Ketika Anak Kelas Empat SD Bertanya Derrida - Mabur.co

Ketika Anak Kelas Empat SD Bertanya Derrida

Beberapa waktu terakhir saya mengalami satu kejadian kecil di rumah yang membuat saya tertawa sekaligus agak bengong.

Anak saya yang masih kelas empat SD tiba-tiba datang dengan pertanyaan yang biasanya muncul di ruang kuliah, bukan di meja makan.

Awalnya ia hanya bertanya tentang film animasi baru, game yang lagi ramai dimainkan temannya, atau karakter kartun yang lagi viral.

Semua itu ia dapat dari “bertanya” ke AI generatif yang sekarang memang mudah sekali diakses.

Tapi suatu sore ia datang dengan nada agak serius lalu bertanya kira-kira begini: “Kalau kata Derrida itu makna bisa berubah-ubah, itu maksudnya gimana sih?”

Sebagai orang tua, reaksi pertama saya tentu bukan langsung menjelaskan filsafat dekonstruksi secara sistematis.

Reaksi pertama saya justru tertawa. Bukan karena pertanyaannya tidak penting, tapi karena saya tidak pernah membayangkan percakapan tentang Derrida bisa muncul dari anak kelas empat SD yang beberapa menit sebelumnya masih membicarakan game dan robot animasi.

Rupanya lagi-lagi sumbernya sama: AI generatif. Ia bercerita sebelumnya sempat bertanya kenapa satu cerita bisa ditafsirkan orang dengan cara yang berbeda-beda.

Dari situ AI menjelaskan sedikit tentang gagasan Derrida. Dan entah bagaimana, rasa penasarannya malah makin besar.

Tidak lama kemudian muncul nama lain: Foucault.

Kali ini ia bertanya kenapa AI bilang bahwa pengetahuan sering berkaitan dengan kekuasaan.

Ia tentu tidak memakai istilah akademik yang rumit, tapi intinya ia ingin tahu kenapa orang yang punya otoritas sering juga menentukan apa yang dianggap benar atau salah.

Di situ saya hanya bisa tersenyum sambil berpikir: wah, dunia memang sudah berubah jauh.

Pada usia yang dulu mungkin masih sibuk mengumpulkan kartu gambar atau main kelereng, sekarang anak-anak bisa tersentuh percakapan filsafat —meskipun tentu dalam bentuk yang jauh lebih sederhana.

Yang membuat saya semakin geli sekaligus terharu adalah kebiasaan barunya di ruang kerja saya.

Di meja kerja memang ada beberapa buku Yasraf Amir Piliang yang sering saya baca dan kadang saya biarkan saja menumpuk di sana.

Rupanya buku-buku itu sering ia buka-buka dengan rasa ingin tahu yang polos.

Beberapa yang pernah saya lihat ia ambil misalnya Dunia yang Dilipat: Tamasya Melampaui Batas-Batas Kebudayaan.

Setelah Dunia Dilipat: Animalitas, Parasitisme, Plastisitas, serta Transpolitika: Dinamika Politik di dalam Era Virtualitas —semuanya terbitan Cantrik Pustaka.

Tentu saja ia tidak membaca semuanya secara serius. Kadang ia hanya membuka halaman tertentu, melihat judul bab, atau bertanya kenapa ada kata-kata yang menurutnya aneh.

Tapi bagi saya pemandangan itu tetap terasa agak surreal: seorang anak kelas empat SD duduk membuka buku Yasraf Amir Piliang, lalu beberapa menit kemudian kembali lagi ke dunianya —robot, game, dan animasi.

Tentu saja saya tidak menganggap bahwa anak kelas empat SD benar-benar sedang “membaca” Derrida, Foucault, atau teori-teori kebudayaan dalam arti akademik.

Ia belum membaca teks asli, belum masuk ke perdebatan yang rumit.

Yang terjadi sebenarnya lebih sederhana: AI generatif bertindak seperti penerjemah yang menyederhanakan ide-ide besar menjadi percakapan yang bisa dipahami anak.

Sementara buku-buku yang berserakan di meja kerja mungkin hanya menjadi semacam jendela kecil yang memancing rasa ingin tahunya.

Tapi justru di situlah menariknya. Untuk pertama kalinya, gagasan yang dulu terasa jauh dan eksklusif bisa muncul secara santai dalam percakapan sehari-hari di rumah.

Kadang saya membayangkan bagaimana situasi ini akan memengaruhi cara generasi baru belajar berpikir.

Dulu pengetahuan sering bergerak seperti tangga: dari buku pelajaran dasar, naik perlahan ke buku yang lebih sulit, lalu baru bertemu dengan teori-teori besar di perguruan tinggi.

Sekarang jalurnya tidak selalu seperti itu. Seorang anak bisa melompat dari dunia kartun, ke game, ke sejarah, lalu tiba-tiba menyentuh percakapan tentang Derrida atau Foucault hanya karena satu pertanyaan sederhana kepada AI.

Dan di titik itu saya sering merasa sedikit terhibur sekaligus sedikit takjub.

Terhibur karena melihat anak-anak sekarang punya akses ke percakapan intelektual yang dulu terasa jauh.

Takjub karena semua itu bisa terjadi dengan cara yang sangat santai: dari layar kecil, dari buku-buku yang kebetulan tergeletak di meja kerja, dari rasa ingin tahu yang sederhana.

Mungkin memang begitulah zaman bekerja. Anak-anak tetap melakukan hal yang sama seperti generasi sebelumnya —bertanya tentang dunia.

Bedanya, sekarang mereka punya lebih banyak pintu untuk mengetuk jawaban. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *