Mabur.co – Tanggal 5 Juni diperingati sebagai Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Peringatan ini merupakan bentuk kampanye global dari PBB untuk meningkatkan kesadaran masyarakat global tentang pelestarian lingkungan, yang mulai diprakarsai pada 1972 silam.
Tentu saja aspek pelestarian lingkungan hidup terkait juga dengan kawasan wisata ekologis yang banyak diminati masyarakat.
Memasuki dunia yang begitu canggih seperti sekarang, aspek pelestarian lingkungan hidup yang terkait juga dengan kawasan wisata ekologis, kerap terbantu dengan kehadiran teknologi informasi.
Misalnya terkait pasokan informasi melimpah yang berhubungan dengan pelestarian lingkungan dan kawasan wisata ekologis, yang bisa diakses dari mana saja dan kapan saja.
Hanya saja, teknologi informasi yang begitu canggih juga tetap menyimpan ancaman tersendiri, seperti penumpukan limbah elektronik, eksploitasi pertambangan, konsumsi energi yang sangat besar, hingga pencemaran limbah kimiawi lainnya.
Dilansir dari laman resmi Universitas Airlangga, Jumat (5/6/2026), berikut adalah beberapa hal yang bisa dilakukan, untuk mencegah terjadinya kerusakan lingkungan dan kawasan wisata ekologis, akibat kemajuan teknologi yang saat ini sudah tidak bisa dihindari.
1. Pengelolaan Limbah Elektronik (E-Waste)
Perangkat ponsel pintar (smartphone) maupun alat elektronik lainnya seringkali melakukan upgrade dari tahun ke tahun. Hal itu sudah pasti akan mengakibatkan penumpukan sampah elektronik setiap harinya.
Maka, untuk mencegah penumpukan sampah ponsel maupun alat elektronik lainnya tersebut, Anda bisa mendaur ulangnya melalui fasilitas resmi, agar komponen beracun yang dihasilkan tidak mencemari tanah dan air di sekitar rumah Anda.
2. Transisi Energi Terbarukan
Energi juga menjadi salah satu dampak terbesar dari kemajuan teknologi. Dalam dunia modern di mana konten dan data terus muncul silih berganti setiap harinya di seluruh dinia, hal itu membuat pusat data dan infrastruktur IT kini membutuhkan pasokan listrik setara dengan kota-kota besar.
Sehingga muncul urgensi untuk melakukan transisi ke Green IT dan energi terbarukan, guna menekan jejak karbon.
Energi terbarukan akan mampu mengurangi jejak karbon dari konsumsi listrik infrastruktur digital yang sangat besar, dengan mengadopsi panel surya, turbin angin, atau sumber daya hijau lainnya.
3. Praktik Manufaktur Berkelanjutan
Setiap perusahaan penghasil alat elektronik atau digital juga perlu meminimalisir penggunaan ekstraksi sumber daya alam, dan lebih mengimplementasikan konsep circular economy.
Sehingga pihak penyedia produk tidak hanya mementingkan keuntungan finansial, tapi juga mendukung keberlangsungan lingkungan hidup, setidaknya di lingkungan di sekitarnya.
4. Pemanfaatan Teknologi untuk Konservasi
Alih-alih untuk merusak lingkungan, teknologi justru bisa dimanfaatkan untuk menjadi alat pemantau lingkungan, sensor kualitas udara, dan sistem pertanian cerdas (smart farming) untuk melindungi ekosistem lingkungan.
***
Menggunakan teknologi sebagai bagian dari kemajuan zaman memang tidak ada salahnya. Namun, teknologi juga semestinya bisa menjadi tools untuk melestarikan lingkungan itu sendiri.
Karena lingkungan dan teknologi harus menjadi harmoni yang saling melengkapi satu sama lain, bukan saling menjatuhkan apalagi sampai merusak ekosistem di dalamnya. (*)

