwirini, menuturkan, saat ini tempe tengah dikaji oleh UNESCO.
Ia berharap tempe bisa disahkan jadi Warisan Takbenda pada 2026.
“Pada 2026 itu nanti mudah-mudahan bisa diakses oleh UNESCO menjadi warisan budaya ke-17 dari Indonesia,” katanya.
Endah berharap, setelah ditetapkan menjadi Warisan Budaya Takbenda, tempe bisa menjadi manfaat tersendiri bagi komunitas tempe, pelaku industri, dan semua pihak. Khususnya sebagai pengetahuan lokal serta global.
“Kita inginnya juga budaya, tradisi tempe ini bukan hanya sebagai sajiannya. Tapi jadi pengetahuan lokal yang menjadi pengetahuan global. Karena seperti kita tahu, tempe itu kan tidak hanya bisa terbuat dari kedelai tapi bisa dibuat dari kacang-kacangan lainnya,” katanya.
Endah mengungkapkan, nanti setelah ditetapkan, tempe juga akan dilabeli tulisan bahwa telah menjadi Warisan Budaya Takbenda UNESCO.
“Ke depan kita inginnya kalau sudah diinskripsi oleh UNESCO produk-produk tempe itu ada tulisannya tuh sudah diinskripsi menjadi warisan tak benda UNESCO tahun 2026,” katanya. ***



