Tentang Cara yang Mulai Tak Terlalu Penting - Mabur.co

Tentang Cara yang Mulai Tak Terlalu Penting

Belakangan ini saya menyadari ada satu perubahan cara pandang yang tidak terasa dramatis, tetapi diam-diam cukup menggeser fondasi berpikir saya tentang kepenulisan.

Dulu, saya termasuk yang cukup peduli pada “cara”.

Cara menulis, cara menyusun, cara memproduksi teks.

Bahkan sampai pada titik ingin tahu apakah sebuah tulisan lahir dari proses yang sepenuhnya manual atau dibantu oleh sistem tertentu.

Ada semacam rasa bahwa nilai tulisan bisa ditelusuri dari dapurnya.

Sekarang, perhatian itu belum sepenuhnya hilang, tetapi jelas tidak lagi dominan.

Saya lebih sering berhenti di satu titik yang lebih praktis: apakah tulisan itu bekerja atau tidak.

Perubahan ini tidak terjadi begitu saja. Ia terbentuk dari pengalaman yang cukup teknis, bahkan lintas bidang.

Salah satunya datang dari dunia musik, tempat saya pertama kali berkenalan dengan konsep “kecerdasan tambahan” dalam bentuk yang sangat konkret.

Sekitar tahun 2003, ketika masih menggunakan Windows XP dan Steinberg Cubase SX 3, saya mulai memahami bahwa kreativitas tidak selalu harus berjalan sendirian.

Di dalam Cubase, ada fitur seperti MIDI quantization yang secara otomatis merapikan timing permainan.

Ada arpeggiator yang bisa mengubah satu chord statis menjadi pola nada berlapis dengan ritme tertentu.

Secara teknis, arpeggiator bekerja dengan memecah chord menjadi urutan not berdasarkan parameter seperti up, down, random, atau pattern tertentu.

Kita cukup memasukkan input sederhana, lalu sistem mengolahnya menjadi output yang lebih kompleks.

Belum lagi kehadiran virtual instrument dan plugin yang pada masa itu sudah cukup maju. Toontrack EZ Drummer 1, misalnya, tidak hanya menyediakan suara drum, tetapi juga pattern MIDI yang bisa langsung digunakan.

Secara teknis, ini berarti kita tidak perlu memprogram setiap hit drum dari nol.

Kita tinggal memilih groove, menyesuaikan tempo, lalu mengedit sedikit sesuai kebutuhan.

Steinberg Virtual Guitar dan Virtual Bassist bekerja dengan prinsip serupa. Mereka menyediakan frasa musikal berbasis gaya tertentu, lengkap dengan artikulasi dan dinamika.

Ini bukan sekadar suara, tetapi representasi performa. Synthogy Ivory menghadirkan piano berbasis sample dengan layer velocity yang detail, sementara SampleTank XXL menjadi semacam workstation virtual dengan ribuan preset.

Kalau dilihat dari sudut teknis, semua itu adalah bentuk “akumulasi pengetahuan” yang dikemas dalam sistem.

Setiap plugin membawa ribuan jam rekaman, pemrograman, dan kurasi suara. Ketika kita menggunakannya, kita sebenarnya sedang mengakses hasil kerja kolektif dalam bentuk instan.

Dan yang menarik, pada saat itu saya tidak pernah merasa kreativitas saya berkurang. Justru sebaliknya. Workflow menjadi lebih efisien.

Tahapan produksi yang biasanya panjang bisa dipangkas. Energi yang tadinya habis untuk hal teknis bisa dialihkan ke keputusan artistik: memilih, menyusun, dan merasakan.

Pengalaman ini kemudian menjadi semacam kerangka berpikir ketika saya melihat AI generatif hari ini.

Jika kita tarik ke dunia penulisan, AI bisa dilihat sebagai sistem yang bekerja dengan prinsip serupa, hanya skalanya jauh lebih besar.

Ia dilatih dari korpus teks yang sangat luas, bisa berupa jutaan hingga miliaran kata.

Dalam praktiknya, ini mirip dengan memiliki pustaka digital berisi ratusan ribu ebook, bahkan dengan ukuran ratusan gigabyte, yang bisa “diakses” dalam waktu singkat.

Secara teknis, ini berarti seorang penulis tidak lagi sepenuhnya bergantung pada memori internal.

Ia bisa memanfaatkan sistem yang membantu dalam beberapa layer proses penulisan. Misalnya:

Pada level struktur, AI bisa membantu menjaga alur tetap mengikuti logika tertentu, seperti 5W + 1H dalam jurnalistik. Ini penting, terutama bagi saya yang berasal dari latar ilmu komunikasi dan penyiaran.

Struktur ini bukan sekadar formalitas, tetapi kerangka logis yang memastikan informasi tidak melompat-lompat.

Pada level sintaksis, AI bisa membantu merapikan kalimat, mengurangi repetisi yang tidak perlu, dan menjaga konsistensi gaya bahasa. Ini mirip dengan fungsi quantize dalam musik, yang merapikan timing tanpa mengubah esensi permainan.

Pada level stilistika, AI membuka kemungkinan eksplorasi gaya. Misalnya, bagaimana membuat tulisan tetap informatif tetapi punya ritme naratif yang lebih hidup.

Bagaimana memasukkan elemen observasional, humor, atau bahkan sedikit absurditas tanpa kehilangan arah. Ini seperti memilih preset atau karakter suara dalam musik, tetapi dalam bentuk bahasa.

Namun di sinilah letak hal yang sering terlewat dalam diskusi. Semua alat itu, baik dalam musik maupun tulisan, tetap membutuhkan keputusan manusia.

Sistem bisa menawarkan kemungkinan, tetapi tidak bisa menentukan mana yang relevan dalam konteks tertentu. Di sinilah peran penulis tetap krusial: sebagai kurator, editor, sekaligus penentu arah.

Karena itu, ketika ada penulis yang menghasilkan karya dengan kompleksitas tinggi, referensi luas, dan gaya yang variatif, saya mulai melihatnya dari sudut yang berbeda.

Bukan langsung mempertanyakan apakah ia menggunakan alat bantu atau tidak, tetapi mencoba memahami bahwa mungkin ia bekerja dengan ekosistem yang lebih besar.

Bisa jadi ia memang memiliki pustaka digital yang masif, atau memanfaatkan sistem yang mempercepat akses ke berbagai referensi.

Dan secara teknis, itu masuk akal.

Karena dalam dunia yang penuh informasi, keunggulan bukan lagi hanya pada siapa yang tahu lebih banyak, tetapi siapa yang bisa mengakses, menyaring, dan meramu informasi dengan lebih efektif.

Dalam konteks ini, alat bantu bukan pengganti kemampuan, tetapi pengungkitnya.

Sebagai seseorang dengan latar jurnalistik, saya tetap melihat pentingnya fondasi. 5W + 1H harus tetap ada. Akurasi harus dijaga. Alur harus jelas.

Namun setelah fondasi itu kuat, ruang eksplorasi terbuka lebar. Di sinilah tulisan bisa berkembang, tidak hanya sebagai media informasi, tetapi juga sebagai pengalaman membaca.

Kita bisa mulai bermain dengan ritme kalimat, dengan sudut pandang, dengan cara menyusun detail.

Tulisan bisa tetap “on track” secara data, tetapi terasa lebih hidup secara naratif. Kombinasi ini justru semakin mudah dicapai ketika beban teknis sebagian sudah dibantu oleh sistem.

Pada akhirnya, posisi saya menjadi cukup sederhana, meskipun mungkin terdengar sedikit usil. Saya tidak terlalu sibuk lagi mengaudit cara sebuah tulisan dibuat.

Saya lebih tertarik pada bagaimana ia bekerja. Apakah ia jelas, apakah ia tajam, apakah ia memberi sesuatu.

Kalau seorang penulis mampu menghasilkan karya yang kaya, variatif, dan bermanfaat, bahkan dengan dukungan pustaka digital raksasa atau sistem canggih sekalipun, rasanya tidak ada alasan untuk merendahkannya.

Justru sebaliknya, kita bisa melihatnya sebagai bentuk adaptasi terhadap zaman.

Apresiasi menjadi lebih masuk akal daripada kecurigaan.

Dengan catatan, tentu saja, bahwa tanggung jawab tetap ada. Bahwa kejujuran tetap penting. Bahwa kualitas tetap menjadi ukuran utama.

Selebihnya, mungkin kita bisa sedikit lebih santai.

Sama halnya ketika saya menggarap musik, pendengar tak pernah bertanya apakah sebuah melodi dihasilkan oleh arpeggiator atau dimainkan manual, yang mereka tangkap hanyalah harmoni yang sampai ke telinga.

Dalam menulis, pembaca pun demikian. Proses di balik kata-kata bukan hal utama: makna yang mereka temukanlah yang benar-benar tinggal. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *