Mabur.co – Desa Mangunan, sebuah wilayah yang terletak di Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), dahulu dikenal sebagai daerah terpencil dengan status kawasan marjinal dan berpenduduk pra-sejahtera.
Bahkan, Mangunan sempat dinyatakan sebagai salah satu desa termiskin di Indonesia pada awal 2000-an lalu.
Wilayah ini terdiri dari kawasan perbukitan tandus yang gersang, dan sulit untuk dijadikan lahan pertanian.
Menurut laporan dari kanal YouTube Bantul TV, sejak saat itu, masyarakat setempat mulai tergerak untuk melakukan transformasi besar-besaran di kawasan ini. Transformasi ini didorong oleh pengembangan Desa Wisata Kaki Langit, yang berhasil “menyulap” lahan tandus serta hutan produksi, menjadi destinasi populer berbasis komunitas, yang mampu memberdayakan masyarakat setempat.
Selang beberapa tahun kemudian, Mangunan berhasil bangkit dan “disulap” menjadi salah satu kawasan wisata unggulan Yogyakarta dan juga Indonesia.
Dilansir dari kanal YouTube Bantul TV, inilah jejak transformasi Mangunan hingga menjadi seperti sekarang.
1. Dari Lahan Kritis ke Destinasi Kelas Nasional
Kawasan yang dulunya merupakan lahan marjinal tak produktif, hingga akhirnya disulap menjadi Hutan Pinus Mangunan.
Kerja keras ini bahkan mengantarkan salah satu tokoh perintis lingkungan setempat, Purwo Harsono, sebagai peraih Penghargaan Kalpataru pada 2021 silam.
2. Dari Ekonomi Terbatas ke Kemandirian Desa
Mangunan dulunya juga dikenal sebagai daerah tertinggal. Kini, Mangunan telah bertransformasi menjadi magnet pariwisata yang mendongkrak kesejahteraan melalui bidang agrowisata (seperti Kebun Buah Mangunan), dan pengelolaan lebah madu.
3. Dari Sekadar Hutan Gersang Menjadi Desa Wisata Budaya
Melalui konsep Desa Wisata Kaki Langit Mangunan, yang dinobatkan masuk 50 Besar ADWI (Anugerah Desa Wisata Indonesia), pengunjung dapat menikmati kekayaan budaya lokal, kuliner tradisional, hingga menginap di homestay berarsitektur Limasan.
***
Sebagai salah satu desa wisata unggulan di Yogyakarta sekaligus nasional, Mangunan jadi bukti nyata bagaimana ekowisata berbasis masyarakat mampu memberdayakan warga setempat, serta memberi multiplier effect yang berdampak luas bagi masyarakat luas di seluruh Indonesia. (*)

