Mabur.co– Di Yogyakarta, tradisi pasaran Jawa masih sangat kental dan memengaruhi aktivitas perdagangan, terutama di pasar-pasar tradisional yang sudah ada sejak ratusan tahun lalu.
Menyingkap ragam pasar di Jawa, mulai pasar Pahing, Pon, Kliwon, dan seterusnya, ini faktanya. Pasar merupakan bagian penting dalam kehidupan manusia sejak zaman dahulu.
Tidak hanya sebagai tempat jual beli, pasar juga menjadi ruang bertemunya berbagai lapisan masyarakat. Menariknya, asal-usul kata “pasar” sendiri masih menjadi perdebatan di kalangan sejarawan.
Sebagian ahli berpendapat bahwa kata pasar berasal dari bahasa Persia, yakni bazar, yang berarti tempat jual beli, bahasa ini berkembang di wilayah Iran.
Sementara itu, pendapat lain menyebutkan bahwa istilah pasar berasal dari bahasa Tamil di India, yaitu pasar, yang memiliki makna serupa sebagai tempat perdagangan.
Namun, dalam konteks budaya Jawa, terdapat pandangan berbeda. Kata “pasar” diyakini berkaitan erat dengan konsep pasaran, yakni sistem penanggalan tradisional Jawa yang memiliki lima siklus hari, yaitu Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon.
Fenomena hari pasaran seperti Pon, Wage, Kliwon, Legi dan Pahing memang memiliki daya tarik tersendiri bagi warga Yogyakarta dan sekitarnya.
Sebab, saat hari pasaran tiba, pasar tradisional biasanya bertransformasi menjadi pusat semesta yang menyediakan apa saja. Mulai palawija, hasil pandai besi, hingga hewan ternak.
Salah seorang pembeli yang berkunjung ke pasar saat hari pasaran tiba adalah Parjono, warga Imogiri Bantul.
Ia mengatakan, hari pasaran Jawa itu bukan sekadar penanda waktu. Tapi hari-hari itu adalah perayaan untuk menyalurkan hobi lawasnya yakni berburu barang klitikan.
“Kalau pasaran tiba biasanya saya memang ke pasar. Saya ke sana melihat-lihat, tapi kalau cocok beli,” jelasnya, saat ditemui di Pasar Njodog, Imogiri, Bantul, Rabu (8/4/2026).
Parjono mengatakan, biasanya saat hari pasaran tiba, pasar menjadi lebih meriah. Tak seperti hari-hari biasa, tiba-tiba pasar menjadi ramai dan banyak penjual serta pembeli yang berdatangan.
“Ada klitikan, ada hewan, ada palawija, makanan tradisional. Banyak pokoknya,” ucapnya.
Parjono menuturkan, budaya pasaran adalah ruang silaturahmi yang tak tergantikan oleh loka pasar digital manapun. Menurutnya, saat pasaran tiba, orang-orang bisa bertemu dengan orang dari berbagai daerah.
Mereka kemudian saling bertukar informasi soal hobi, atau sekadar memantau harga burung merpati.
“Ada yang jadi blantik, ada yang cuma datang mau belanja biasa,” katanya.
Parjono menjelaskan, budaya pasaran ini harus terus ada. Sebab, dengan adanya budaya itu orang-orang bisa kenal satu sama lain dan bisa terus mempererat tali silaturahmi dengan kencang.
“Banyak hal unik yang bisa ditemui di pasar itu,” ungkapnya. ***



