Ilustrasi kabel bawah laut (Foto: Istimewa).
Mabur.co– Di dalam sebuah peta geopolitik dunia, banyak orang mengenal Selat Hormuz sebagai jalur minyak paling strategis di bumi.
Setiap hari, jutaan barel energi melintas di selat sempit yang memisahkan Iran dengan negara-negara Teluk.
Namun di abad digital, nilai strategis wilayah ini tidak lagi hanya soal minyak.
Di bawah permukaan lautnya, terbentang jaringan kabel serat optik internasional yang menjadi tulang punggung lalu lintas data dan transaksi finansial global.
Di sanalah ironi zaman modern tersimpan. Dunia yang terlihat “nirkabel” ternyata bergantung pada kabel-kabel tipis yang membentang ribuan kilometer di dasar laut.
Jika jalur ini terganggu, bukan hanya tanker minyak yang berhenti. Dunia digital ikut tersendat.
Ancaman yang muncul dari Iran untuk memotong kabel serat optik di kawasan Teluk membuka babak baru dalam strategi konflik modern: perang asimetris digital.
Perang tidak selalu dimulai dengan rudal atau jet tempur. Ia bisa dimulai dari sesuatu yang nyaris tak terlihat: memutus kabel komunikasi bawah laut.
Bayangkan dampaknya. Sekitar 40 persen transaksi ekonomi global bergantung pada infrastruktur digital yang terhubung melalui jalur-jalur kabel internasional.
Jika jaringan ini terganggu, efek dominonya akan terasa cepat: peristiwa ini seharusnya menjadi alarm bagi banyak negara, termasuk Indonesia.
Selama ini, konsep ketahanan nasional sering berfokus pada militer, energi, atau pangan.
Padahal kini ada satu pilar baru yang tidak kalah penting: ketahanan infrastruktur digital.
Ancaman terhadap kabel serat optik di kawasan Teluk memperlihatkan bagaimana wajah konflik global berubah.
Negara tidak harus menaklukkan wilayah untuk melumpuhkan lawannya.
Cukup dengan menekan infrastruktur yang menopang peradaban digital.
Kabel-kabel di dasar laut itu mungkin tidak terlihat oleh masyarakat.
Tetapi jika ia terputus, dampaknya akan terasa di layar ponsel kita, di mesin ATM, di aplikasi pembayaran, hingga di pasar saham.
Bagi Indonesia, ancaman ini bukan sekadar isu internasional. Ia menyentuh langsung ekosistem ekonomi digital yang sedang tumbuh pesat.
Pengusaha sekaligus pelaku konten kreatif, Mardigu Wowiek Prasantyo yang akrab disapa Bossman Mardigu, menyebut, perang antara Iran yang dikeroyok Amerika Serikat (AS) dan Israel, sangat tak berimbang.
Dia pun menyebut kolaborasi AS dan Israel melawan Iran, merupakan bentuk perang asimetris.
Atau perang yang beda bangunannya, antara apa yang dilakukan AS dan Israel, dibandingkan apa yang dilakukan Iran.
“Misalnya, serangan rudal dibalas dengan rudal, itu perang simetris. Nah ini jelas perang asimetris,” terang Mardigu, dikutip dari akun Youtube @sontoloyopeople, Minggu (15/3/2026).
Dalam perang asimetris, Mardigu menyebut Iran cukup cerdik.
Serangan sejumlah bandara di Timur Tengah (Timteng), bertujuan untuk melemahkan perekonomian dunia.
Agar harga minyak melonjak, menciptakan krisis ekonomi dunia.
“Dengan harapan, perekonomian Amerika bakal terguncang hebat,” kata Mardigu. ***



