Pesanggrahan Ambarbinangun, Jejak Bisu Kejayaan Sultan HB VI

4 Min Read
Traditional wooden building with a green, multi-tiered gabled roof and a covered front porch, set in a paved courtyard with trees framing the scene.
Raja Keraton Ngayogyakarta memiliki sejumlah tempat peristirahatan atau pesanggrahan yang tersebar di Yogyakarta. Salah satunya Pesanggrahan Ambarbinangun yang dibangun pada era Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) VI. (Foto: Istimewa)

Mabur.co– Raja Keraton Ngayogyakarta memiliki sejumlah tempat peristirahatan atau pesanggrahan yang tersebar di Yogyakarta. Salah satunya Pesanggrahan Ambarbinangun yang dibangun pada era Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) VI.

Bangunan pesanggrahan ini kini sudah ditetapkan sebagai warisan cagar budaya. Lokasi Pesanggrahan Ambarbinangun ini berada di Dusun Kalipakis, Desa Tirtonirmolo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul. Bangunan ini kini dikelola Balai Pemuda dan Olahraga (BPO) Dinas Dikpora DIY.

Pesanggrahan Ambarbinangun yang terletak di Ambarbinangun Kalipakis, Kalurahan Tirtonirmolo, Kapanewon Kasihan, Bantul, dibangun pada masa Sultan Hamengku Buwono VI (memerintah pada tahun 1855 hingga 1877) dan digunakan untuk menggantikan Pesanggrahan Sanapakis.

Terletak tidak jauh dari pesanggrahan ini, yang saat itu sudah rusak berat sehingga tidak dapat digunakan. Pesanggrahan tersebut dibangun pada bulan Sya’ban tahun Be 1784 Jawa (1855), ditandai dengan candrasengkala, tirta haslira sabdaning ratu. Kalimat dalam candrasengkala ini adalah suatu pembuatan tempat pemandian, petirtaan, dan pesanggrahan atas titah raja.

Pesanggrahan ini kemudian disempurnkan pada masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwana VII pada tahun 1850 Jawa (1920 M). Pada masa penjajahan Jepang, pesanggrahan dimanfaatkan sebagai pusat pelatihan keibodan dan seinendan.

Setelah kemerdekaan, pesanggrahan ini pernah dijadikan sebagai Kantor Bupati Bantul (1949-1952), Kantor Kapanewon Kasihan (1952-1964) dan asrama Latihan Kemiliteran Pegawai Sipil.

Dilansir dari situs Dinas Kebudayaan DIY (Kundha Kabudayan DIY), Sabtu (30/5/2026), nama Ambarbinangun berasal dari kata ‘ambar’ yang berarti harum dan ‘binangun’ yang berarti membangun, sehingga secara keseluruhan memiliki arti membangun keharuman kembali suatu pesanggrahan.

Tidak seperti Pesanggrahan Sanapakis yang saat ini hanya terdapat sedikit tinggalannya, di pesanggrahan ini masih terdapat beberapa bangunan, struktur dan tembok keliling di antaranya Dalem Ageng merupakan bangunan utama dari pesanggrahan ini. Bangunan ini menghadap ke arah utara, berdenah empat persegi panjang dengan atap berbentuk limasan.

Kolam Pemandian

Kolam pemandian terletak di sebelah selatan dalem ageng. Saat ini kolam ini sudah berubah fungsinya, tidak lagi menjadi kolam namun menjadi ruangan dan lantai dasarnya telah dilapisi lantai keramik.

Covered outdoor walkway with arched openings and tiled stairs leading to a doorway, with an iron railing along a low wall.
Kolam pemandian putri Keraton di Pesanggrahan Ambarbinangun, Bantul. Ada kolam pemandian putri keraton hingga balai. (Foto: Istimewa)

Tugu Prasasti

Tugu prasasti terletak di sebelah utara Dalem Ageng. Terdapat dua tugu prasasti yang berderet ke arah timur-barat.

Tugu di sebelah barat pada dinding sisi selatan terdapat tulisan berbahasa Jawa dan beraksara Jawa berbunyi: dadosipun kalangenan ndalem ing ngambarbinangun wulan sakban tahun be sinengkalan tirta haslira sabdaning ratu, HB ping 6.

Tugu di sebelah timur terdapat tulisan latin berbunyi Ngambar Binangon Z.H. de Sultan VII-1850.

Kerap Berubah Fungsi

Pesanggrahan Ambarbinangun masih berfungsi sebagai tempat peristirahatan sampai era kepemimpinan Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Pada 1940-an Sultan bersama beberapa pejabat Belanda tercatat pernah singgah ke tempat ini.

Saat Perang Kemerdekaan II (1948-1949), tempat ini berfungsi sebagai gudang obat-obatan tentara Republik Indonesia.

Harta Bersejarah yang Terus Hidup

Pesanggrahan Ambarbinangun, meskipun mengalami perubahan dan adaptasi, tetap menjadi saksi bisu kejayaan Sultan Hamengku Buwono VI dan keindahan arsitektur Mataram Islam.

Kini, dengan sebagian bangunannya yang diintegrasikan dengan Pondok Pemuda, pesanggrahan ini melanjutkan hidupnya dalam wujud baru, menyatu dengan perjalanan sejarah yang berkelanjutan. ***

Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Leave a Comment