Kilas Balik Kasongan sebagai Sentra Kerajinan dan Desa Wisata Populer di Indonesia

4 Min Read
Interior of a pottery shop filled with ceramic vases and a large ornate wooden horse sculpture at the center with silver detailing.
Produk kerajinan Kasongan (Foto: tripadvisor.com)

Mabur.co – Jika Anda mendengar kata Desa Wisata Kasongan, pikiran Anda pasti akan tertuju pada sentra kerajinan dan gerabah terkemuka yang berlokasi di kecamatan Kasihan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Namun, jauh sebelum menjadi desa wisata yang menjajakan berbagai produk kerajinan dan gerabah seperti sekarang, Kasongan dulunya pernah memiliki masa kelam, khususnya pada masa kolonialisme Belanda (zaman kerajaan).

Ketika itu, seekor kuda milik reserse Belanda dikabarkan mati di atas lahan persawahan warga setempat. Hal itu lantas menimbulkan ketakutan akan hukuman dari penjajah (Belanda), pemilik lahan dan warga di sekitarnya pun melepaskan hak kepemilikan tanah mereka di sekitar lokasi persawahan tersebut, dan membiarkannya kosong dalam waktu yang cukup lama.

Dilansir dari laman resmi ISI Yogyakarta, berikut adalah kisah selengkapnya dari transisi wilayah Kasongan, hingga akhirnya menjadi salah satu sentra kerajinan terkemuka seperti saat ini.

1. Asal Usul & Sejarah Kelam (Era Kolonialisme Belanda)

Setelah lahannya dikosongkan akibat ketakutan terhadap penjajah dari Belanda, warga setempat pun memutuskan untuk melepas hak kepemilikan atas tanah tersebut, dan tidak lagi mengakuinya, demi menghindari hukuman dari penjajah Belanda, akibat insiden matinya seekor kuda reserse tadi. Mereka kemudian beralih profesi dengan memanfaatkan tanah liat di sekitar rumah, untuk tetap bisa bertahan hidup.

Profesi yang ditekuni warga setempat misalnya perajin kundi/buyung, yakni pembuat alat dapur dari tanah liat, dan seterusnya.

2. Kebangkitan Menjadi Desa Wisata

Setelah bertahun-tahun hanya sanggup memproduksi cobek, kendi, dan pot sederhana. Akhirnya pada tahun 1970-an hingga 1980-an, Kasongan mengalami titik balik signifikan.

Melalui sentuhan seniman dan akademisi seperti Sapto Hudoyo, produk-produk gerabah yang mereka miliki mulai dimodifikasi menjadi karya seni bernilai tinggi, seperti guci, patung, dan vas dekoratif.

Sejak saat itu, kerajinan tanah liat ini mulai berkembang pesat, hingga menarik perhatian pasar internasional, dan menjadi salah satu komoditas ekspor unggulan dari Yogyakarta sampai saat ini.

3. Sentra Kerajinan Kasongan di Era Modern

Masyarakat Kasongan tidak lantas berpuas diri dengan apa yang sudah mereka miliki. Mereka terus berinovasi dan mengikuti perkembangan zaman dan teknologi, serta memberikan sejumlah pengalaman baru bagi pengunjung, untuk bisa terus menikmati produk-produk kerajinan terbaru dan berkualitas tinggi yang hanya bisa ditemui di Kasongan.

Adapun sejumlah inovasi yang dilakukan oleh pihak Desa wisata Kasongan adalah sebagai berikut.

Pusat Showroom: Wisatawan yang berkunjung akan dimanjakan dengan deretan showroom dan workshop di sepanjang jalan desa, yang menjual beragam kerajinan, mulai dari lampu hias hingga dekorasi rumah.

Wisata Edukasi: Pengunjung juga dapat mencoba praktik langsung membuat gerabah custom mereka sendiri.

***

Layaknya semua destinasi wisata lainnya di seluruh dunia, Desa wisata Kasongan juga terus berkembang dari waktu ke waktu, menunjukkan eksistensi mereka di bidang sentra kerajinan dan gerabah terbaik yang ada di Indonesia.

Karena untuk terus mempertahankan kesuksesan, dibutuhkan transisi yang konstan dari pihak-pihak yang terlibat di dalamnya, khususnya masyarakat setempat dari generasi ke generasi. Demi membawa nama Kasongan semakin dikenal dunia internasional. (*)

Share This Article
Avatar photo
Lulusan program studi Jurnalistik STMM Yogyakarta, Jurnalis mabur.co, Writing Is Journey Of My Life
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Leave a Comment