Perang, Realisasi Neraka, Kehidupan Purba yang Indah - Mabur.co

Perang, Realisasi Neraka, Kehidupan Purba yang Indah

Saat Duha datang
Sejjil diterbangkan

Memanggul doa 2 ton beratnya

Di angkasa Sejjil menabrak mati seekor burung Ababil yang ikut puasa Ramadan

Sejjil akan mendarat saat berbuka puasa

Di kota yang kamu rindukan
Penuh harap dan bahagia

2026

Sebiji puisi di atas berjudul Doa Rudal Balistik Sejjil. Saya tulis belum lama ini dan sudah saya bacakan saat berbuka puasa bersama di Kelingan Kafe, Bejen, Bantul, Yogyakarta.

Mencoba berefleksi tentang perang antara Iran, Israel, dan Amerika di bulan Ramadan dan menjelang Idulfitri sungguh dramatis.

Benar jika banyak orang mengatakan sekaranglah era matinya budaya demokrasi.

Lebih dari itu matinya budaya kepakaran. Karena dalam konteks perang itu juga, Amerika tidak mau menerima nasihat untuk menghentikan perang.

Kubu Iran juga bahkan akan memperpanjang perang apalagi Iran baru saja kehilangan Ali Larijani, tokoh di bidang pertahanan dan militer yang penting.

Semua petuah kebaikan, semua harapan damai, sepertinya sirna dalam sekejab.

Lalu apa yang akan terjadi kelak? Apakah perang akan melebar menyerang basis informasi dan database juga? Tidak hanya memperebutkan minyak dan harga diri ideologi?

Pastilah kita tidak berharap dunia akan menjadi gulita dan kembali purba karena perang meluas hingga penghancuran basis dan pusat informasi terkait dengan server dunia digital.

Jika itu terjadi maka kita semua berkemas untuk memasuki kembali dunia purba.

Tanpa informasi yang cepat dan memadai, tanpa hiburan dalam segenggam ponsel.

Apalagi jika minyak juga habis dan pasokannya dihentikan, mungkin hidup menjadi terasa lebih berarti.

Dalam kehampaan dan kesunyian nasib masing-masing, seperti digambarkan dalam metafora puisi Chairil Anwar, bisa jadi manusia kemudian tinggal seonggok daging tanpa roh.

Sampai di sini bisa kita lihat bersama perang darat di Timur Tengah itu sudah di depan mata juga, barangkali itu akan terjadi setelah Lebaran.

Budaya berperang pun kembali hidup dan mengemuka sebagai salah satu pilihan untuk menegakkan wibawa masing-masing negara.

Kita pun hanya bisa prihatin, sekolah tinggi tak menjamin seseorang mengakhiri semangat bertikai.

Jika kalkulasinya selalu saja utang nyawa dibayar nyawa, maka selalu saja perang menjadi berkepanjangan.

Budaya damai melalui momentum Idulfitri juga hanya menjadi imbauan yang justru menjadi salah tingkah jika berhadapan dengan ideologi perang: utang darah dibalas darah.

Indonesia sangat jauh dari Timur Tengah tapi mungkin saja bisa merasakan kehidupan purba sebagai dampak perang itu sendiri.

Karena nasib kedaulatan negara berkembang selalu ada di ketiak negara adi kuasa.

Apa pun ternyata tidak mandiri, mata uang selalu rendah tanpa perlawanan, sumber daya alam diolah bersama tapi entah sesungguhnya kembali ke negara berapa.

Kecerdasan serta keberanian pun boleh jadi sudah tergantung dengan vaksin yang sudah masuk ke tubuh. Vaksin impor itu.

Semua usia pun bisa saja mengalami gangguan mental sebagai dampak perang.

Coba saja perang itu tiga bulan atau satu tahun, bisa saja neraka sudah berhasil dimajukan keberadaannya oleh Amerika, dipersembahkan untuk warga dunia. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *