Mabur.co- Apa yang terlintas ketika mendengar kata dalang wayang? Pasti tak jauh dari bayangan seorang pria paruh baya, duduk tegap di balik kelir, bersuara berat dan berwibawa.
Namun berbeda dalam kisah kali ini. Seolah menjadi oase dalam dunia pedalangan yang memang lekat dengan maskulinitas, hadir sosok perempuan yang menghidupkan tokoh-tokoh pewayangan itu.
Raden Ajeng (RA) Kartini, tokoh perempuan yang memperjuangkan emansipasi, meninggalkan warisan perjuangan bagi perempuan Indonesia setelah wafatnya pada tahun 1904.
Salah satu penerusnya adalah Rizki Rahma Nur Wahyuni (30) warga Kasihan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), yang aktif berjuang di bidang budaya.
Lahir dalam keluarga seniman, kakeknya adalah seniman ketoprak, sedangkan ayahnya merupakan dalang ternama di Yogyakarta.
Berbagai pentas wayang kulit telah dilakukannya di ratusan event bahkan secara live dengan menyasar audiens dari berbagai kalangan termasuk anak-anak.
Tak hanya itu, Rahma juga menyabet beberapa gelar dan penghargaan dengan bakatnya mendalang tersebut, di antaranya semasa masih anak-anak dan remaja, ia memperoleh juara di festival dalang anak.
Rizki Rahma Nur Wahyuni, atau yang akrab disapa Rahma, menjadi sorotan karena profesi sebagai dalang perempuan. Rahma Sehari-hari berprofesi sebagai pegawai Pemkot Yogyakarta.
Sejak kecil, Rahma sudah akrab dengan wayang-wayang milik ayahnya Ki Sigit Manggala Saputra, seorang dalang ternama.
Rahma menekuni dalang sejak kelas 3 SD sekitar usia 10 tahun dan sampai saat ini sudah berjalan sekitar 20 tahun sejak pertama kali belajar dalang.
Awalnya karena sering diajak ke lokasi pementasan, dan saat pentas disaksikan banyak orang. Lalu minta diajari bapak. Tapi lebih dari itu, dunia pewayangan sangat kaya, bukan hanya soal cerita, tapi juga nilai kehidupan.
“Bagi saya, ini bukan sekadar hobi, tapi juga bentuk kontribusi bahwa, perempuan juga punya ruang dan suara di dunia budaya,” ucapnya saat diwawancarai mabur.co, Selasa (21/4/2026).
Rahma mengatakan, tokoh dalam pewayangan favoritnya sebenarnya banyak apalagi tokoh yang berwatak baik dan bijaksana. Tapi karena bulan ini sebagai momen Kartini jadi tokoh yang diidolakan adalah Srikandi.
“Srikandi adalah sosok yang berani, tangguh, dan memiliki jiwa ksatria. Ia digambarkan sebagai perempuan yang tidak hanya anggun, tapi juga mahir dalam memanah dan ikut berperang layaknya laki-laki. Dalam kisah Mahabharata, Srikandi berada di pihak Pandawa dan berperan penting dalam perang besar Bharatayudha. Srikandi sering menjadi simbol keberanian perempuan yang mampu menembus batas-batas tradisional,” ucapnya.
Berbagai lakon dimainkannya, akan tetapi Rahma masih terus mempelajari seni pertunjukan wayang yang ia geluti. Terutama dalam hal mempelajari berbagai lakon wayang serta menghapal jalan cerita.
Dirinya mengungkapkan, ada tiga lakon yang dikuasainya yakni Wahyu Cakraningrat, Wahyu Purbo Sejati, dan Anoman Duta. Dalam setiap lakon, Rahma mampu memainkannya dalam waktu dua jam.
Meski durasi memainkan wayang belum lama jika dibandingkan dalang laki-laki, yang mampu tampil hingga tujuh jam nonstop. Ditambah penyesuaian suara yang sebagian besar lakon wayang merupakan laki-laki. Namun upaya mendalami peran yang diterjemahkan dalam jalan cerita hingga intonasi suara juga terus dipelajarinya.
“Makanya sampai sekarang saya pun masih belajar. Belum bisa menjadi profesi utama karena baru bisa saya jalankan di sela tugas di Pemkot Yogyakarta. Tetapi semangat yang saya bawa lebih ke edukasi dan menularkan ke generasi muda agar selalu muncul generasi penerus,” ujarnya.
Menjadi dalang perempuan, diakui Rahma, penuh dengan tantangan. Termasuk soal suara perempuan yang berbeda dengan laki-laki.
“Kalau saya pribadi, tantangannya lebih ke suara. Karena tokoh-tokohnya kebanyakan tokoh cowok. Terus kalau dari suara ya, kalau cewek kan sudah khas kayak gini ya. Mau dibuat-buat juga nanti enggak bisa menyaingi untuk suara cowok,” ucapnya.
Rahma mengatakan pula, baginya Hari Kartini bukan sekadar peringatan tahunan, tapi momen untuk refleksi. Ini tentang mengingat perjuangan perempuan untuk mendapatkan hak, kesempatan, dan suara.
Kartini mengajarkan bahwa perempuan berhak bermimpi, belajar, dan menentukan jalan hidupnya sendiri.
“Jadi, maknanya sekarang lebih ke bagaimana melanjutkan semangat itu dalam kehidupan sehari-hari. Berani berkembang, mandiri, dan saling mendukung sesama perempuan,” ujarnya.
Rahma menuturkan, kalau dulu, perempuan masih sangat terbatas, akses pendidikan sulit, ruang gerak dibatasi, dan banyak keputusan hidup ditentukan oleh lingkungan atau adat.
Kartini hadir sebagai suara perubahan di tengah keterbatasan itu. Sementara sekarang, perempuan sudah punya lebih banyak peluang, bisa sekolah tinggi, berkarier, bahkan memimpin.
Tapi tantangannya juga berbeda, seperti tekanan sosial, standar kecantikan, hingga tuntutan peran ganda.
“Jadi kalau dulu perjuangannya adalah ‘mendapatkan hak’, sekarang lebih ke ‘bagaimana memanfaatkan hak itu’ secara bijak dan tetap berdaya,” ucapnya. ***



