Mabur.co- Gempa megathrust adalah jenis gempa bumi yang terjadi di zona subduksi, di mana lempeng tektonik yang lebih padat (biasanya lempeng samudra) menyusup ke bawah lempeng yang lebih ringan (biasanya lempeng benua).
Gempa ini adalah yang terkuat di dunia, dengan magnitudo mencapai 8,0 hingga 9,0. Selain getaran dahsyat, gempa megathrust sering kali memicu tsunami besar yang dapat menghancurkan wilayah pesisir dalam waktu singkat.
Dosen dan Peneliti di Departemen Teknik Geologi, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada, Ir. Gayatri Indah Marliyani, S.T., M.Sc., Ph.D, menuturkan, Indonesia merupakan negara rawan bencana gempa dan tsunami, dikarenakan wilayahnya yang terletak di Cincin Api atau ‘Ring of Fire‘.
Adapun Cincin Api merupakan lintasan sepanjang 40.000 kilometer di cekungan Samudra Pasifik dengan aktivitas tektonik intensif. Zona ini paling aktif secara seismik dan vulkanik.
Dalam Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2024, tercatat ada 14 zona megathrust yang ‘mengepung’ Tanah Air. Jumlahnya bertambah satu dibandingkan peta edisi 2017 yang hanya memuat 13 zona ‘merah’.
Zona megathrust adalah wilayah pertemuan lempeng tektonik di mana salah satu lempeng tektonik menyusup (subduksi) ke bawah lempeng lainnya.
Zona ini biasanya terletak di batas konvergen lempeng tektonik, seperti antara lempeng samudera dan lempeng benua. Indonesia, yang terletak di atas jalur subduksi aktif, memiliki pengalaman gempa megathrust yang signifikan.
Salah satunya adalah Gempa dan Tsunami Aceh pada 26 Desember 2004, dengan magnitudo 9,1–9,3 yang terjadi di zona subduksi lepas pantai barat Sumatra.
“Peristiwa ini menjadi salah satu gempa megathrust terbesar dalam sejarah modern, menyebabkan tsunami besar yang menghantam lebih dari 14 negara di Samudra Hindia, dengan korban jiwa di Aceh mencapai lebih dari 170.000 orang dan kerusakan infrastruktur besar-besaran.
Selanjutnya, Gempa Mentawai pada 25 Oktober 2010, dengan magnitudo 7,7 mengguncang zona subduksi Mentawai di lepas pantai Sumatra Barat. Gempa ini memicu tsunami setinggi 3 meter di beberapa pulau Mentawai, menewaskan lebih dari 400 orang dan memaksa ribuan warga mengungsi.
Gempa Bengkulu pada 12 September 2007, dengan magnitudo 8,4, terjadi di zona subduksi lepas pantai Bengkulu dan menyebabkan kerusakan besar di Bengkulu dan Padang, dengan korban jiwa mencapai puluhan serta ribuan bangunan rusak. Sebagai perbandingan,” ucapnya saat diwawancarai mabur.co, Selasa (21/4/2026).
Gayatri Indah Marliyani, menuturkan, megathrust bukan fenomena baru, bukan juga sesuatu yang tiba-tiba akan terjadi besok.
Ini adalah bagian normal dari sistem tektonik Indonesia. Zona megathrust di Jawa yaitu zona pertemuan antara Lempeng Indo-Australia dan Eurasia di selatan Pulau Jawa.
“Aktivitas gempa di zona ini terjadi akibat akumulasi tegangan yang berlangsung dalam skala waktu puluhan hingga ratusan tahun, lalu dilepaskan dalam satu kejadian gempa bumi,” ucapnya.
Gayatri mengatakan, istilah seperti “fase akhir” bukan istilah baku dalam geologi dan sering disalahartikan. Hingga saat ini belum ada metode ilmiah yang bisa memprediksi waktu pasti gempa besar (hari, bulan, tahun). Yang bisa dilakukan adalah mengidentifikasi potensi dan skenario terburuk (hazard), bukan waktu kejadian.
“Potensi gempa bumi bisa diketahui dari penelitian-penelitian ilmiah terkait identifikasi zona pengumpulan energi (stress) di sepanjang zona subduksi dan sejarah kejadian gempa bumi di masa lampau,” ungkapnya.



