Prabowo Selalu Bilang Bersedia Dikritik, Tapi Suka “Baper” Saat Dikritik - Mabur.co

Prabowo Selalu Bilang Bersedia Dikritik, Tapi Suka “Baper” Saat Dikritik

Mabur.co – Presiden Prabowo tak henti-hentinya menjadi perbincangan publik, sejak terpilih menjadi presiden pada Oktober 2024 lalu.

Beragam pidato maupun kebijakan-kebijakan yang ia keluarkan, seringkali memicu kontroversi dan amarah dari publik, yang merasa bahwa negara telah bertindak sewenang-wenang terhadap rakyatnya sendiri.

Mirip seperti era orde baru di zaman Soeharto dulu.

Salah satu kesewenang-wenangan yang paling nyata dari kepemimpinan Prabowo sebagai presiden adalah, ketika ia seringkali membahas atau meng-counter setiap kritikan dari para pengamat maupun masyarakat, terkait kinerja dirinya sebagai RI 1, dan seterusnya.

Bahkan pada pertengahan bulan puasa lalu, ia sempat berencana melakukan “penertiban pengamat”, yang dianggap meresahkan dan hanya bisa bersuara, terkait pemerintahan yang sedang ia pimpin saat ini.

Prabowo juga pernah mengatakan, bahwa ia bersedia dikritik (oleh rakyatnya sendiri), tapi dengan syarat menjaga adat kesopanan, kesantunan, atau disampaikan dengan cara yang baik.

Namun ketika melihat gelagat sekaligus tingkah Prabowo selama menjadi presiden, yang semakin hari sudah semakin “offside” dari ketentuan konstitusi. Rasanya kritikan yang disampaikan dengan baik, sopan, dan santun tidak akan sampai di telinga presiden beserta jajarannya.

Sehingga untuk bisa sampai ke telinga presiden beserta jajarannya, setiap kritikan harus disampaikan dengan keras, tajam, sambil marah-marah, bahkan kalau perlu mengancam akan menggulingkannya dari jabatan sebagai presiden.

Seperti yang disampaikan oleh pengamat Saiful Mujani dan kawan-kawan dalam halal bihalal “Sebelum Pengamat Ditertibkan”, akhir Maret lalu.

Para pengamat ini sepenuhnya menyadari, jika mereka mematuhi perintah presiden untuk menyampaikan kritik dengan baik, sopan, dan santun, kemungkinan besar kritik itu hanya akan jadi “abu” yang tak bersisa, lalu hilang ditelan angin.

Namun ketika cara yang dilakukan adalah dengan melakukan semacam speech atau stand up seperti itu (dalam acara halal bihalal “Sebelum Pengamat Ditertibkan”), maka tidak hanya presiden beserta jajarannya yang akan mendengarkan, seluruh rakyat Indonesia pun pasti akan melihat kritikan tersebut, dan memiliki pandangannya masing-masing.

Sampai akhirnya, Saiful Mujani dan kawannya, Islah Bahrawi, harus menerima kenyataan dilaporkan oleh Relawan Pendukung Prabowo Subianto, yang diberi nama “Presidium Relawan 08”, akibat dugaan makar atau menghasut orang untuk melakukan aksi menggulingkan presiden secara tidak sah di luar konstitusi.

Ketua Umum Presidium Relawan 08, Kurniawan, bahkan berani menyebutkan dalam sebuah wawancara, bahwa Prabowo sebenarnya adalah sosok presiden yang bersedia dikritik, asalkan dengan cara-cara yang sudah disampaikan sebelumnya.

Lalu jika kembali ke poin sebelumnya, saat Prabowo dikritik, biasanya ia akan tersinggung, baper, lalu balik menyalahkan orang-orang yang mengkritiknya. Seperti misalnya “orang-orang yang bilang Indonesia gelap, mungkin matanya kurang bagus” dan seterusnya.

Sementara Prabowo menyatakan ia bersedia untuk dikritik, tapi harus dengan cara-cara yang sopan.

Hanya saja ketika hal itu dilakukan, kritikan itu sebagian besar tidak akan sampai ke telinga presiden, apalagi untuk direalisasikan.

Pada akhirnya, hanya cara “keras” lah yang mampu membuat hati presiden “terkoyak”. Seolah-olah ia sedang berada dalam ancaman serius, akibat ulahnya sendiri sebagai RI 1.

Karena dengan skenario “bersedia dikritik tapi harus sopan” tersebut, itu sama saja dengan presiden memang tidak mau dikritik sama sekali oleh rakyatnya.

Akibatnya, “lingkaran setan” akan terus berlanjut tanpa henti.

Bisa saja, “lingkaran” ini akan terus bertahan, sampai Prabowo selesai menjabat pada 2029 mendatang (kalau tidak jadi di-impeach oleh rakyatnya sendiri).

Padahal Prabowo cukup bilang “Saya memang tidak suka dikritik” dan seterusnya. Mungkin persoalannya tidak akan sampai sepanjang ini.

Karena ibaratnya, Prabowo sudah jelas-jelas melakukan kesalahan (yang terlihat dengan jelas oleh rakyat), namun ia selalu mengelak, dan meng-kamuflase dirinya dengan ungkapan-ungkapan lain yang tidak masuk akal, atau narasi-narasi omon-omon yang tiada habisnya.

Jadi jangan heran, jika pengamat mulai menyerukan aksi untuk menggulingkan presiden di luar jalur konstitusi.

Karena presiden sudah terlalu “bebal” untuk dikritik oleh rakyatnya sendiri. Padahal sudah jelas-jelas ia melakukan kesalahan, yang bisa disaksikan sendiri oleh semua orang. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *