Mabur.co – Iran angkat bicara usai AS menyalahkan Teheran yang dinilai sebagai penyebab gagalnya pembicaraan damai kedua negara yang berlangsung di Pakistan baru-baru ini.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, justru balik menyalahkan AS karena mengajukan apa yang disebutnya sebagai ‘tuntutan yang tidak masuk akal’ dalam perundingan tersebut.
“Keberhasilan proses diplomatik ini bergantung pada keseriusan dan itikad baik pihak lawan, menahan diri dari tuntutan yang berlebihan dan permintaan yang melanggar hukum, serta penerimaan hak dan kepentingan sah Iran,” Esmaeil Baghaei, di media sosial X dilansir AlJazeera.
Baghaei mengakui bahwa dalam perundingan yang berlangsung selama 21 jam itu, kedua pihak telah membahas berbagai isu, termasuk Selat Hormuz, isu nuklir, ganti rugi perang, pencabutan sanksi, hingga pengakhiran sepenuhnya perang.
Baghaei menekankan bahwa belum adanya kesepakatan yang terjadi, tidak boleh dilihat sebagai kegagalan proses pembicaraan damai secara lebih luas. Pihaknya juga menyebut hal itu tidak diharapkan oleh siapapun.
“Tidak ada yang mengharapkan hal seperti itu,” katanya.
Sementara itu, kantor berita resmi Iran, IRNA, menegaskan bahwa pembicaraan atau diplomasi kedua negara belum berakhir dan masih ada kemungkinan untuk berlanjut.
“Diplomasi tidak pernah berakhir,” ujar Baghaei.
Kepala negosiator Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, juga menyalahkan AS atas kegagalan perundingan damai yang terjadi.
Ghalibaf, yang juga ketua parlemen Iran, mengatakan bahwa AS telah gagal dalam mendapatkan kepercayaan dari delegasi Iran.
“AS telah memahami logika dan prinsip Iran, dan sekarang AS harus memutuskan apakah mereka mampu mendapatkan kepercayaan kita,” tulisnya di X.
Program nuklir Iran sendiri tetap menjadi perselisihan utama antara AS dan Iran.
AS menginginkan Iran berhenti mengembangkan senjata nuklir. Sementara Iran secara konsisten menolak tuduhan bahwa mereka berupaya membangun senjata nuklir. Dan menyatakan program nuklirnya ditujukan untuk tujuan sipil dan tidak berniat membuat senjata nuklir.



