Mabur.co – Terletak di tengah kota Yogyakarta, Kampung Warungboto, Umbulharjo, saat ini mungkin hanya dikenal sebagai kampung padat penduduk yang berada di tepi bantaran sungai Gajah Wong.
Namun beberapa abad silam, kampung ini menjadi salah satu lokasi penting bagi Keraton Kasultanan Yogyakarta. Hal itu dibuktikan dengan keberadaan bangunan bersejarah yang berdiri kokoh di tempat ini.
Bangunan itu adalah Situs Warungboto atau yang dahulu dikenal sebagai Pesanggrahan Rejowinangun, sebuah kompleks pesanggrahan yang dibangun Kasultanan Yogyakarta.
Terletak di Jalan Veteran Nomor 77, atau sisi selatan Kebun Binatang Gembiraloka, Situs Warungboto dikenal sebagai tempat peristirahatan raja yang memiliki arsitektur unik, bernuansa klasik, khas kerajaan Mataram Islam.
Dikutip dari situs resmi pemerintah kalurahan Warungboto, Sabtu (30/5/2026), Pesanggrahan Rejowinangun ini dibangun pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono II sekitar tahun 1785, ketika masih bergelar Pangeran Rejakusuma.
Pada masa itu, bangunan ini difungsikan sebagai tempat peristirahatan sultan beserta keluarga dan kerabat kerajaan sekaligus juga sebagai benteng pertahanan dari sisi timur Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.
Mata Air
Saat ini masyarakat lebih mengenal tempat ini dengan nama Situs Warungboto atau Tuk Umbul Warungboto. Nama tersebut berasal dari keberadaan sumber mata air atau “tuk” yang dahulu mengalir di area pesanggrahan.
Mata air yang berada di sisi barat sungai Gajahwong ini menjadi sumber utama kolam pemandian keluarga kerajaan yang berada di tengah kompleks bangunan.
Pada masa kejayaannya, air dari mata air tersebut ditampung di beberapa kolam besar untuk keperluan mandi dan bersuci keluarga kerajaan. Namun seiring berjalannya waktu, sumber air itu tidak lagi mengalir sehingga kolam-kolam yang dahulu dipenuhi air kini tampak kering.
Secara arsitektur, Pesanggrahan Rejowinangun memiliki bentuk bangunan yang sangat khas. Kompleks ini awalnya terbagi menjadi dua bagian, yakni sisi barat dan sisi timur yang dipisahkan oleh aliran Sungai Gajah Wong.
Namun saat ini, bagian yang masih tersisa dan terawat hanya bangunan sisi barat yang kini dikenal sebagai Situs Warungboto. Sementara bagian timur telah hilang akibat perkembangan permukiman penduduk dan perubahan zaman.
Bangunan pesanggrahan dibuat menggunakan batu bata tanpa struktur kayu, dengan dinding yang sangat tebal khas bangunan kerajaan Jawa masa lampau.
Sepintas bangunan pesanggrahan ini mirip dengan situs Tamansari yang terletak di sisi barat Alun-alun Selatan Yogyakarta.
Hingga kini, sebagian besar struktur utama situs Warungboto masih dapat terlihat jelas meskipun telah mengalami kerusakan akibat usia dan bencana alam.
Dinas Kebudayaan DIY menyebut Kompleks Pesanggrahan Rejowinangun sisi barat terdiri dari empat bagian utama, yakni bagian tengah, bagian utara, bagian selatan, dan benteng keliling.
Pada bagian tengah terdapat area utama pesanggrahan yang terdiri atas ruang sisi timur, kolam pemandian, dan ruang sisi barat. Area ini dibuat berundak, meninggi ke arah barat.
Ruang pertama di sisi timur berbentuk persegi panjang berukuran sekitar 11,65 meter x 7,05 meter dengan dinding setebal satu meter. Bangunan ini dahulu dikelilingi kolam dan memiliki tangga yang menurun ke beberapa arah.
Di bagian kedua terdapat kolam utama berbentuk persegi panjang berukuran 10 meter x 4 meter dengan kedalaman sekitar 75 sentimeter. Di sisi barat kolam terdapat kolam berbentuk bundar berdiameter sekitar 4,5 meter.
Kedua kolam tersebut dihubungkan oleh saluran air. Pada bagian tengah kolam masih terlihat bekas struktur pancuran berbahan batu andesit.
Sementara ruang ketiga berbentuk bujur sangkar berukuran 10 meter x 10 meter. Pada sisi barat ruang ini terdapat bagian menyerupai mihrab masjid yang diyakini digunakan sebagai tempat ibadah keluarga kerajaan.
Di bagian utara dan selatan kompleks terdapat deretan ruang-ruang kecil yang tersusun memanjang. Ruangan tersebut dihubungkan pintu berbentuk persegi dan lengkung. Pada sudut utara dan selatan bagian belakang bangunan juga terdapat struktur bertingkat menyerupai gardu pandang.
Bangunan tinggi tersebut pada masa lalu diduga digunakan sebagai tempat mengawasi kondisi sekitar dan memantau ancaman dari arah luar keraton. Dari bagian atas gardu, pengunjung dapat melihat kawasan sekitar dari ketinggian.
Salah satu bagian menarik lainnya berada di sisi selatan bangunan, yakni struktur pancuran yang dikenal dengan nama Pasiraman Gajah. Pada area tersebut ditemukan relief dan fragmen hiasan menyerupai kaki gajah yang menjadi ciri khas ornamen bangunan.
Kompleks pesanggrahan juga dikelilingi benteng besar berbahan batu bata berplester. Sebagian benteng memang telah runtuh, namun sisa pagar keliling di sisi selatan masih tampak berdiri dengan panjang sekitar 62 meter dan tinggi mencapai 5,6 meter.
Lokasi Prewedding
Keindahan arsitektur Situs Warungboto membuat tempat ini sering dijadikan sebagai tempat rekreasi, lokasi fotografi, prewedding, pemotretan seni, hingga pengambilan gambar film dan tugas sekolah.
Popularitas situs ini semakin meningkat setelah digunakan sebagai lokasi foto prewedding Kahiyang Ayu dan Bobby Nasution pada tahun 2017.
Akibat gempa besar yang mengguncang Yogyakarta pada 27 Mei 2006 sejumlah bagian bangunan situs ini sempat mengalami kerusakan dan runtuh.
Setelah itu pemerintah bersama Badan Pelestarian Cagar Budaya DIY melakukan revitalisasi besar-besaran pada tahun 2015 hingga 2016.
Setelah proses revitalisasi selesai, Situs Warungboto kembali dibuka untuk umum dan perlahan menjadi salah satu destinasi wisata sejarah favorit di Yogyakarta.
Saat ini kawasan Situs Warungboto tidak hanya dimanfaatkan sebagai lokasi wisata sejarah, tetapi juga berkembang sebagai pusat kegiatan masyarakat dan pemberdayaan warga sekitar.
Pemerintah kalurahan Warungboto bahkan membentuk kelompok Kampung Wisata Warungboto atau dikenal dengan nama Kampung Warto, untuk mengembangkan potensi budaya dan ekonomi tempat ini.

