Mabur.co – Terletak di sisi timur kota Yogyakarta, wilayah Banguntapan Bantul menjadi salah satu kawasan strategis di masa lampau.
Hal itu dibuktikan dengan adanya situs bersejarah yang dahulu menjadi bagian penting dari kompleks bangunan kerajaan milik Sultan Hamengku Buwono II.
Situs itu adalah komplekks Pesanggrahan Wanacatur, yang terletak di Desa Banguntapan dan Desa Wonocatur, wilayah kecamatan Banguntapan Bantul.
Dikutip dari website Dinas Kebudayaan DIY, Sabtu (30/5/2026), informasi mengenai situs ini tercatat dalam Serat Rerenggan Kraton, naskah yang memuat penjelasan tentang sejumlah pesanggrahan yang berkaitan dengan Keraton Yogyakarta.
Dalam catatan itu disebutkan bahwa kompleks Pesanggrahan Wanacatur dilengkapi empat gedung, telaga, bukit buatan bernama Cendhana Sari, serta Gua Seluman.
Pesanggrahan Wanacatur berada di dalam kompleks Pangkalan TNI AU Adisutjipto, tepatnya di wilayah administratif Kalurahan Banguntapan, Kecamatan Banguntapan, Bantul. Oleh masyarakat sekitar, kawasan ini lebih dikenal dengan nama Semak.
Karena berada di area militer aktif, akses menuju situs ini sangat terbatas dan hanya dapat dilakukan dengan izin khusus.
Pesanggrahan Wanacatur dibangun pada masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono II, sama seperti beberapa pesanggrahan lain di Yogyakarta yang digunakan sebagai tempat peristirahatan sekaligus lokasi pertahanan kerajaan.
Meski sebagian besar bangunan telah rusak dimakan usia, sejumlah struktur masih dapat ditemukan hingga sekarang. Salah satu yang paling menonjol adalah bukit buatan yang menjadi pusat kompleks pesanggrahan.
Bukit buatan ini disebut Pesanggrahan Cendhana Sari. Di atas bukit ini dulunya berdiri bangunan utama kerajaan. Pada sisi barat bukit masih terlihat struktur tembok dengan pintu berelung khas arsitektur Jawa berbentuk paduraksa.
Di sisi ini juga berdiri gardu penjagaan berbentuk tabung dengan atap kubah dan ornamen kuncup bunga di bagian puncaknya. Bangunan gardu tersebut menjadi salah satu peninggalan unik yang menunjukkan fungsi pertahanan dalam kompleks pesanggrahan kerajaan pada masa itu.
Sementara di sisi timur terdapat bekas kolam menyerupai telaga kecil lengkap dengan pancuran berbentuk bunga teratai. Bangunan di sisi timur ini dikenal dengan nama Palereman.
Dulunya pesanggrahan ini diperkirakan dikelilingi pagar keliling sebagai benteng. Hal itu dibuktikan dengan ditemukannya sisa struktur pagar keliling yang membentang dari utara ke selatan sekitar 50 meter di tenggara kolam.
Sekitar satu abad pasca dibangun, lokasi ini beralih fungsi dan digunakan sebagai tempat pemakaman Patih Danurejo VII yang wafat pada tahun 1933 pada masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono VIII.
Tak jauh dari bukit Cendhana Sari, terdapat situs lain yang menyimpan kisah menarik mengenai strategi pertahanan Keraton Yogyakarta, yakni Gua Seluman.
Situs ini berada di tepi Jalan Wonocatur, sekitar 200 meter di timur Pasar Bantengan, Banguntapan, Bantul. Kompleks Gua Seluman terletak di dua sisi jalan dan dihubungkan lorong bawah tanah yang melintas di bawah jalan raya.
Lokasi Tersembunyi
Menurut catatan sejarah, lokasi ini dipilih karena berada di area yang lebih rendah dan tersembunyi. Pada masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono II, kawasan tersebut digunakan sebagai tempat pembuatan senjata secara rahasia untuk kepentingan militer kerajaan.
Karena aktivitasnya dilakukan secara tersembunyi agar tidak diketahui pihak Belanda, tempat itu kemudian dikenal dengan nama Seluman yang berasal dari kata “selumun” atau sembunyi-sembunyi.
Peninggalan yang masih tersisa berupa bangunan lorong berbentuk huruf L. Lorong dimulai dari sisi utara jalan menuju selatan, kemudian berbelok mengikuti arah timur dan barat sejajar dengan jalan.
Di belakang lorong terdapat sejumlah struktur kolam dengan ukuran berbeda. Pada bagian selatan kompleks ditemukan pancuran berbentuk manukberi, yakni burung mitologi yang menyerupai garuda. Sementara di sisi timur terdapat pancuran berbentuk naga.
Selain bangunan dan kolam, jejak aktivitas pembuatan senjata di kawasan ini juga dikaitkan dengan keberadaan meriam bertuliskan aksara Jawa yang kini disimpan di dekat Bangsal Trajumas, Kompleks Keraton Yogyakarta.

