Idulfitri dan Neraka yang Hadir Lebih Cepat - Mabur.co

Idulfitri dan Neraka yang Hadir Lebih Cepat

Saat kolom ini dituliskan bagi Anda, pecinta fanatik mabur.co, negara kita masih resah menentukan kapan Hari Raya Idulfitri 1447 H tiba.

Muhammadiyah sendiri sudah mengumumkan jatuh besok pada 20 Maret 2026. Pengumumannya sudah jauh-jauh hari. Tapi, orang-orang di level negara itu, para pejabat itu, masih ragu kapan tiba Idulfitri, maka diteroponglah hilal yang menjadi rujukan.

Padahal sekian tahun silam, tanpa bantuan teknologi canggih, hanya dengan pembacaan pergerakan alam semesta, para astronom bisa menentukan kapan tiba gerhana dan pelaut dunia bisa menyandarkan kapal dengan presisi di negara tujuan.

Tapi, sudahlah, mungkin saja peradaban memang semakin maju, namun dalam banyak sisi juga merupakan kemunduran. Seperti halnya saat ini, saat perang di Timur Tengah terus terjadi dan tak peduli dengan momentum Idulfitri.

Sudah ada Perserikatan Bangsa-bangsa, sudah ada mahkamah internasional, namun pembantaian terbuka tetap saja berlangsung.

Terlepas dari benar dan salah, rupanya kehadiran neraka memang dipercepat.

Tidak perlu menunggu janji kitab suci, neraka sudah dihadirkan dengan gamblang oleh mereka yang berperang.

Ini baru hari ke-20 perang ditempuh, bayangkan jika sebulan, dua bulan, tiga bulan, dan seterusnya, apakah dampaknya? Benarkah akan krisis minyak, pangan, dan lain-lain?

Ragam analisa mengarah ke sana. Oleh sebab itu banyak pihak berharap perang memang dihentikan.

Kenapa sejak awal juga tidak langsung perang darat saja dan saling berhadapan antar-kekuatan militer yang seimbang lalu yang kuat akan menghabisi yang lemah?

Kenapa mereka yang berperang ingin menyebar dampak yang mengancam seluruh dunia?

Benarkah negara Kuba sebagian memang sudah gelap gulita karena minim pasokan listrik dan Amerika siap mengambil alih negara tersebut?

Rupanya hanya dengan Indonesia saja Amerika memperlakukan secara friendly sejak 1967 bersamaan dengan kerja sama Freeport yang terus diperpanjang oleh semua presiden sampai 2061 nanti. Karena emas murni terbaik sedunia itu memang gurih dan bisa jadi untuk membiayai perang juga.

Sesama negara berkembang dengan Indonesia, negara Venezuela misalnya, nasibnya apes dengan dipermalukan pemimpinnya Maduro, tak ubahnya kacung murahan.

Boleh jadi kalau pemimpin di Indonesia diperlakukan sama seperti Maduro, presiden dan semua mantan presiden, yang protes juga hanya partainya saja sebagai pembela fanatik. Hahaha.

Kembali ke Idulfitri kali ini, hikmah apa saja yang bisa dipetik lagi? Yang pasti, kita semakin prihatin dengan kondisi global. Yang paling signifikan adalah persoalan kesehatan mental, harus dijaga dengan baik dan tabah.

Meskipun delapan miliar warga dunia bisa lolos dari cobaan Covid-19 lebih dari setahun, tapi untuk perang kali ini tentu berbeda cerita.

Ketahanan mental itulah yang kini harus rangkap karena memang zaman yang tertempuh sudah semakin tidak masuk akal.

Seluruh ilmu pengetahuan sudah dipelajari namun bisa saja dengan mudah dirusak oleh peradaban yang sedang dijalani.

Oleh sebab itu melalui momentum Idulfitri kali ini, budaya untuk saling mempererat solidaritas dan ketahanan apa pun harus selalu ditumbuhkan.

Jika memang Amerika mempercepat hadirnya neraka sebagai pemandangan tercantik bagi penduduk dunia, semogalah ada keajaiban burung Ababil untuk menghentikannya.

Selamat Idulfitri, kita masih beruntung bisa saling memaafkan dan makan ketupat dengan tidak mendengarkan desingan peluru serta rudal yang menggelegar. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *